Nyanyian Kerinduan
Aku duduk terpaku di pinggiran malam, menjadi debu yang hening di hadapan Sang Angin. Dunia meredup, namun dari jauh, pintu-pintu rahasia mendadak terkuak.
Dengarlah! Napas-napas Al-Barjanji beterbangan dari kubah masjid, dari mihrab surau, dari sudut-sudut mushola, saling menyapa bagai burung-burung surgawi yang mabuk oleh cinta.
Bukan sekadar suara yang sampai ke telingaku, melainkan wewangian dari Kota Cahaya yang menyusup ke dalam dada. Dada ini bergetar, pecah menjadi ribuan cermin, memantulkan kerinduan pada Muhammad al-Mustafa, Ia adalah Jiwa dari Segala Jiwa.
Wahai Sang Pembawa Terang, aku mengerti bahwa engkau sedang berjalan di sudut-sudut bumi ? Dan malam ini, di tepi kesunyian , namamu menjelma menjadi anggur penyejuk jiwa, tempat hati menemukan arah untuk kembali.
Maka, izinkan aku hanyut dalam gema shalawat, agar aku bisa menyatu bersama tarian cinta di hari kelahiran-Mu. Untuk hancurkan berhala ego di dada, Laksana Ibrahim menghancurkan patung-patung dengan Kapaknya.
@ Ma`ruf Abu Said Husein, Simo, 12 Rabiul awwal 1448 H / 25 Agustus 2026.
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform