Langsung ke konten utama

Di Antara dua Pintu Pendidikan (By: Ma'ruf ASH)

 

Di Antara Dua Pintu Pendidikan

Hampir dua bulan tahun ajaran baru berjalan,
anak-anak telah duduk di bangku baru,
membawa seragam, harapan, dan masa depan baru—
namun sayang, data mereka masih tertahan
di antara pintu-pintu birokrasi.

Entah mengapa?, terdapat ribuan anak-anak Indonesia yang telah memilih Madrasah,
tetapi namanya belum sepenuhnya sampai
ke dalam rumah data Madrasah.
Seakan seorang anak boleh berpindah sekolah,
tetapi identitas pendidikannya
masih diperebutkan oleh sistem tanpa rasa.

Salahkah jika kita bertanya ?, 
apa yang sebenarnya sedang terjadi ? Sehingga fenomena konyol ini harus terjadi, 
Apakah sistem yang sedang gagap membaca kenyataan,
atau ada "tarik tambang" kepentingan di antara dua kementerian,
yang sama-sama merasa memiliki jalan terbaik bagi anak-anak menuju masa depan ?

Jika pendidikan adalah amanah,
mengapa data menjadi sekat ?
Jika anak adalah pusat pelayanan,
mengapa administrasi justru
membuat mereka seperti bola
yang ditendang dari satu meja ke meja lainnya ?

Bukankah sekolah dan madrasah
hanyalah dua jalan menuju tujuan yang sama,
Yaitu, mencerdaskan, membentuk akhlak,
dan menyiapkan manusia
menjadi khalifah yang bermanfaat ?

Jangan sampai yang kita bicarakan 
bukan lagi tentang bagaimana anak-anak tumbuh,
Dan jangan sampai ego lembaga lebih besar daripada kepentingan peserta didik kita. 

Sebab pada akhirnya,
data hanyalah angka,
kementerian hanyalah institusi,
sekolah dan madrasah hanyalah wadah,
sementara di balik semua itu
ada wajah anak-anak Indonesia yang sedang menunggu masa depannya.

Maka benahi sistem kita,
bukan saling mengunci pintu antara dua lembaga.
Satukan data, bukan berebut percaya.
Hilangkan sekat, bukan hak anak yang dikorbankan.
Karena pendidikan seharusnya
menjadi jalan yang memerdekakan—
bukan medan "tarik tambang"
antara mereka yang seharusnya
bergandengan tangan.

@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 15 Agustus 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Beranda Kemerdekaan Kita (by: Ma'ruf ASH)

  Beranda Kemerdekaan Kita Agustus, bulan ketika merah putih kembali berkibar dimana-mana, Dan rakyat Indonesia menengadah pada langit yang sama, meski dapur masih mengeja dengan sabar, Serta meja makan sering lebih sunyi daripada pidato kekuasaan Kemerdekaan datang sebagai cahaya yang tak pernah kami ingkari. Ia adalah darah para syuhada yang tak pantas ditukar dengan keluh semata. Namun di gang-gang sempit negeri ini, kami melihat harga-harga tak berhenti berlari lebih cepat daripada upah penduduk negeri, sementara harapan masih tertatih mengejar pagi. Orang-orang kecil tetap berangkat sebelum fajar, memanggul cangkul, gerobak, dan doa. Mereka bekerja sepanjang usia, tetapi kemiskinan seolah enggan berpisah dari mereka. Aneh, justru di rumah-rumah reyot itulah syukur paling khusyuk sering dipanjatkan. Sepotong singkong dibagi menjadi kebahagiaan, seteguk teh menjadi pesta kesederhanaan. Obrolan di pinggir sawah menjadi hiburan tak tergantikan. Sedang di gedung-gedung megah, kemer...