Di Antara Dua Pintu Pendidikan
Hampir dua bulan tahun ajaran baru berjalan,
anak-anak telah duduk di bangku baru,
membawa seragam, harapan, dan masa depan baru—
namun sayang, data mereka masih tertahan
di antara pintu-pintu birokrasi.
Entah mengapa?, terdapat ribuan anak-anak Indonesia yang telah memilih Madrasah,
tetapi namanya belum sepenuhnya sampai
ke dalam rumah data Madrasah.
Seakan seorang anak boleh berpindah sekolah,
tetapi identitas pendidikannya
masih diperebutkan oleh sistem tanpa rasa.
Salahkah jika kita bertanya ?,
apa yang sebenarnya sedang terjadi ? Sehingga fenomena konyol ini harus terjadi,
Apakah sistem yang sedang gagap membaca kenyataan,
atau ada "tarik tambang" kepentingan di antara dua kementerian,
yang sama-sama merasa memiliki jalan terbaik bagi anak-anak menuju masa depan ?
Jika pendidikan adalah amanah,
mengapa data menjadi sekat ?
Jika anak adalah pusat pelayanan,
mengapa administrasi justru
membuat mereka seperti bola
yang ditendang dari satu meja ke meja lainnya ?
Bukankah sekolah dan madrasah
hanyalah dua jalan menuju tujuan yang sama,
Yaitu, mencerdaskan, membentuk akhlak,
dan menyiapkan manusia
menjadi khalifah yang bermanfaat ?
Jangan sampai yang kita bicarakan
bukan lagi tentang bagaimana anak-anak tumbuh,
Dan jangan sampai ego lembaga lebih besar daripada kepentingan peserta didik kita.
Sebab pada akhirnya,
data hanyalah angka,
kementerian hanyalah institusi,
sekolah dan madrasah hanyalah wadah,
sementara di balik semua itu
ada wajah anak-anak Indonesia yang sedang menunggu masa depannya.
Maka benahi sistem kita,
bukan saling mengunci pintu antara dua lembaga.
Satukan data, bukan berebut percaya.
Hilangkan sekat, bukan hak anak yang dikorbankan.
Karena pendidikan seharusnya
menjadi jalan yang memerdekakan—
bukan medan "tarik tambang"
antara mereka yang seharusnya
bergandengan tangan.
@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 15 Agustus 2026
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform