Tamu yang Lupa Aku melihat " Sang raja" di Republik kita. Mula-mula ia datang mengetuk pintu, membawa janji di kedua telapak tangannya, Ia mengenakan jubah pengabdian, dan berkata-kata sebagai rakyat biasa, Dengan lantang menawarkan masa depan yang lebih terang. Setelah pintu dibuka— ia masuk membawa senyum, lalu memindahkan perabot, mengganti kunci, dan lupa tentang siapa yang membukakan pintu untuknya. Janji-janji pun menguap di udara, terbang bersama angin kekuasaan, dan pengabdian mendadak menjelma, menjadi kerakusan yang tak berkesudahan. Kebijakan telah dipahat bersama ambisi, dipaksa tumbuh di tanah yang luka, puluhan ribu rakyat yang luka terlihat olehnya hanya soal angka, Dan anggaran pun luruh tanpa buah yang terlihat oleh mata. Kecuali pujian semu dari para oportunis yang kenyang perutnya. Di rumah republik kita, rakyat menatap pintu yang terkunci, siapa sebenarnya pemilik rumah ini— mereka yang berkuasa, atau mereka yang mengamanatkan kuasa kepada mereka ? Aku pe...
Kekacauan Desil Kita dan Hak Kaum Tertindas Yang Terampas Di atas kertas, negara menyusun rakyatnya dalam angka-angka yang tampak tertib—desil pertama, kedua, kesepuluh, seolah hidup dapat diukur seperti garis pada penggaris. Namun di lorong yang tak tercatat, ada perut yang belajar menahan lapar, ada tangan yang bekerja sejak fajar tetapi pulang membawa kekhawatiran pada hari-hari mereka. Kita menyebutnya data, lalu lupa bahwa di balik angka ada nama, ada wajah, ada ibu yang menunggu, ada anak yang bertanya mengapa kesempatan selalu datang ke alamat yang sama. Saat kita melihat pembagian desil keliru, jangan salahkan mereka yang jatuh di antara tabel. Barangkali yang kacau bukan rakyatnya, melainkan cara negara membaca kehidupan rakyat nya. Kawan, kita mengerti, bahwa Hak bukanlah hadiah yang turun dari meja kekuasaan. Ia bukan pula belas kasihan, yang diberikan ketika keadaan sudah terlalu gaduh. Hak adalah pintu yang semestinya terbuka bagi setiap rakyat Indonesia— ...