Langsung ke konten utama

Postingan

PIDATO TUAN RAJA (By: Ma'ruf Abu Said Husein)

PIDATO TUAN RAJA Di bawah langit Jakarta, riuh suara buruh menunggu pidato Tuan raja, dan berharap dapat mengubah nasib mereka, kata-kata disulam menjadi barisan, seperti buruh yang berharap ada regulasi perbaikan nasib mereka. Yang tak berhenti diperas keringatnya, oleh para kapitalis yang mati rasa. Hari itu, suara dilipat menjadi peringatan, dan Sang Tuan Raja berdiri di atas podium— bukan sekadar sebagai manusia, melainkan gema yang ingin diyakini sebagai pusat kuasa. Siang itu, dari bibir meluncur suara keras, dan bertanya,l, hampir seperti permainan di Bustanul Athfal kita,  “Apakah MBG penting bagi rakyat ?” Pertanyaan itu melayang, menguji udara, mengukur seberapa patuh napas yang dihirup bersama. Lalu jawaban datang— serentak bikin geleng-geleng kepala, Dari ratusan mikropun terdengar “tidak.”, begitu jelas dan nyata. Seketika, waktu berhenti menjadi jam, dan berubah menjadi cermin. Apakah ini ujian ? Atau sekadar kebetulan yang telanjang? Apakah sensitivit...
Postingan terbaru

MENGINGAT HARI BERSEJARAH DI HALAMAN MADRASAH (By: Ma'ruf Abu Said Husein)

MENGINGAT HARI BERSEJARAH DI HALAMAN MADRASAH Di halaman madrasah kita, waktu turut terus  berjalan, dan tanggal pun datang tanpa gaduh— seperti kapur yang pelan-pelan habis di ujung jari, meninggalkan debu yang tak pernah tercatat. Hari ini, 2 Mei 2026 disebut Hari peringatan, tapi, siapa yang sungguh mengingat ? tentang langkah-langkah kecil di ruang-ruang kelas yang sempit, yang lantainya telah retak, yang atapnya tak bosan menahan hujan dengan doa ? Di sana, guru-guru berdiri bukan hanya untuk mengajar huruf, melainkan untuk menambal harapan yang kerap robek oleh kenyataan. Mereka tak tercetak di baliho, tak disebut dalam pidato panjang, namun suara mereka menetap di kepala anak-anak yang belum mengerti,  betapa mahalnya sebuah kesempatan. Madrasahku memang terlihat sederhana— seperti hidup yang dijalani tanpa banyak pilihan. Buku-buku lama diwariskan seperti nasib, dan papan tulis menjadi saksi bahwa ilmu tak pernah hadir tanpa dicari. Guru-guru berangkat pagi dan pulang...

REFLEKSI SEPULUH HARI (By: Ma'ruf Abu Said Husein)

REFLEKSI SEPULUH HARI Sepuluh hari sudah berlalu, namun waktu terasa tidak benar-benar berjalan— ia seperti duduk dalam diam di pinggir luka, menatapku tanpa mengedipkan mata. Di antara sisa bau darah dan kaca pecah yang masih terselip dalam ingatan, aku mencoba menyusun ulang diriku seperti serpihan yang enggan menyatu. Bus itu— yang sering kita fahami hanya kendaraan transportasi— Kini telah berubah menjadi ruang antara, antara hidup yang kukenal dan hidup yang kini harus ku-pahami. Benturan itu masih bergaung, seperti pertanyaan yang tak kunjung selesai, dan terus berulang  mengapa detik bisa secepat itu berubah, dari tawa menjadi tangis duka ? Selokan Tol Subang, menjadi saksi bagaimana tubuh khawatir dan takut bercampur tanpa izin. Aku masih teringat dinginnya pagi, bukan hanya pada kulit, tetapi pada kesadaran tentang "accident" atau takdir Illahi ? Sepuluh hari ini, aku berjalan pelan di dalam diriku sendiri. Menghitung napas seperti menghitung anugerah yang dulu teras...

DUKA KERETA KITA (By: Ma'ruf Abu Said Husein)

Selasa pagi masih setengah terjaga, DUKA KERETA KITA Kemarin pagi.... Saat Matahari baru belajar menyebut nama-nama, dan rel-rel besi memanjang seperti doa yang tak pernah selesai dibacakan. Di Timur Bekasi, waktu tiba-tiba tersentak— dua laju bertemu tanpa sempat saling memahami, besi beradu, kaca pecah, dan hidup… terlepas dari genggaman. Lima belas napas pulang lebih cepat, tanpa pamit yang utuh, tanpa kalimat terakhir yang sempat dirapikan. Puluhan lainnya tertinggal di antara luka, menggenggam nyeri seperti pertanyaan yang tak kunjung diberi jawaban. Ini salah siapa? Apakah takdir yang menulis terlalu tergesa, menggoreskan akhir pada halaman yang belum selesai dibaca? Ataukah tangan manusia yang lalai menjaga jeda, yang lupa bahwa kecepatan bisa berubah menjadi kehilangan? Barangkali kita terlalu sering menyebut “sudah kehendak-Nya” untuk menenangkan kegaduhan hati, padahal di sela-sela itu, ada keputusan-keputusan kecil yang kita abaikan— isyarat-isyarat yang tak dibaca, aturan y...

RETAKNYA TOPENG KESALEHAN

RETAKNYA TOPENG KESALEHAN Sering kita mendengar ceramah dengan suara bergetar,  ayat-ayat menetes dari janggut yang rimbun seperti hujan yang tampak suci. Bersama janggut yang rimbun, dengan lisan fasih mengutip sabar, mata menunduk seolah dunia hanya debu di ujung sajadah. Tetapi di balik lipatan jubah, ada angka-angka tersembunyi, ada rupiah yang disulap dengan doa, ada air mata jamaah yang diperas pelan-pelan atas nama Ka'bah dan pahala. Ia berkhotbah tentang ikhlas, sementara koper-koper penuh menyimpan ongkos orang-orang tua yang menjual sawah mereka, Yang menggadai gelang yang dicinta, menunggu giliran ke tanah suci dengan napas yang kian renta. Betapa mudah kesalehan dicipta Dipoles dengan janggut, sorban, suara lirih, seolah takwa dapat dijahit dan dilukis pada kain putih dengan gelar ustadz dan sorban di kepala. Bukankah Tuhan tak pernah silau oleh dahi yang hitam, tak pernah tertipu oleh fasihnya dalil yang diperdagangkan Kini retaklah topeng itu kesalehan Pecah di hadapa...