*LOGISKAH ?* Di ujung senja Diatas kursi renta Aku memberanikan diri untuk bertanya Bertanya karena cinta Tentang sebuah realita Logiskah sepiring nasi lebih fasih menjelaskan rumus kehidupan, ketimbang suara guru yang serak menahan perih ketidak adilan zaman ? Aku dengar, Katanya, gizi adalah cahaya, protein adalah masa depan, dan vitamin adalah kecerdasan. Lalu guru apa? Adakah sekadar bayangan di di depan papan tulis yang retak ? Sepertinya..... Negeri ini gemar menghitung kalori, tapi lupa menakar nurani. Anak-anak diberi susu, namun pikirannya dibiarkan dingin tanpa sentuhan makna. Oh, betapa mulia program makan gratis, difoto, dipuji, disorot kamera. Sementara guru berdiri di depan kelas dengan sepatu usang, dan wajah murung berbungkus doa, Tentang angan yang telah terbungkus kain kafan, Dan menunggu mu'zizat Tuhan untuk menghidupkan. Apakah kecerdasan lahir dari sendok yang berkilau ?, atau dari kesabaran yang mengulang huruf demi h...
YANG DILUPAKAN Di balik meja Kementerian Agama, kata-kata meluncur ringan tanpa beban, tentang guru swasta— seolah mereka bayang-bayang tak berguna, bukan pilar yang menahan dan menjaga moralitas Negara. Eksistensinya "haram dihubungkan" dengan altar suci Kementrian Agama. Padahal di ruang sempit dan papan rapuh, mereka menyalakan pelita ilmu dengan gaji yang lebih rendah dari Tukang sapu, dalam tabel kebijakan, mereka tak dianggap ada, Walau kiprahnya sangat jelas dalam membangun bangsa. Tak salah jika guru swasta beranggapan, Saat lidah kekuasaan lupa menakar empati, maka luka semakin dalam lahir dari pernyataan, Yang melupakan sejarah dan menutup mata pada kenyataan, Bukankah Negeri ini berdiri bukan hanya milik yang bergaji pasti, tetapi juga oleh mereka yang setia meski sering tak dihargai. Wahai penjaga kata negara, belajarlah mendengar dari bawah, sebab guru swasta bukan beban sejarah, melainkan saksi kesetiaan, yang terlalu lama dilupakan, @ Ma'ruf ...