REFLEKSI SEPULUH HARI Sepuluh hari sudah berlalu, namun waktu terasa tidak benar-benar berjalan— ia seperti duduk dalam diam di pinggir luka, menatapku tanpa mengedipkan mata. Di antara sisa bau darah dan kaca pecah yang masih terselip dalam ingatan, aku mencoba menyusun ulang diriku seperti serpihan yang enggan menyatu. Bus itu— yang sering kita fahami hanya kendaraan transportasi— Kini telah berubah menjadi ruang antara, antara hidup yang kukenal dan hidup yang kini harus ku-pahami. Benturan itu masih bergaung, seperti pertanyaan yang tak kunjung selesai, dan terus berulang mengapa detik bisa secepat itu berubah, dari tawa menjadi tangis duka ? Selokan Tol Subang, menjadi saksi bagaimana tubuh khawatir dan takut bercampur tanpa izin. Aku masih teringat dinginnya pagi, bukan hanya pada kulit, tetapi pada kesadaran tentang "accident" atau takdir Illahi ? Sepuluh hari ini, aku berjalan pelan di dalam diriku sendiri. Menghitung napas seperti menghitung anugerah yang dulu teras...
Selasa pagi masih setengah terjaga, DUKA KERETA KITA Kemarin pagi.... Saat Matahari baru belajar menyebut nama-nama, dan rel-rel besi memanjang seperti doa yang tak pernah selesai dibacakan. Di Timur Bekasi, waktu tiba-tiba tersentak— dua laju bertemu tanpa sempat saling memahami, besi beradu, kaca pecah, dan hidup… terlepas dari genggaman. Lima belas napas pulang lebih cepat, tanpa pamit yang utuh, tanpa kalimat terakhir yang sempat dirapikan. Puluhan lainnya tertinggal di antara luka, menggenggam nyeri seperti pertanyaan yang tak kunjung diberi jawaban. Ini salah siapa? Apakah takdir yang menulis terlalu tergesa, menggoreskan akhir pada halaman yang belum selesai dibaca? Ataukah tangan manusia yang lalai menjaga jeda, yang lupa bahwa kecepatan bisa berubah menjadi kehilangan? Barangkali kita terlalu sering menyebut “sudah kehendak-Nya” untuk menenangkan kegaduhan hati, padahal di sela-sela itu, ada keputusan-keputusan kecil yang kita abaikan— isyarat-isyarat yang tak dibaca, aturan y...