Tasamuh di Ujung Hilal Di ujung senja hari lalu, Di ufuk barat, sepotong cahaya digantungkan langit, ada yang bersaksi telah melihatnya dengan ilmu semesta, ada yang bersumpah, ramadhan belum tiba waktunya. Di ruang-ruang sidang, suara ditimbang. Di menara-menara sunyi, rukyat ditegakkan, di meja hitung, angka-angka berbaris rapi. Nahdlatul Ulama menengadah dengan mata tradisi, Muhammadiyah menatap dengan presisi hisabi Sementara langit tetap diam, Ia tak pernah berdebat tentang siapa yang paling benar. Enggan menghegemoni opini mereka yang berbeda paradigma, Sebab semua itu hujjah semesta. Wahai jiwa-jiwa yang mudah menyala, Aku katakan padamu pagi ini, bukankah bulan sabit itu tipis— mengapa egomu justru mengeras seperti batu ? Bukankah Islam diturunkan sebagai rahmat semesta, mengapa kita gemar menjadikannya palu untuk "memaksa" yang berbeda ? Sungguh ! Awal Ramadhan bukan hanya soal tanggal, ia adalah pintu untuk menundukkan diri. Apalah arti puasa kita, jika lisan masi...
*LOGISKAH ?* Di ujung senja Diatas kursi renta Aku memberanikan diri untuk bertanya Bertanya karena cinta Tentang sebuah realita Logiskah sepiring nasi lebih fasih menjelaskan rumus kehidupan, ketimbang suara guru yang serak menahan perih ketidak adilan zaman ? Aku dengar, Katanya, gizi adalah cahaya, protein adalah masa depan, dan vitamin adalah kecerdasan. Lalu guru apa? Adakah sekadar bayangan di di depan papan tulis yang retak ? Sepertinya..... Negeri ini gemar menghitung kalori, tapi lupa menakar nurani. Anak-anak diberi susu, namun pikirannya dibiarkan dingin tanpa sentuhan makna. Oh, betapa mulia program makan gratis, difoto, dipuji, disorot kamera. Sementara guru berdiri di depan kelas dengan sepatu usang, dan wajah murung berbungkus doa, Tentang angan yang telah terbungkus kain kafan, Dan menunggu mu'zizat Tuhan untuk menghidupkan. Apakah kecerdasan lahir dari sendok yang berkilau ?, atau dari kesabaran yang mengulang huruf demi h...