Kekacauan Desil Kita dan Hak Kaum Tertindas Yang Terampas
Di atas kertas, negara menyusun rakyatnya dalam angka-angka yang tampak tertib—desil pertama, kedua, kesepuluh, seolah hidup dapat diukur seperti garis pada penggaris.
Namun di lorong yang tak tercatat,
ada perut yang belajar menahan lapar,
ada tangan yang bekerja sejak fajar
tetapi pulang membawa
kekhawatiran pada hari-hari mereka.
Kita menyebutnya data,
lalu lupa bahwa di balik angka
ada nama, ada wajah,
ada ibu yang menunggu,
ada anak yang bertanya
mengapa kesempatan selalu datang
ke alamat yang sama.
Saat kita melihat pembagian desil keliru,
jangan salahkan mereka
yang jatuh di antara tabel.
Barangkali yang kacau
bukan rakyatnya,
melainkan cara negara membaca
kehidupan rakyat nya.
Kawan, kita mengerti, bahwa Hak bukanlah hadiah yang turun dari meja kekuasaan.
Ia bukan pula belas kasihan,
yang diberikan ketika keadaan
sudah terlalu gaduh.
Hak adalah pintu
yang semestinya terbuka
bagi setiap rakyat Indonesia—
untuk makan dengan layak,
Untuk belajar tanpa takut,
Untuk bekerja tanpa diperas,
dan Untuk bersuara tanpa dibungkam.
Kepada mereka yang tertindas,
kami tidak ingin sekadar berkata,
“Bertahanlah” saudara.
Sebab bertahan
bukan satu-satunya cita-cita manusia.
Keadilan harus membuat seluruh rakyat
mampu untuk berdiri,
Mampu untuk berjalan,
dan mampu untuk menentukan arah hidupnya sendiri.
Maka mari kita bongkar angka
tanpa merendahkan kita semua,
perbaiki kebijakan
tanpa menghapus suara,
dan susun kembali ukuran kesejahteraan
dengan hati yang mau mendengar setiap suara, dan dengan mata yang "melek" serta terbuka.
Sebab negeri yang adil
bukan negeri tanpa perbedaan,
melainkan negeri yang tidak membiarkan perbedaan menjadi alasan,
untuk merampas hak-hak dari setiap orang.
Dan bila hari ini
desil-desil itu tampak kacau, seperti ditampilkan dalam berita,
mungkin semesta sedang mengingatkan negara,
bahwa kehidupan
tak pernah sesederhana angka,
dan keadilan tak boleh berhenti,
sebagai angka-angka di atas kertas saja.
@Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 10 September 2026
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform