BERSRLANCAR DI SAMUDERA CAHAYA Di samudra digital yang tak bertepi, kupasang layar pada angin sunyi. Ku kayuh jemari menembus gelombang cahaya, mencari mutiara, bukan riuh ombaknya. Di sebuah dermaga tak bernama, kutemui Rumi menjaga nyala. Ia tak mengajar dengan suara, melainkan dengan bunga yang mekar di dalam luka. Ia membisikkan ke telingaku, bahwa "Keindahan," , "lahir dari mata yang mencinta; Sedang cinta adalah jalan pulang, dan bukan sekadar sebuah tujuan." Sejak itu, ku pungut embun di setiap perjumpaan, karena semesta hanya membuka wajahnya bagi hati yang ikhlas dalam pengabdiannya. Maka kubiarkan jiwaku menjadi burung tanpa sangkar, terbang melampaui pagar-pagar prasangka. Di dunia digital kutemukan jalan menuju diriku sendiri: jiwa yang merdeka adalah jiwa yang mencinta dengan ikhlas untuk Tuhannya. @ Ma'ruf Abu Said Husein, di atas bumi Tuhan, 28 Juni 2026
Ibrah di Simpang Ghadir Di sebuah simpang sejarah, ketika debu padang pasir menjadi saksi, Dan Rasul menegakkan tangan Ali bin Abi Thalib , bukan untuk meninggikan seorang manusia di atas manusia lainnya, melainkan untuk menegakkan amanah di atas nafsu dan ambisi. Beliau bersabda, bahwa Ali di sisiku laksana Harun di sisi Musa , namun tiada nabi setelah Ku. Itulah isyarat tentang kedekatan, kesetiaan, dan tanggung jawab, bahwa kepemimpinan bukan mahkota kekuasaan, melainkan beban pengabdian. Dan di Ghadir yang agung, bergema pesan cinta yang melampaui zaman, “Barang siapa menjadikan aku pemimpin dan kekasihnya, maka jadikan Ali pemimpin dan kekasihnya.” Maka meneladani Ali bukan sekadar memuji namanya dalam syair, melainkan belajar berdiri tegak di hadapan ketidakadilan, Dan tetap rendah hati ketika berkuasa, dan tetap lembut meski memiliki kekuatan untuk memaksa. Ali mengajarkan bahwa ilmu lebih mulia daripada kemegahan, bahwa kebenaran tidak selalu bersama keramaian, dan b...