Langsung ke konten utama

Warisan Kenabian (By: Ma'ruf ASH)

 Warisan Kenabian

Di deretan nama-nama besar dalam sejarah, aku belajar bahwa kemuliaan tak selalu datang dengan baju kebesaran, kadang ia berjalan di lorong sunyi, mengenakan pakaian sederhana, dan menundukkan wajah di hadapan Tuhannya.

Dalam berbagai literatur terpercaya, aku mencoba memandang Sayyid Mujtaba,
aku melihat jejak kesahajaan melekat di wajahnya—
sebuah warisan yang tak terlihat mewah,
melainkan warisan jiwa penuh cahaya,
Warisan dari ayah kepada anaknya,
Warisan dari kakek kepada cucunya, dan warisan dari datuk kepada generasi penerusnya.

Kesederhanaan yang bukan kemiskinan,
melainkan kekayaan jiwa yang tak membutuhkan tepuk tangan dunia.
Ia sangat mengerti, 
bahwa semakin tinggi pohon,
semakin dalam akar harus menembus
ke tanah tempat kehidupan bermula.

Jika benar darah dan nasab adalah amanah,
maka kemuliaan bukan sekadar menyebut silsilah,
melainkan menjaga akhlak yang diwariskan
Yaitu kelembutan, keberanian, kezuhudan,
dan cinta kepada kebenaran,
yang dinisbatkan kepada keluarga Nabi Penutup zaman.

Dalam sabda suci Al-Mustafa,
Disebutkan bahwa manusia tidak ditinggikan oleh kemegahan nama,
tetapi oleh takwa, akhlak,
dan kerendahan hati di hadapan Sang Pencipta.

Sungguh, warisan terbesar sebuah keluarga mulia,
bukan rumah yang megah,
bukan kekuasaan yang panjang,
bukan pula nama yang harum di bibir banyak orang.
melainkan hati yang tetap sederhana
ketika dunia membuka pintu-pintu kebesarannya.

Wahai Mujtaba,
jika kesederhanaan itu benar menjadi pusaka,
jagalah ia seperti menjaga cahaya,

Karena sesungguhnya, nasab hanya menunjukkan dari mana kita datang;
tetapi akhlak lah yang membuktikan
ke mana kita berjalan.

Dan aku pun belajar,
bahwa semakin dekat seseorang kepada cahaya,
semakin ia tak merasa dirinya bercahaya.

@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 16 Agustus 2026. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Beranda Kemerdekaan Kita (by: Ma'ruf ASH)

  Beranda Kemerdekaan Kita Agustus, bulan ketika merah putih kembali berkibar dimana-mana, Dan rakyat Indonesia menengadah pada langit yang sama, meski dapur masih mengeja dengan sabar, Serta meja makan sering lebih sunyi daripada pidato kekuasaan Kemerdekaan datang sebagai cahaya yang tak pernah kami ingkari. Ia adalah darah para syuhada yang tak pantas ditukar dengan keluh semata. Namun di gang-gang sempit negeri ini, kami melihat harga-harga tak berhenti berlari lebih cepat daripada upah penduduk negeri, sementara harapan masih tertatih mengejar pagi. Orang-orang kecil tetap berangkat sebelum fajar, memanggul cangkul, gerobak, dan doa. Mereka bekerja sepanjang usia, tetapi kemiskinan seolah enggan berpisah dari mereka. Aneh, justru di rumah-rumah reyot itulah syukur paling khusyuk sering dipanjatkan. Sepotong singkong dibagi menjadi kebahagiaan, seteguk teh menjadi pesta kesederhanaan. Obrolan di pinggir sawah menjadi hiburan tak tergantikan. Sedang di gedung-gedung megah, kemer...