Langsung ke konten utama

Ketika Adab Dijadikan Tameng Kejahatan (By : Ma'ruf ASH)

Ketika Adab Dijadikan Tameng Kejahatan 

Malam ini ku putar kembali dialog di layar kaca,  Ku dengar Roky berkata dengan dengan yakin dan percaya. “Jangan hukum mati koruptor, sebab itu bertentangan dengan adab manusia.”

Aku pun bertanya dalam hati :
adab kepada siapa yang sedang kita bela—
kepada pelaku, atau kepada jutaan korban
yang kehilangan haknya?

Bukankah korupsi
bukan sekadar mengambil harta,
tetapi mencuri masa depan anak-anak Bangsa,
memadamkan api untuk sekolah dari anak-anak miskin,
menutup pintu obat bagi setiap yang sakit,
dan membuat rakyat belajar.
bahwa kejujuran kadang kalah
oleh harga sebuah jabatan ?

Janganlah kita terlalu cepat
menyebut hukuman sebagai kezaliman,
sementara kezaliman yang telah berlangsung panjang.
justeru di bungkus dengan kata prosedur,
Dan di hidangkan dengan senyum kekuasaan, lalu mereka sebut sebagai adab kehidupan, 

wahai hati, jangan biarkan keadilan berubah menjadi dendam. Sebab hukum bukan tempat melampiaskan amarah manusia, melainkan cermin agar kekuasaan takut mengkhianati amanah yang dititipkan.

Jika hukuman mati hendak dibicarakan,
biarlah ia berdiri di atas hukum yang adil,
bukti yang terang,
proses yang jujur,
dan pertimbangan kemanusiaan—
bukan di atas kebencian,
bukan pula di atas perlindungan
bagi mereka yang menggerogoti negeri.

Salahkah jika aku memandang, bahwa yang paling bertentangan dengan adab bukanlah berbicara tentang hukuman berat,
melainkan ketika kita begitu sibuk
membela belas kasih kepada pencuri uang rakyat,
sementara lupa
menghitung air mata
orang-orang yang dicuri masa depannya.

Bukankah, Adab tanpa keadilan
dapat berubah menjadi kesopanan yang membiarkan kezaliman.
Dan keadilan tanpa nurani
dapat berubah menjadi kekejaman tanpa kendali.
Di antara keduanya,
manusia dituntut menemukan jalan:
tegas terhadap kejahatan,
namun tetap manusiawi dalam menghukum.

@ Ma'ruf Abu Said Husein, 3 September 202y

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Beranda Kemerdekaan Kita (by: Ma'ruf ASH)

  Beranda Kemerdekaan Kita Agustus, bulan ketika merah putih kembali berkibar dimana-mana, Dan rakyat Indonesia menengadah pada langit yang sama, meski dapur masih mengeja dengan sabar, Serta meja makan sering lebih sunyi daripada pidato kekuasaan Kemerdekaan datang sebagai cahaya yang tak pernah kami ingkari. Ia adalah darah para syuhada yang tak pantas ditukar dengan keluh semata. Namun di gang-gang sempit negeri ini, kami melihat harga-harga tak berhenti berlari lebih cepat daripada upah penduduk negeri, sementara harapan masih tertatih mengejar pagi. Orang-orang kecil tetap berangkat sebelum fajar, memanggul cangkul, gerobak, dan doa. Mereka bekerja sepanjang usia, tetapi kemiskinan seolah enggan berpisah dari mereka. Aneh, justru di rumah-rumah reyot itulah syukur paling khusyuk sering dipanjatkan. Sepotong singkong dibagi menjadi kebahagiaan, seteguk teh menjadi pesta kesederhanaan. Obrolan di pinggir sawah menjadi hiburan tak tergantikan. Sedang di gedung-gedung megah, kemer...