Langsung ke konten utama

TENTANG KEBENARAN KATA-KATA (By: Ma'ruf ASH)

 TENTANG KEBENARAN KATA-KATA (By: Ma'ruf ASH)

Tak ingin aku disibukkan, untuk menimbang tentang siapa yang berbicara, hingga telinga kita tak kehilangan daya untuk menangkap kebenaran yang ada. 

Mengertikah kita, bahwa mutiara tak pernah bertanya tentang siapa yang menemukannya,
dan cahaya pun tak memilih wajah, tentang siapa yang diteranginya.

Mengertikah kita, bahwa hikmah dan kebenaran justeru sering lahir dari bibir yang tak kita inginkan, sementara kesombongan tak sedikit bersembunyi di balik jubah kesalehan.

Maka dengarkanlah kata,
sebelum menilai pembawanya.
Pisahkan kebenaran dari wajah,
seperti memisahkan emas
dari lumpur yang membungkusnya.

Wahai jiwa,
jangan jadikan nama sebagai kiblat,
jangan jadikan tokoh sebagai "Tuhan",
yang dengannya membuatmu menolak cahaya, hanya karena ia datang dari tangan yang berbeda.

Kebenaran tidak menjadi salah
hanya karena diucapkan oleh orang yang berbeda,
Dan kebatilan tidak menjadi benar
hanya karena keluar dari mulut
yang kita puja.

Pergilah lebih dalam—
ke ruang sunyi dalam dada kita,
tempat ego meletakkan senjata,
dan akal bersujud
di hadapan cahaya Semesta.

Di sanalah kita akan mengerti,
yang perlu kita lihat bukan tentang siapa yang berkata,
melainkan tentang apa yang dikata,
bukan tentang Matahari yang membawa cahaya,
melainkan cahaya yang dibawa oleh Matahari. 

@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 11 Agustus 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Kepada Siapa Lagi Aku Percaya?

  Kepada Siapa Lagi Aku Percaya? Aku berdiri di tengah bising negeri, suara janji bertebaran bagai daun kering berserakan, retak di bawah pijakan dusta yang tak pernah jemu. Lembaga negara— yang seharusnya sebagai benteng, justeru menjadi pasar kepentingan. Kursi-kursi rapat penuh genggam tangan dingin, dimana uang menggantikan nurani. Ormas keagamaan— yang seharusnya menjadi cahaya, justeru terjerat bayang-bayang yang sama. Kas suara doa bercampur bisik laba, membuat langit terasa jauh dari bumi. Aku rakyat kecil, menggenggam resah seperti bara. Jika negara tak bisa kupercaya, jika agamawan pun berpeluk dengan kuasa, dan terlibat andil menggarong negara Lantas, kepada siapa lagi aku harus percaya? Mungkin, hanya pada sunyi di dalam dada, Kepada suara hati yang belum bisa dibeli, Kepada Tuhan yang tetap suci meski para penjaga nama-Nya terjerat ambisi. Di jalan buntu ini aku belajar, bahwa kejujuran bukan milik lembaga, tetapi perjuangan diri— yang s...