Langsung ke konten utama

Atas Nama Rakyat (By: Ma'ruf ASH)

 Atas Nama Rakyat 

Ada pelajaran dari tanah seberang, yaitu di tanah Afrika Selatan,
seorang lelaki menari di hadapan rakyat,
langkahnya ringan, senyumnya lebar,
dan sorak massa menjelma menjadi tangga menuju kekuasaan.
Ia datang membawa nama rakyat sebagai senjata,
membungkus janji dengan slogan tentang  kesejahteraan.

Dalam kampanye politik ia berpidato lantang,
akan ada makanan bagi rakyat yang lapar,
Akan ada gizi tambahan bagi  rakyat yang kekurangan,
Akan ada koperasi rakyat untuk membangun kesejahteraan—
seolah setiap pidatonya adalah roti,
seolah setiap program adalah jalan
menuju kondisi rakyat yang lebih sejahtera.

Seiring berjalannya waktu, deretan fakta membuka topeng kekuasaannya, 
Rakyat mengerti, bahwa di balik jargon kepentingan rakyat,
tumbuh jaringan kepentingan yang mengerikan,
di balik pesta kebijakan,
negara perlahan kehilangan arah untuk berjalan,
Tetapi Istana sibuk mempertahankan kuasa,
sementara rakyat menanggung harga
dari tata kelola yang retak di setiap bidangnya.

Dan akhirnya,
orang-orang yang dahulu mengangkatnya
justru menjadi tangan yang pertama menurunkannya dari kuasa.
ANC menarik kembali mandat politiknya,
dan Zuma pun meninggalkan kursi kekuasaan

Maka, jangan membangun singgasana
diaras tarian popularitas.
Jangan menamai kepentingan dengan nama rakyat.
Sebab ketika rakyat kehilangan kesejahteraan,
ketika negara kehilangan kepercayaan,
maka tepuk tangan dapat berubah menjadi tangisan sunyi,
dan para pendukung dapat menjadi tangan yang membuka pintu untuk pergi.

Kekuasaan bukan panggung untuk menari,
melainkan amanah untuk mengabdi.
Sebab seorang pemimpin boleh memenangkan pemilu,
tetapi hanya keadilan dan kesejahteraan rakyatlah yang dapat membuat sejarah
mengenang namanya dalam setiap qalbu. 

@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 24 Agustus 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Beranda Kemerdekaan Kita (by: Ma'ruf ASH)

  Beranda Kemerdekaan Kita Agustus, bulan ketika merah putih kembali berkibar dimana-mana, Dan rakyat Indonesia menengadah pada langit yang sama, meski dapur masih mengeja dengan sabar, Serta meja makan sering lebih sunyi daripada pidato kekuasaan Kemerdekaan datang sebagai cahaya yang tak pernah kami ingkari. Ia adalah darah para syuhada yang tak pantas ditukar dengan keluh semata. Namun di gang-gang sempit negeri ini, kami melihat harga-harga tak berhenti berlari lebih cepat daripada upah penduduk negeri, sementara harapan masih tertatih mengejar pagi. Orang-orang kecil tetap berangkat sebelum fajar, memanggul cangkul, gerobak, dan doa. Mereka bekerja sepanjang usia, tetapi kemiskinan seolah enggan berpisah dari mereka. Aneh, justru di rumah-rumah reyot itulah syukur paling khusyuk sering dipanjatkan. Sepotong singkong dibagi menjadi kebahagiaan, seteguk teh menjadi pesta kesederhanaan. Obrolan di pinggir sawah menjadi hiburan tak tergantikan. Sedang di gedung-gedung megah, kemer...