INSPIRASI MEMBACA KISAH HAJI MERAH Ketika aku mulai membaca biografi sosok seorang ulama, Terlihat tinta di atas kertas seperti darah yang belum selesai bercerita. Setiap halaman menyimpan bara, setiap kalimat tak berhenti mengetuk dada, seperti langkah kaki orang-orang yang tak sudi hidup dalam bayang-bayang penindasan. Aku membaca lembar demi lembar perlahan, namun, aku merasa kisahnya berlari jauh melampaui halaman. Ia masuk ke mataku, menyusup ke dalam pikiranku, lalu menyalakan sebuah pertanyaan: Sampai kapan manusia harus menundukkan kepala di hadapan ketidakadilan ? Dari kisahnya aku melihat, rantai bukan hanya terbuat dari besi. Seringkali ia adalah kondisi, Yang ditempa dari rasa takut, dari kebisuan, dari ketidakpedulian yang dibiarkan menjadi kebiasaan. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa halaman buku bukan lagi sekadar tempat membaca sejarah. Ia adalah cermin. Di sana aku melihat diriku sendiri— seorang pembaca yang hidup di zaman berbeda, tetapi masih be...
MENGEJAR SIMBOL SUCI Kulihat meeka sibuk mengukir nama suci di kubah, spanduk, dan bahkan di dinding kota, tetapi di jalan yang sama terlihat banyak orang miskin masih berjalan tanpa kasih— seolah kesucian cukup menjadi ornamen, tak perlu menjelma dalam uluran tangan untuk kaum pinggiran. Mereka begitu fasih menunjuk kiblat orang lain, sibuk menghitung sesat di komunitas yang bajunya tidak sama, sementara jari telunjuk yang terangkat menyembunyikan tangan yang enggan berbagi. Bahkan tak malu mengubur simpati, Bukankah iman bukan sekadar arah, tetapi akhlak baik kepada sesama penduduk bumi ? Di layar yang terus menyala sepanjang malam, Mereka menjadikan agama sebagai etalase, ayat menjadi kutipan yang dipindah-pindahkan kesalehan menjadi sekedar unggahan, amar makruf menjadi komentar pedas atas setiap perbedaan. Mereka sibuk mengejar jejak simbol, tetapi rela kehilangan ruh keteladanan. Mereka memburu Muhammad pada jubah, sorban, gelar, dan nama. namun ketika kejujuran ...