Warisan Kenabian
Di deretan nama-nama besar dalam sejarah, aku belajar bahwa kemuliaan tak selalu datang dengan baju kebesaran, kadang ia berjalan di lorong sunyi, mengenakan pakaian sederhana, dan menundukkan wajah di hadapan Tuhannya.
Dalam berbagai literatur terpercaya, aku mencoba memandang Sayyid Mujtaba,
aku melihat jejak kesahajaan melekat di wajahnya—
sebuah warisan yang tak terlihat mewah,
melainkan warisan jiwa penuh cahaya,
Warisan dari ayah kepada anaknya,
Warisan dari kakek kepada cucunya, dan warisan dari datuk kepada generasi penerusnya.
Kesederhanaan yang bukan kemiskinan,
melainkan kekayaan jiwa yang tak membutuhkan tepuk tangan dunia.
Ia sangat mengerti,
bahwa semakin tinggi pohon,
semakin dalam akar harus menembus
ke tanah tempat kehidupan bermula.
Jika benar darah dan nasab adalah amanah,
maka kemuliaan bukan sekadar menyebut silsilah,
melainkan menjaga akhlak yang diwariskan
Yaitu kelembutan, keberanian, kezuhudan,
dan cinta kepada kebenaran,
yang dinisbatkan kepada keluarga Nabi Penutup zaman.
Dalam sabda suci Al-Mustafa,
Disebutkan bahwa manusia tidak ditinggikan oleh kemegahan nama,
tetapi oleh takwa, akhlak,
dan kerendahan hati di hadapan Sang Pencipta.
Sungguh, warisan terbesar sebuah keluarga mulia,
bukan rumah yang megah,
bukan kekuasaan yang panjang,
bukan pula nama yang harum di bibir banyak orang.
melainkan hati yang tetap sederhana
ketika dunia membuka pintu-pintu kebesarannya.
Wahai Mujtaba,
jika kesederhanaan itu benar menjadi pusaka,
jagalah ia seperti menjaga cahaya,
Karena sesungguhnya, nasab hanya menunjukkan dari mana kita datang;
tetapi akhlak lah yang membuktikan
ke mana kita berjalan.
Dan aku pun belajar,
bahwa semakin dekat seseorang kepada cahaya,
semakin ia tak merasa dirinya bercahaya.
@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 16 Agustus 2026.
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform