Tamu yang Lupa
Aku melihat " Sang raja" di Republik kita. Mula-mula ia datang mengetuk pintu,
membawa janji di kedua telapak tangannya,
Ia mengenakan jubah pengabdian, dan berkata-kata sebagai rakyat biasa,
Dengan lantang menawarkan masa depan yang lebih terang.
Setelah pintu dibuka—
ia masuk membawa senyum,
lalu memindahkan perabot,
mengganti kunci, dan lupa tentang siapa yang membukakan pintu untuknya.
Janji-janji pun menguap di udara,
terbang bersama angin kekuasaan,
dan pengabdian mendadak menjelma, menjadi kerakusan yang tak berkesudahan.
Kebijakan telah dipahat bersama ambisi,
dipaksa tumbuh di tanah yang luka,
puluhan ribu rakyat yang luka terlihat olehnya hanya soal angka,
Dan anggaran pun luruh tanpa buah yang terlihat oleh mata. Kecuali pujian semu dari para oportunis yang kenyang perutnya.
Di rumah republik kita,
rakyat menatap pintu yang terkunci,
siapa sebenarnya pemilik rumah ini—
mereka yang berkuasa, atau mereka yang mengamanatkan kuasa kepada mereka ?
Aku percaya, Kelak pintu itu akan diketuk kembali.
Bukan oleh tamu, melainkan oleh ingatan;
sebab kekuasaan hanyalah kunci pinjaman,
dan republik tak pernah diwariskan kepada siapa pun. Sebab rakyatlah pemilik kuasa tertinggi dalam demokrasi.
@Ma'ruf Abu Said Husein, diatas bumi Tuhan, 13 September 2026.
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform