BERKACA PASCA HARI RAYA aku mencoba berjalan pulang ke dalam diri. dengan baju maaf yang masih berbau wangi doa, namun hati mulai kusut oleh debu kebiasaan lama. Takbir telah reda di setiap belahan langit, silaturahmi tinggal foto dan sisa hidangan tersisa, sementara janji suci pada-Nya perlahan tertunda kembali. Aku sempat merasa dilahirkan kembali, Laksana bening embun di ujung subuh, Dan Matahari pagi tak butuh waktu lama mengeringkannya. Wahai jiwa, apakah kemenangan itu sungguh engkau jaga, atau hanya kau rayakan sebentar, lalu kau lepaskan seperti balon harapan yang hilang di cakrawala ? @ Ma'ruf Abu Said Husein, Selasa, 24 Maret 2026.
CAWAN SYAHADAH SANG IMAM Di senja dua puluh delapan Februari Tahun ini, Di bumi Persia, di bawah langit merah dan gemuruh baja, engkau gugur di Medan laga, Sayyid Ali Khamenei, engkau laksana cahaya yang tak akan padam, Walau engkau telah berpulang dalam syahadah suci, Namun suaramu masih terus bergema di altar sejarah yang berguncang. Di tengah dentuman rudal setan yang menghantam, dan gemuruh pesawat siluman kiriman Dajjal, engkau meraih secawan syahadah dari Tuhan, Tepat di meja takdir yang telah terukir dari do'a, Setelah lebih dari enam puluh tahun usia, engkau persambahkan diri di jalan agama, Maka, darah syahadah menjadi saksi setia di jalan Allah Subhanahu wata'ala. Sungguh..... Engkau kini tak lagi sekadar nama, tetapi melodi perlawanan dari kedzaliman, yang menembus demarkasi negara, dan setelah engkau pergi tinggalkan dunia, namamu tetap menjadi legenda. Dalam benak ummat Islam di penjuru dunia, Mengalir air ma...