MENGEJAR SIMBOL SUCI Kulihat meeka sibuk mengukir nama suci di kubah, spanduk, dan bahkan di dinding kota, tetapi di jalan yang sama terlihat banyak orang miskin masih berjalan tanpa kasih— seolah kesucian cukup menjadi ornamen, tak perlu menjelma dalam uluran tangan untuk kaum pinggiran. Mereka begitu fasih menunjuk kiblat orang lain, sibuk menghitung sesat di komunitas yang bajunya tidak sama, sementara jari telunjuk yang terangkat menyembunyikan tangan yang enggan berbagi. Bahkan tak malu mengubur simpati, Bukankah iman bukan sekadar arah, tetapi akhlak baik kepada sesama penduduk bumi ? Di layar yang terus menyala sepanjang malam, Mereka menjadikan agama sebagai etalase, ayat menjadi kutipan yang dipindah-pindahkan kesalehan menjadi sekedar unggahan, amar makruf menjadi komentar pedas atas setiap perbedaan. Mereka sibuk mengejar jejak simbol, tetapi rela kehilangan ruh keteladanan. Mereka memburu Muhammad pada jubah, sorban, gelar, dan nama. namun ketika kejujuran ...
RENUNGAN ATAS FAKTA DAN INTUISI PECINTA KEBIJAKSANAAN