SIMALAKAMA
Dimakan, ibu yang mati,
Tak dimakan ayah yang mati,
Begitulah simalakama bunga Bank kita,
Di antara lembar-lembar kitab tua,
dan angka-angka melayang di udara digital kita,
kita dipaksa berdiri di persimpangan zaman,
Antara menimbang dosa, dan menawar nyawa.
Suara-suara dari mimbar menggema,
menunjuk haram pada tiap persen yang beranak,
mengetuk pintu dada yang cemas,
"Ini riba, ini benalu yang memakan sukma!"
Sebentar, lalu hening menjadi dingin,
saat ketiadaan modal mengetuk pintu dapur yang sama.
Di balik layar kaca sistem raksasa,
uang tak lagi sekadar tukar penambal lapar.
Ia adalah darah yang dipaksa mengalir
dalam nadi kehidupan kota yang tak pernah tidur.
Tanpa bunga, roda terhenti;
dengan bunga, leher terjerat tali.
Apakah kita sedang menyembah sistem,
atau sekadar bertahan di atas tanah yang tak lagi ramah ?
Ketika kebutuhan bukan lagi pilihan,
melainkan benteng dari kehancuran yang nyata.
Terselip tanya di antara dogma dan realita,
Siapa yang sebenarnya tertindas oleh bunga ?
Riba yang dilarang adalah pemerasan tanpa rasa,
namun bagaimana jika tanpa bank, yang miskin justru sirna ?
Kita terjebak dalam jaring yang kita tenun sendiri,
menghitung bunga sambil menatap langit yang bisu.
Mencari suci di tengah lumpur peradaban,
di mana batas antara bertahan hidup dan ketakutan,
hanyalah setebal lembaran rupiah yang tersisa.
Wa Allahu a'lam bi al-shawab
@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 8 Agustus 2026
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform