Atas Nama Rakyat
Ada pelajaran dari tanah seberang, yaitu di tanah Afrika Selatan,
seorang lelaki menari di hadapan rakyat,
langkahnya ringan, senyumnya lebar,
dan sorak massa menjelma menjadi tangga menuju kekuasaan.
Ia datang membawa nama rakyat sebagai senjata,
membungkus janji dengan slogan tentang kesejahteraan.
Dalam kampanye politik ia berpidato lantang,
akan ada makanan bagi rakyat yang lapar,
Akan ada gizi tambahan bagi rakyat yang kekurangan,
Akan ada koperasi rakyat untuk membangun kesejahteraan—
seolah setiap pidatonya adalah roti,
seolah setiap program adalah jalan
menuju kondisi rakyat yang lebih sejahtera.
Seiring berjalannya waktu, deretan fakta membuka topeng kekuasaannya,
Rakyat mengerti, bahwa di balik jargon kepentingan rakyat,
tumbuh jaringan kepentingan yang mengerikan,
di balik pesta kebijakan,
negara perlahan kehilangan arah untuk berjalan,
Tetapi Istana sibuk mempertahankan kuasa,
sementara rakyat menanggung harga
dari tata kelola yang retak di setiap bidangnya.
Dan akhirnya,
orang-orang yang dahulu mengangkatnya
justru menjadi tangan yang pertama menurunkannya dari kuasa.
ANC menarik kembali mandat politiknya,
dan Zuma pun meninggalkan kursi kekuasaan
Maka, jangan membangun singgasana
diaras tarian popularitas.
Jangan menamai kepentingan dengan nama rakyat.
Sebab ketika rakyat kehilangan kesejahteraan,
ketika negara kehilangan kepercayaan,
maka tepuk tangan dapat berubah menjadi tangisan sunyi,
dan para pendukung dapat menjadi tangan yang membuka pintu untuk pergi.
Kekuasaan bukan panggung untuk menari,
melainkan amanah untuk mengabdi.
Sebab seorang pemimpin boleh memenangkan pemilu,
tetapi hanya keadilan dan kesejahteraan rakyatlah yang dapat membuat sejarah
mengenang namanya dalam setiap qalbu.
@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 24 Agustus 2026
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform