Langsung ke konten utama

SIMALAKAMA (By : Ma'ruf ASH)

 SIMALAKAMA


Dimakan, ibu yang mati,

Tak dimakan ayah yang mati, 

Begitulah simalakama bunga Bank kita,


Di antara lembar-lembar kitab tua,

dan angka-angka melayang di udara digital kita,

kita dipaksa berdiri di persimpangan zaman,

Antara menimbang dosa, dan menawar nyawa.


​Suara-suara dari mimbar menggema,

menunjuk haram pada tiap persen yang beranak,

mengetuk pintu dada yang cemas,

"Ini riba, ini benalu yang memakan sukma!"

Sebentar, lalu hening menjadi dingin,

saat ketiadaan modal mengetuk pintu dapur yang sama.


​Di balik layar kaca sistem raksasa,

uang tak lagi sekadar tukar penambal lapar.

Ia adalah darah yang dipaksa mengalir

dalam nadi kehidupan kota yang tak pernah tidur.

Tanpa bunga, roda terhenti;

dengan bunga, leher terjerat tali.


​Apakah kita sedang menyembah sistem,

atau sekadar bertahan di atas tanah yang tak lagi ramah ?

Ketika kebutuhan bukan lagi pilihan,

melainkan benteng dari kehancuran yang nyata.

​Terselip tanya di antara dogma dan realita,


Siapa yang sebenarnya tertindas oleh bunga ?

Riba yang dilarang adalah pemerasan tanpa rasa,

namun bagaimana jika tanpa bank, yang miskin justru sirna ?

​Kita terjebak dalam jaring yang kita tenun sendiri,

menghitung bunga sambil menatap langit yang bisu.

Mencari suci di tengah lumpur peradaban,

di mana batas antara bertahan hidup dan ketakutan,

hanyalah setebal lembaran rupiah yang tersisa.


Wa Allahu a'lam bi al-shawab 

@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 8 Agustus 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Beranda Kemerdekaan Kita (by: Ma'ruf ASH)

  Beranda Kemerdekaan Kita Agustus, bulan ketika merah putih kembali berkibar dimana-mana, Dan rakyat Indonesia menengadah pada langit yang sama, meski dapur masih mengeja dengan sabar, Serta meja makan sering lebih sunyi daripada pidato kekuasaan Kemerdekaan datang sebagai cahaya yang tak pernah kami ingkari. Ia adalah darah para syuhada yang tak pantas ditukar dengan keluh semata. Namun di gang-gang sempit negeri ini, kami melihat harga-harga tak berhenti berlari lebih cepat daripada upah penduduk negeri, sementara harapan masih tertatih mengejar pagi. Orang-orang kecil tetap berangkat sebelum fajar, memanggul cangkul, gerobak, dan doa. Mereka bekerja sepanjang usia, tetapi kemiskinan seolah enggan berpisah dari mereka. Aneh, justru di rumah-rumah reyot itulah syukur paling khusyuk sering dipanjatkan. Sepotong singkong dibagi menjadi kebahagiaan, seteguk teh menjadi pesta kesederhanaan. Obrolan di pinggir sawah menjadi hiburan tak tergantikan. Sedang di gedung-gedung megah, kemer...