Memilih Ragu Salahkah jika banyak orang menyangka, Di antara riak telaga yang tenang, ada jemari tumpah menggoyang air tanpa sebab— bukan untuk menimba sejernih makna, melainkan mengaburkan langkah yang hendak melesat. Mereka menyalakan pelita di terang siang, mencari retak pada prasasti yang dianggap telah usang. "Apakah ikatan kemarin masih sah dan?" tanya mereka, yang telah menahan selangkah kaki yang ingin terbang. Janji lama diurai benangnya satu demi satu, bukan untuk merajut hangat yang baru. Batu batas yang dulu dipancang bersama, kini digugat hanya untuk menunda waktu. Betapa anggun manuver itu memilin ragu, membungkus ikhtiar dalam sengketa lalu. Namun sungai tak kan berhenti mengalir, hanya karena batu mempertanyakan muasal air.🙏
Tamu yang Lupa Aku melihat " Sang raja" di Republik kita. Mula-mula ia datang mengetuk pintu, membawa janji di kedua telapak tangannya, Ia mengenakan jubah pengabdian, dan berkata-kata sebagai rakyat biasa, Dengan lantang menawarkan masa depan yang lebih terang. Setelah pintu dibuka— ia masuk membawa senyum, lalu memindahkan perabot, mengganti kunci, dan lupa tentang siapa yang membukakan pintu untuknya. Janji-janji pun menguap di udara, terbang bersama angin kekuasaan, dan pengabdian mendadak menjelma, menjadi kerakusan yang tak berkesudahan. Kebijakan telah dipahat bersama ambisi, dipaksa tumbuh di tanah yang luka, puluhan ribu rakyat yang luka terlihat olehnya hanya soal angka, Dan anggaran pun luruh tanpa buah yang terlihat oleh mata. Kecuali pujian semu dari para oportunis yang kenyang perutnya. Di rumah republik kita, rakyat menatap pintu yang terkunci, siapa sebenarnya pemilik rumah ini— mereka yang berkuasa, atau mereka yang mengamanatkan kuasa kepada mereka ? Aku pe...