PIDATO TUAN RAJA Di bawah langit Jakarta, riuh suara buruh menunggu pidato Tuan raja, dan berharap dapat mengubah nasib mereka, kata-kata disulam menjadi barisan, seperti buruh yang berharap ada regulasi perbaikan nasib mereka. Yang tak berhenti diperas keringatnya, oleh para kapitalis yang mati rasa. Hari itu, suara dilipat menjadi peringatan, dan Sang Tuan Raja berdiri di atas podium— bukan sekadar sebagai manusia, melainkan gema yang ingin diyakini sebagai pusat kuasa. Siang itu, dari bibir meluncur suara keras, dan bertanya,l, hampir seperti permainan di Bustanul Athfal kita, “Apakah MBG penting bagi rakyat ?” Pertanyaan itu melayang, menguji udara, mengukur seberapa patuh napas yang dihirup bersama. Lalu jawaban datang— serentak bikin geleng-geleng kepala, Dari ratusan mikropun terdengar “tidak.”, begitu jelas dan nyata. Seketika, waktu berhenti menjadi jam, dan berubah menjadi cermin. Apakah ini ujian ? Atau sekadar kebetulan yang telanjang? Apakah sensitivit...
RENUNGAN ATAS FAKTA DAN INTUISI PECINTA KEBIJAKSANAAN