SIMALAKAMA Dimakan, ibu yang mati, Tak dimakan ayah yang mati, Begitulah simalakama bunga Bank kita, Di antara lembar-lembar kitab tua, dan angka-angka melayang di udara digital kita, kita dipaksa berdiri di persimpangan zaman, Antara menimbang dosa, dan menawar nyawa. Suara-suara dari mimbar menggema, menunjuk haram pada tiap persen yang beranak, mengetuk pintu dada yang cemas, "Ini riba, ini benalu yang memakan sukma!" Sebentar, lalu hening menjadi dingin, saat ketiadaan modal mengetuk pintu dapur yang sama. Di balik layar kaca sistem raksasa, uang tak lagi sekadar tukar penambal lapar. Ia adalah darah yang dipaksa mengalir dalam nadi kehidupan kota yang tak pernah tidur. Tanpa bunga, roda terhenti; dengan bunga, leher terjerat tali. Apakah kita sedang menyembah sistem, atau sekadar bertahan di atas tanah yang tak lagi ramah ? Ketika kebutuhan bukan lagi pilihan, melainkan benteng dari kehancuran yang nyata. Terselip tanya di antara dogma dan realita, Siapa yang seben...
Makam Ukhuwah Dalam duduk bersandar di kursi tua, ku biarkan nalar dan hati mencoba berjalan, walau ia tertatih di lorong-lorong ummat, Terus ku cari wajah ukhuwah yang dahulu menghangatkan dingin sejarah. Namun, yang kutemukan kini hanyalah gema takbir yang saling menenggelamkan, bukan saling menguatkan. Ukhuwah kini terlihat sekarat— napasnya tersengal di bawah reruntuhan ego, diselimuti bendera-bendera kebanggaan Kelompok mereka, Hingga menyisakan sesak tangis dalam dada, tempat nurani masih ada, Ukhwah telah mati, bukan oleh musuh yang datang dari kuffar, melainkan oleh tangan-tangan yang sibuk mengaku paling setia sebagai pembela Tuhan, namun enggan memeluk sesama hamba seperti dicontohkan oleh Al-Mustafa. Aku lihat ummat mengusung jenazahnya ke penjara panjang bernama ashabiyah ; di sanalah ia dikuburkan, di balik tembok fanatisme, diikat rantai golongan, dan dikafani prasangka yang terus diwariskan. Makam itu tampak sunyi dari doa. yang terdengar hanya sorak kemenangan ata...