Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2026

Mengejar Simbol Suci (By : Ma'ruf ASH)

MENGEJAR SIMBOL SUCI Kulihat meeka sibuk mengukir nama suci di kubah, spanduk, dan bahkan di dinding kota, tetapi di jalan yang sama terlihat banyak orang miskin masih berjalan tanpa kasih— seolah kesucian cukup menjadi ornamen, tak perlu menjelma dalam uluran tangan untuk kaum pinggiran. Mereka begitu fasih menunjuk kiblat orang lain, sibuk menghitung sesat di komunitas yang bajunya tidak sama, sementara jari telunjuk yang terangkat menyembunyikan tangan yang enggan berbagi. Bahkan tak malu mengubur simpati,  Bukankah iman bukan sekadar arah, tetapi akhlak baik kepada sesama penduduk bumi ? Di layar yang terus menyala sepanjang malam, Mereka menjadikan agama sebagai etalase,  ayat menjadi kutipan yang dipindah-pindahkan  kesalehan menjadi sekedar unggahan, amar makruf menjadi komentar pedas atas setiap perbedaan. Mereka sibuk mengejar jejak simbol, tetapi rela kehilangan ruh keteladanan. Mereka memburu Muhammad pada jubah, sorban, gelar, dan nama. namun ketika kejujuran ...

Nestapa Bangsa Kita (By: Ma`ruf ASH)

  NESTAPA BANGSA KITA Di atas tanah yang dahulu menjunjung suara, kini banyak kata telah kehilangan gema. Memang demokrasi tampak berdiri di panggung terbuka, Namun, aku dengar rakyat banayak yang bertanya, mengapa suara kami sering berhenti di pintu-pintu kekuasaan ? Di negeri yang alamnya kaya raya, mengapa kami hanya boleh menghitung receh untuk menyambung nyawa. Sawah tetap hijau, laut tetap luas, tambang terus menggali perut bumi— namun kesejahteraan belum juga merata sampai ke dapur kami. Kita telah membangun gedung-gedung tinggi, Namun, lupa membangun manusia yang tinggi martabatnya. Kita mengejar angka pertumbuhan, Tetapi apakah pertumbuhan itu Merata di meja rakyat kita, di meja makan para buruh, di ruang kelas para guru, dan di rumah-rumah kecil kaum tertindas, yang menunggu keadilan yang terasa pincang. Aku lihat hukum gagah berdiri dengan kitab tebal di tangannya, namun rakyat kadang melihat keadilan berjalan dengan langkah berbeda. Yang k...

Memilin Ragu

Memilih Ragu  Salahkah jika banyak orang menyangka, Di antara riak telaga yang tenang, ada jemari tumpah menggoyang air tanpa sebab— bukan untuk menimba sejernih makna, melainkan mengaburkan langkah yang hendak melesat. ​Mereka menyalakan pelita di terang siang, mencari retak pada prasasti yang dianggap telah usang. "Apakah ikatan kemarin masih sah dan?" tanya mereka, yang telah menahan selangkah kaki yang ingin terbang. ​Janji lama diurai benangnya satu demi satu, bukan untuk merajut hangat yang baru. Batu batas yang dulu dipancang bersama, kini digugat hanya untuk menunda waktu. ​Betapa anggun manuver itu memilin ragu, membungkus ikhtiar dalam sengketa lalu. Namun sungai tak kan berhenti mengalir, hanya karena batu mempertanyakan muasal air.🙏

Tamu Yang Lupa (By: Ma'ruf ASH)

Tamu yang Lupa Aku melihat " Sang raja" di Republik kita. Mula-mula ia datang mengetuk pintu, membawa janji di kedua telapak tangannya, Ia mengenakan jubah pengabdian, dan berkata-kata sebagai rakyat biasa, Dengan lantang menawarkan masa depan yang lebih terang. Setelah pintu dibuka— ia masuk membawa senyum, lalu memindahkan perabot, mengganti kunci, dan lupa tentang siapa yang membukakan pintu untuknya. Janji-janji pun menguap di udara, terbang bersama angin kekuasaan, dan pengabdian mendadak menjelma, menjadi kerakusan yang tak berkesudahan. Kebijakan telah dipahat bersama ambisi, dipaksa tumbuh di tanah yang luka, puluhan ribu rakyat yang luka terlihat olehnya hanya soal angka, Dan anggaran pun luruh tanpa buah yang terlihat oleh mata. Kecuali pujian semu dari para  oportunis yang kenyang perutnya. Di rumah republik kita, rakyat menatap pintu yang terkunci, siapa sebenarnya pemilik rumah ini— mereka yang berkuasa, atau mereka yang mengamanatkan kuasa kepada mereka ? Aku pe...

Kekacauan Desil Kita dan Hak Kaum Tertindas Yang Terampas (By: Ma'ruf ASH)

 Kekacauan Desil Kita dan Hak Kaum Tertindas Yang Terampas  Di atas kertas, negara menyusun rakyatnya  dalam angka-angka yang tampak tertib—desil pertama, kedua, kesepuluh, seolah hidup dapat diukur seperti garis pada penggaris. Namun di lorong yang tak tercatat, ada perut yang belajar menahan lapar, ada tangan yang bekerja sejak fajar tetapi pulang membawa kekhawatiran pada hari-hari mereka. Kita menyebutnya data, lalu lupa bahwa di balik angka ada nama, ada wajah, ada ibu yang menunggu, ada anak yang bertanya mengapa kesempatan selalu datang ke alamat yang sama. Saat kita melihat pembagian desil keliru, jangan salahkan mereka yang jatuh di antara tabel. Barangkali yang kacau bukan rakyatnya, melainkan cara negara membaca kehidupan rakyat nya. Kawan, kita mengerti, bahwa Hak bukanlah hadiah yang turun dari meja kekuasaan. Ia bukan pula belas kasihan, yang diberikan ketika keadaan sudah terlalu gaduh. Hak adalah pintu yang semestinya terbuka bagi setiap rakyat Indonesia— ...

Ketika Adab Dijadikan Tameng Kejahatan (By : Ma'ruf ASH)

Ketika Adab Dijadikan Tameng Kejahatan  Malam ini ku putar kembali dialog di layar kaca,  Ku dengar Roky berkata dengan dengan yakin dan percaya. “Jangan hukum mati koruptor, sebab itu bertentangan dengan adab manusia.” Aku pun bertanya dalam hati : adab kepada siapa yang sedang kita bela— kepada pelaku, atau kepada jutaan korban yang kehilangan haknya? Bukankah korupsi bukan sekadar mengambil harta, tetapi mencuri masa depan anak-anak Bangsa, memadamkan api untuk sekolah dari anak-anak miskin, menutup pintu obat bagi setiap yang sakit, dan membuat rakyat belajar. bahwa kejujuran kadang kalah oleh harga sebuah jabatan ? Janganlah kita terlalu cepat menyebut hukuman sebagai kezaliman, sementara kezaliman yang telah berlangsung panjang. justeru di bungkus dengan kata prosedur , Dan di hidangkan dengan senyum kekuasaan, lalu mereka sebut sebagai adab kehidupan,  wahai hati, jangan biarkan keadilan berubah menjadi dendam. Sebab hukum bukan tempat melampiaskan amarah manusia, ...