Langsung ke konten utama

Kekacauan Desil Kita dan Hak Kaum Tertindas Yang Terampas (By: Ma'ruf ASH)

 Kekacauan Desil Kita dan Hak Kaum Tertindas Yang Terampas 

Di atas kertas, negara menyusun rakyatnya  dalam angka-angka yang tampak tertib—desil pertama, kedua, kesepuluh, seolah hidup dapat diukur seperti garis pada penggaris.

Namun di lorong yang tak tercatat,
ada perut yang belajar menahan lapar,
ada tangan yang bekerja sejak fajar
tetapi pulang membawa
kekhawatiran pada hari-hari mereka.

Kita menyebutnya data,
lalu lupa bahwa di balik angka
ada nama, ada wajah,
ada ibu yang menunggu,
ada anak yang bertanya
mengapa kesempatan selalu datang
ke alamat yang sama.

Saat kita melihat pembagian desil keliru,
jangan salahkan mereka
yang jatuh di antara tabel.
Barangkali yang kacau
bukan rakyatnya,
melainkan cara negara membaca
kehidupan rakyat nya.

Kawan, kita mengerti, bahwa Hak bukanlah hadiah yang turun dari meja kekuasaan.
Ia bukan pula belas kasihan,
yang diberikan ketika keadaan
sudah terlalu gaduh.

Hak adalah pintu
yang semestinya terbuka
bagi setiap rakyat Indonesia—
untuk makan dengan layak,
Untuk belajar tanpa takut,
Untuk bekerja tanpa diperas,
dan Untuk bersuara tanpa dibungkam.

Kepada mereka yang tertindas,
kami tidak ingin sekadar berkata,
“Bertahanlah” saudara.

Sebab bertahan
bukan satu-satunya cita-cita manusia.
Keadilan harus membuat seluruh rakyat 
mampu untuk berdiri,
Mampu untuk berjalan,
dan mampu untuk menentukan arah hidupnya sendiri.

Maka mari kita bongkar angka
tanpa merendahkan kita semua,
perbaiki kebijakan
tanpa menghapus suara,
dan susun kembali ukuran kesejahteraan
dengan hati yang mau mendengar setiap suara, dan dengan mata yang "melek" serta  terbuka.

Sebab negeri yang adil
bukan negeri tanpa perbedaan,
melainkan negeri yang tidak membiarkan perbedaan menjadi alasan,
untuk merampas hak-hak dari setiap orang.

Dan bila hari ini
desil-desil itu tampak kacau, seperti ditampilkan dalam berita,
mungkin semesta sedang mengingatkan negara,

bahwa kehidupan
tak pernah sesederhana angka,
dan keadilan tak boleh berhenti,
sebagai angka-angka di atas kertas saja.

@Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 10 September 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Beranda Kemerdekaan Kita (by: Ma'ruf ASH)

  Beranda Kemerdekaan Kita Agustus, bulan ketika merah putih kembali berkibar dimana-mana, Dan rakyat Indonesia menengadah pada langit yang sama, meski dapur masih mengeja dengan sabar, Serta meja makan sering lebih sunyi daripada pidato kekuasaan Kemerdekaan datang sebagai cahaya yang tak pernah kami ingkari. Ia adalah darah para syuhada yang tak pantas ditukar dengan keluh semata. Namun di gang-gang sempit negeri ini, kami melihat harga-harga tak berhenti berlari lebih cepat daripada upah penduduk negeri, sementara harapan masih tertatih mengejar pagi. Orang-orang kecil tetap berangkat sebelum fajar, memanggul cangkul, gerobak, dan doa. Mereka bekerja sepanjang usia, tetapi kemiskinan seolah enggan berpisah dari mereka. Aneh, justru di rumah-rumah reyot itulah syukur paling khusyuk sering dipanjatkan. Sepotong singkong dibagi menjadi kebahagiaan, seteguk teh menjadi pesta kesederhanaan. Obrolan di pinggir sawah menjadi hiburan tak tergantikan. Sedang di gedung-gedung megah, kemer...