Ketika Adab Dijadikan Tameng Kejahatan
Malam ini ku putar kembali dialog di layar kaca, Ku dengar Roky berkata dengan dengan yakin dan percaya. “Jangan hukum mati koruptor, sebab itu bertentangan dengan adab manusia.”
Aku pun bertanya dalam hati :
adab kepada siapa yang sedang kita bela—
kepada pelaku, atau kepada jutaan korban
yang kehilangan haknya?
Bukankah korupsi
bukan sekadar mengambil harta,
tetapi mencuri masa depan anak-anak Bangsa,
memadamkan api untuk sekolah dari anak-anak miskin,
menutup pintu obat bagi setiap yang sakit,
dan membuat rakyat belajar.
bahwa kejujuran kadang kalah
oleh harga sebuah jabatan ?
Janganlah kita terlalu cepat
menyebut hukuman sebagai kezaliman,
sementara kezaliman yang telah berlangsung panjang.
justeru di bungkus dengan kata prosedur,
Dan di hidangkan dengan senyum kekuasaan, lalu mereka sebut sebagai adab kehidupan,
wahai hati, jangan biarkan keadilan berubah menjadi dendam. Sebab hukum bukan tempat melampiaskan amarah manusia, melainkan cermin agar kekuasaan takut mengkhianati amanah yang dititipkan.
Jika hukuman mati hendak dibicarakan,
biarlah ia berdiri di atas hukum yang adil,
bukti yang terang,
proses yang jujur,
dan pertimbangan kemanusiaan—
bukan di atas kebencian,
bukan pula di atas perlindungan
bagi mereka yang menggerogoti negeri.
Salahkah jika aku memandang, bahwa yang paling bertentangan dengan adab bukanlah berbicara tentang hukuman berat,
melainkan ketika kita begitu sibuk
membela belas kasih kepada pencuri uang rakyat,
sementara lupa
menghitung air mata
orang-orang yang dicuri masa depannya.
Bukankah, Adab tanpa keadilan
dapat berubah menjadi kesopanan yang membiarkan kezaliman.
Dan keadilan tanpa nurani
dapat berubah menjadi kekejaman tanpa kendali.
Di antara keduanya,
manusia dituntut menemukan jalan:
tegas terhadap kejahatan,
namun tetap manusiawi dalam menghukum.
@ Ma'ruf Abu Said Husein, 3 September 202y
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform