Warisan Kenabian Di deretan nama-nama besar dalam sejarah, aku belajar bahwa kemuliaan tak selalu datang dengan baju kebesaran, kadang ia berjalan di lorong sunyi, mengenakan pakaian sederhana, dan menundukkan wajah di hadapan Tuhannya. Dalam berbagai literatur terpercaya, aku mencoba memandang Sayyid Mujtaba, aku melihat jejak kesahajaan melekat di wajahnya— sebuah warisan yang tak terlihat mewah, melainkan warisan jiwa penuh cahaya, Warisan dari ayah kepada anaknya, Warisan dari kakek kepada cucunya, dan warisan dari datuk kepada generasi penerusnya. Kesederhanaan yang bukan kemiskinan, melainkan kekayaan jiwa yang tak membutuhkan tepuk tangan dunia. Ia sangat mengerti, bahwa semakin tinggi pohon, semakin dalam akar harus menembus ke tanah tempat kehidupan bermula. Jika benar darah dan nasab adalah amanah, maka kemuliaan bukan sekadar menyebut silsilah, melainkan menjaga akhlak yang diwariskan Yaitu kelembutan, keberanian, kezuhudan, dan cinta kepada kebenaran, yang dinisb...
Di Antara Dua Pintu Pendidikan Hampir dua bulan tahun ajaran baru berjalan, anak-anak telah duduk di bangku baru, membawa seragam, harapan, dan masa depan baru— namun sayang, data mereka masih tertahan di antara pintu-pintu birokrasi. Entah mengapa?, terdapat ribuan anak-anak Indonesia yang telah memilih Madrasah, tetapi namanya belum sepenuhnya sampai ke dalam rumah data Madrasah. Seakan seorang anak boleh berpindah sekolah, tetapi identitas pendidikannya masih diperebutkan oleh sistem tanpa rasa. Salahkah jika kita bertanya ?, apa yang sebenarnya sedang terjadi ? Sehingga fenomena konyol ini harus terjadi, Apakah sistem yang sedang gagap membaca kenyataan, atau ada "tarik tambang" kepentingan di antara dua kementerian, yang sama-sama merasa memiliki jalan terbaik bagi anak-anak menuju masa depan ? Jika pendidikan adalah amanah, mengapa data menjadi sekat ? Jika anak adalah pusat pelayanan, mengapa administrasi justru membuat mereka seperti bola yang ditendang dari s...