Selasa pagi masih setengah terjaga, DUKA KERETA KITA Kemarin pagi.... Saat Matahari baru belajar menyebut nama-nama, dan rel-rel besi memanjang seperti doa yang tak pernah selesai dibacakan. Di Timur Bekasi, waktu tiba-tiba tersentak— dua laju bertemu tanpa sempat saling memahami, besi beradu, kaca pecah, dan hidup… terlepas dari genggaman. Lima belas napas pulang lebih cepat, tanpa pamit yang utuh, tanpa kalimat terakhir yang sempat dirapikan. Puluhan lainnya tertinggal di antara luka, menggenggam nyeri seperti pertanyaan yang tak kunjung diberi jawaban. Ini salah siapa? Apakah takdir yang menulis terlalu tergesa, menggoreskan akhir pada halaman yang belum selesai dibaca? Ataukah tangan manusia yang lalai menjaga jeda, yang lupa bahwa kecepatan bisa berubah menjadi kehilangan? Barangkali kita terlalu sering menyebut “sudah kehendak-Nya” untuk menenangkan kegaduhan hati, padahal di sela-sela itu, ada keputusan-keputusan kecil yang kita abaikan— isyarat-isyarat yang tak dibaca, aturan y...
RETAKNYA TOPENG KESALEHAN Sering kita mendengar ceramah dengan suara bergetar, ayat-ayat menetes dari janggut yang rimbun seperti hujan yang tampak suci. Bersama janggut yang rimbun, dengan lisan fasih mengutip sabar, mata menunduk seolah dunia hanya debu di ujung sajadah. Tetapi di balik lipatan jubah, ada angka-angka tersembunyi, ada rupiah yang disulap dengan doa, ada air mata jamaah yang diperas pelan-pelan atas nama Ka'bah dan pahala. Ia berkhotbah tentang ikhlas, sementara koper-koper penuh menyimpan ongkos orang-orang tua yang menjual sawah mereka, Yang menggadai gelang yang dicinta, menunggu giliran ke tanah suci dengan napas yang kian renta. Betapa mudah kesalehan dicipta Dipoles dengan janggut, sorban, suara lirih, seolah takwa dapat dijahit dan dilukis pada kain putih dengan gelar ustadz dan sorban di kepala. Bukankah Tuhan tak pernah silau oleh dahi yang hitam, tak pernah tertipu oleh fasihnya dalil yang diperdagangkan Kini retaklah topeng itu kesalehan Pecah di hadapa...