Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2026

PIDATO TUAN RAJA (By: Ma'ruf Abu Said Husein)

PIDATO TUAN RAJA Di bawah langit Jakarta, riuh suara buruh menunggu pidato Tuan raja, dan berharap dapat mengubah nasib mereka, kata-kata disulam menjadi barisan, seperti buruh yang berharap ada regulasi perbaikan nasib mereka. Yang tak berhenti diperas keringatnya, oleh para kapitalis yang mati rasa. Hari itu, suara dilipat menjadi peringatan, dan Sang Tuan Raja berdiri di atas podium— bukan sekadar sebagai manusia, melainkan gema yang ingin diyakini sebagai pusat kuasa. Siang itu, dari bibir meluncur suara keras, dan bertanya,l, hampir seperti permainan di Bustanul Athfal kita,  “Apakah MBG penting bagi rakyat ?” Pertanyaan itu melayang, menguji udara, mengukur seberapa patuh napas yang dihirup bersama. Lalu jawaban datang— serentak bikin geleng-geleng kepala, Dari ratusan mikropun terdengar “tidak.”, begitu jelas dan nyata. Seketika, waktu berhenti menjadi jam, dan berubah menjadi cermin. Apakah ini ujian ? Atau sekadar kebetulan yang telanjang? Apakah sensitivit...

MENGINGAT HARI BERSEJARAH DI HALAMAN MADRASAH (By: Ma'ruf Abu Said Husein)

MENGINGAT HARI BERSEJARAH DI HALAMAN MADRASAH Di halaman madrasah kita, waktu turut terus  berjalan, dan tanggal pun datang tanpa gaduh— seperti kapur yang pelan-pelan habis di ujung jari, meninggalkan debu yang tak pernah tercatat. Hari ini, 2 Mei 2026 disebut Hari peringatan, tapi, siapa yang sungguh mengingat ? tentang langkah-langkah kecil di ruang-ruang kelas yang sempit, yang lantainya telah retak, yang atapnya tak bosan menahan hujan dengan doa ? Di sana, guru-guru berdiri bukan hanya untuk mengajar huruf, melainkan untuk menambal harapan yang kerap robek oleh kenyataan. Mereka tak tercetak di baliho, tak disebut dalam pidato panjang, namun suara mereka menetap di kepala anak-anak yang belum mengerti,  betapa mahalnya sebuah kesempatan. Madrasahku memang terlihat sederhana— seperti hidup yang dijalani tanpa banyak pilihan. Buku-buku lama diwariskan seperti nasib, dan papan tulis menjadi saksi bahwa ilmu tak pernah hadir tanpa dicari. Guru-guru berangkat pagi dan pulang...