Makam Ukhuwah Dalam duduk bersandar di kursi tua, ku biarkan nalar dan hati mencoba berjalan, walau ia tertatih di lorong-lorong ummat, Terus ku cari wajah ukhuwah yang dahulu menghangatkan dingin sejarah. Namun, yang kutemukan kini hanyalah gema takbir yang saling menenggelamkan, bukan saling menguatkan. Ukhuwah kini terlihat sekarat— napasnya tersengal di bawah reruntuhan ego, diselimuti bendera-bendera kebanggaan Kelompok mereka, Hingga menyisakan sesak tangis dalam dada, tempat nurani masih ada, Ukhwah telah mati, bukan oleh musuh yang datang dari kuffar, melainkan oleh tangan-tangan yang sibuk mengaku paling setia sebagai pembela Tuhan, namun enggan memeluk sesama hamba seperti dicontohkan oleh Al-Mustafa. Aku lihat ummat mengusung jenazahnya ke penjara panjang bernama ashabiyah ; di sanalah ia dikuburkan, di balik tembok fanatisme, diikat rantai golongan, dan dikafani prasangka yang terus diwariskan. Makam itu tampak sunyi dari doa. yang terdengar hanya sorak kemenangan ata...
Tentang Sebuah Pilihan Hidup itu tentang pilihan. Dan aku tak memilih jalan yang paling riuh dalam kehidupan, atau panggung yang memanggil banyak tepuk tangan. Aku lebih memilih ruang sunyi, tempat ego dikubur sebelum cita-cita ditanam. Di medan jihad yang kupilih, musuh terberat bukan mereka yang di luar sana, melainkan bayang-bayang diriku sendiri yang kadang ingin dipuji atas setiap pengabdian. Hari demi hari, aku tak berhenti belajar memerdekakan jiwa, dari rantai ambisi, pujian, dan kepemilikan yang membuat lupa, Karena hati yang terikat dunia tak akan mampu terbang menuju langit keikhlasan. Aku biarkan peluh menjadi tasbih, air mata menjadi wudu bagi nurani, dan setiap langkah menjadi sujud panjang yang sering tak terlihat oleh mata Aku ingin mengabdi, bukan agar namaku dikenang zaman, tetapi agar Pemilik Semesta berkenan mengenalku sebagai hamba yang pulang dengan hati yang ringan. Sebab kemenangan terbesar anak manusia, bukan ketika dunia mengangkat derajatnya, mela...