Langsung ke konten utama

Cinta Yang Tak Lagi Bertanya (By : Ma'ruf ASH)

Cinta Yang Tak Lagi Bertanya 


Aku pernah berjalan siang dan malam untuk mencari cinta,

di antara tumpukan kitab-kitab dan kata-kata,

mencari dalil atau hujjah untuk setiap langkah,

mencari alasan mengapa kita

harus mencintai Muhammad al-Mustafa


Di suatu malam aku berjumpa kepada angin,

Ia berbisik lirih di telinga sunyi:

“Jika engkau telah menemukan mata air,

mengapa masih bertanya,

apakah kita boleh minum saat dahaga ?”


Maka aku pun termenung dan diam.

Sebab cinta kepada Muhammad

bukan lagi pertanyaan tentang boleh dan tidak,

bukan pula sekedar perdebatan tentang dalil dan kata.

Ia adalah cahaya, yang ketika masuk ke dada,

membuat tangan enggan untuk menyakiti,

lidah malu untuk melukai,

dan hati tak tega untuk membenci.


Aku mencoba terus melintas,

dari dunia bentuk menuju dunia makna.

Tempat selawat bukan lagi sekadar suara,

melainkan denyut yang mengubah perilaku seorang hamba,

sunnah nabi bukan sekadar kata yang dihafal, dan disimpan di kepala

melainkan sebuah jalan yang perlahan akan mengubah wajah jiwa.


Wahai Muhammad al-mustafa 

aku tidak ingin hanya mengenal namamu

di ujung lidah,

aku ingin menemukan jejakmu

di dalam cara aku memandang manusia.


Jika engkau adalah rahmat,

Maka ajarilah hatiku untuk menjadi teduh.

Jika engkau adalah cahaya,

jangan biarkan aku menjadi api

yang menyala,


Barangkali hakikat cinta

adalah ketika kita telah mengubur kata-kata tak berguna,

Kata-kata yang membelenggu jiwa,

Kata yang tak menyatu dengan hati dan perbuatan kita,

.

Kita mesti mengerti, bahwa orang yang benar-benar jatuh cinta

tak lagi sibuk menunjukkan cintanya—

ia hanya berjalan,

semakin lembut,

semakin rendah hati,

Dan semakin luas maafnya untuk sesama 


Dan ketika seluruh dalil telah sampai

pada batas akal,

cinta akan membawa kita menyeberang—

menuju sebuah negeri

TempT hati tak lagi banyak bertanya,


ia hanya mengenal,

ia hanya berserah,

ia hanya berjalan

di bawah cahaya

Muhammad al-Mustafa dalam ridha Tuhan yang penuh cinta.


@ Ma'ruf Abu Said Husein, Boyolali, 17 Rabiul awwal 1448 H. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Kepada Siapa Lagi Aku Percaya?

  Kepada Siapa Lagi Aku Percaya? Aku berdiri di tengah bising negeri, suara janji bertebaran bagai daun kering berserakan, retak di bawah pijakan dusta yang tak pernah jemu. Lembaga negara— yang seharusnya sebagai benteng, justeru menjadi pasar kepentingan. Kursi-kursi rapat penuh genggam tangan dingin, dimana uang menggantikan nurani. Ormas keagamaan— yang seharusnya menjadi cahaya, justeru terjerat bayang-bayang yang sama. Kas suara doa bercampur bisik laba, membuat langit terasa jauh dari bumi. Aku rakyat kecil, menggenggam resah seperti bara. Jika negara tak bisa kupercaya, jika agamawan pun berpeluk dengan kuasa, dan terlibat andil menggarong negara Lantas, kepada siapa lagi aku harus percaya? Mungkin, hanya pada sunyi di dalam dada, Kepada suara hati yang belum bisa dibeli, Kepada Tuhan yang tetap suci meski para penjaga nama-Nya terjerat ambisi. Di jalan buntu ini aku belajar, bahwa kejujuran bukan milik lembaga, tetapi perjuangan diri— yang s...