Ziarah Nurani
Ku rebahkan tubuhku di sebuah kursi tua, Mataku mulai mengeja lembar sejarah duka, tentang cucu nabi penghuni Surga, Al-Husein putera Mustafa, yang mengalami Syahid di tanggal sepuluh bulan mulia,
"Arba'in" melintas di bulan Safar, sebuah tradisi ziarah nurani seorang hamba,
Tradisi mengingat duka, menjelma menjadi cahaya.
Karbala tak hanya ada di padang pasir nan jauh sana, Namun, ia sering bersemayam di setiap dada, yang memilih cinta dari kuasa.
Aku teringat Rumi berkata,
jalan menuju Tuhan
seringkali melewati luka.
Tetapi manusia lebih gemar
menghias rantai yang membelenggu kaki mereka
Ketahuilah kawan!, Kini pedang tak selalu berkilau.
Seringkali ia bernama keserakahan,
bermahkota jabatan,
Bahkan seringkali bersorban kesalehan,
namun meminum air mata dan keringat rakyat tanpa rasa kasihan.
Arba'in bukan sekadar mengenang syahidnya Al-Husein di Karbala,
melainkan membangunkan hati
agar tak bersujud kepada singgasana, tak bersujud kepada hawa nafsu belaka, dan tak bersujud kepada selain Pemilik Semesta..
Maka biarkan langkahmu ini melaju,
Dalam ziarah menuju diri, pada sejarah tentang cucu nabi,
Sebab Al-Husain akan selalu hidup
di setiap jiwa yang mencintai kebenaran dan kesejatian,
meski dunia memilih memuliakan pangkat dan jabatan, yang menampakkan diri sebagai Pahlawan. Atau memproklamirkan diri sebagai Tuhan
@ Ma'ruf ASH, Indonesia, 18 Safar 1448 H (2 Agustus 2026).
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform