Langsung ke konten utama

Ziarah Nurani (By: Ma'ruf ASH)

 Ziarah Nurani

Ku rebahkan tubuhku di sebuah kursi tua, Mataku mulai mengeja lembar sejarah duka, tentang cucu nabi penghuni Surga, Al-Husein putera Mustafa, yang mengalami Syahid di tanggal sepuluh bulan mulia, 

"Arba'in" melintas di bulan Safar, sebuah tradisi ziarah nurani seorang hamba,
Tradisi mengingat duka, menjelma menjadi cahaya.
Karbala tak hanya ada di padang pasir nan jauh sana, Namun, ia sering bersemayam di setiap dada, yang memilih cinta dari kuasa.

Aku teringat Rumi berkata,
jalan menuju Tuhan
seringkali melewati luka.
Tetapi manusia lebih gemar
menghias rantai yang membelenggu kaki mereka

Ketahuilah kawan!, Kini pedang tak selalu berkilau.
Seringkali ia bernama keserakahan,
bermahkota jabatan,
Bahkan seringkali bersorban kesalehan,
namun meminum air mata dan keringat rakyat tanpa rasa kasihan.

Arba'in bukan sekadar mengenang syahidnya Al-Husein di Karbala, 
melainkan membangunkan hati
agar tak bersujud kepada singgasana, tak bersujud kepada hawa nafsu belaka, dan tak bersujud kepada selain Pemilik Semesta..

Maka biarkan langkahmu ini melaju,
Dalam ziarah menuju diri, pada sejarah tentang cucu nabi, 
Sebab Al-Husain akan selalu hidup
di setiap jiwa yang mencintai kebenaran dan kesejatian, 
meski dunia memilih memuliakan pangkat dan jabatan, yang menampakkan diri sebagai Pahlawan. Atau memproklamirkan diri sebagai Tuhan 

@ Ma'ruf ASH, Indonesia, 18 Safar 1448 H (2 Agustus 2026).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Kepada Siapa Lagi Aku Percaya?

  Kepada Siapa Lagi Aku Percaya? Aku berdiri di tengah bising negeri, suara janji bertebaran bagai daun kering berserakan, retak di bawah pijakan dusta yang tak pernah jemu. Lembaga negara— yang seharusnya sebagai benteng, justeru menjadi pasar kepentingan. Kursi-kursi rapat penuh genggam tangan dingin, dimana uang menggantikan nurani. Ormas keagamaan— yang seharusnya menjadi cahaya, justeru terjerat bayang-bayang yang sama. Kas suara doa bercampur bisik laba, membuat langit terasa jauh dari bumi. Aku rakyat kecil, menggenggam resah seperti bara. Jika negara tak bisa kupercaya, jika agamawan pun berpeluk dengan kuasa, dan terlibat andil menggarong negara Lantas, kepada siapa lagi aku harus percaya? Mungkin, hanya pada sunyi di dalam dada, Kepada suara hati yang belum bisa dibeli, Kepada Tuhan yang tetap suci meski para penjaga nama-Nya terjerat ambisi. Di jalan buntu ini aku belajar, bahwa kejujuran bukan milik lembaga, tetapi perjuangan diri— yang s...