Langsung ke konten utama

Selat Hormuz dan Penjajahan Baru Amerika (By: Ma'ruf ASH)


SELAT HORMUZ DAN PENJAJAHAN BARU AMERIKA 


Di layar kaca aku menatap kabar pagi,

Tentang Selat Hormuz yang pemiliknya akan berganti, 

Kedua mataku melesat melayang menuju Hormuz

Dan aku pun bertanya kepada angin

yang melintas di atasnya,

sejak kapan laut menjadi wilayah tanpa hukum ?

sejak kapan selat dapat dipindahkan,

hanya dengan membunuh dan merampas atas nama perdamaian ?


Sejak kapan wilayah dapat diambil paksa ?,

Boleh digambar ulang dengan penjajahan—

Adilkah Hormuz tiba-tiba berganti nama menjadi Amerika,

seolah kedaulatan adalah kapur,

yang boleh dihapus oleh tangan

yang merasa paling kuat.


Trump berkata: demi perdamaian.

Tetapi, mengapa perdamaian

datang bersama kapal perang,

blokade, ancaman, bahkan klaim wilayah kekuasaan ?

Bukankah damai yang lahir dari todongan

hanyalah penjajahan.


Mari renungkan merenung,

Bolehkah hukum internasional berdiri

di antara rudal-rudal penghancur dan pembunuhan membabi buta, serta berderet pelanggaran Hak asasi Manusia?

Dan kedaulatan Iran dipaksa berlutut di hadapan bahasa kekuatan,.

Jika sebuah bangsa boleh dirampas lautnya atas nama keamanan,

jika hak hidup manusia dapat dikorbankan demi kepentingan geopolitik,

Sedang Hukum Internasional mendadak bisu, 

lalu kepada siapa dunia harus mengadu, 


Hormuz bukan milik Trump.

Ia adalah laut yang mengajarkan manusia,

bahwa bumi bukan warisan penindasan,

dan perdamaian bukan nama lain

bagi penaklukan.


Sebab penjajahan tetaplah penjajahan—

meski benderanya berkibar

di bawah slogan perdamaian,

meski bomnya disebut operasi keamanan,

meski tangan yang menggenggam senjata

mengaku sedang menyelamatkan dunia.


Salahkah jika kita bertanya, n

Jika perdamaian harus dibayar dengan hilangnya kedaulatan,

dengan darah rakyat, dan dengan penghinaan terhadap hukum,

masih pantaskah ia disebut perdamaian ?


@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 19 Agustus 2026. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Beranda Kemerdekaan Kita (by: Ma'ruf ASH)

  Beranda Kemerdekaan Kita Agustus, bulan ketika merah putih kembali berkibar dimana-mana, Dan rakyat Indonesia menengadah pada langit yang sama, meski dapur masih mengeja dengan sabar, Serta meja makan sering lebih sunyi daripada pidato kekuasaan Kemerdekaan datang sebagai cahaya yang tak pernah kami ingkari. Ia adalah darah para syuhada yang tak pantas ditukar dengan keluh semata. Namun di gang-gang sempit negeri ini, kami melihat harga-harga tak berhenti berlari lebih cepat daripada upah penduduk negeri, sementara harapan masih tertatih mengejar pagi. Orang-orang kecil tetap berangkat sebelum fajar, memanggul cangkul, gerobak, dan doa. Mereka bekerja sepanjang usia, tetapi kemiskinan seolah enggan berpisah dari mereka. Aneh, justru di rumah-rumah reyot itulah syukur paling khusyuk sering dipanjatkan. Sepotong singkong dibagi menjadi kebahagiaan, seteguk teh menjadi pesta kesederhanaan. Obrolan di pinggir sawah menjadi hiburan tak tergantikan. Sedang di gedung-gedung megah, kemer...