Tentang Sebuah Pilihan Hidup itu tentang pilihan. Dan aku tak memilih jalan yang paling riuh dalam kehidupan, atau panggung yang memanggil banyak tepuk tangan. Aku lebih memilih ruang sunyi, tempat ego dikubur sebelum cita-cita ditanam. Di medan jihad yang kupilih, musuh terberat bukan mereka yang di luar sana, melainkan bayang-bayang diriku sendiri yang kadang ingin dipuji atas setiap pengabdian. Hari demi hari, aku tak berhenti belajar memerdekakan jiwa, dari rantai ambisi, pujian, dan kepemilikan yang membuat lupa, Karena hati yang terikat dunia tak akan mampu terbang menuju langit keikhlasan. Aku biarkan peluh menjadi tasbih, air mata menjadi wudu bagi nurani, dan setiap langkah menjadi sujud panjang yang sering tak terlihat oleh mata Aku ingin mengabdi, bukan agar namaku dikenang zaman, tetapi agar Pemilik Semesta berkenan mengenalku sebagai hamba yang pulang dengan hati yang ringan. Sebab kemenangan terbesar anak manusia, bukan ketika dunia mengangkat derajatnya, mela...
Ziarah Nurani Ku rebahkan tubuhku di sebuah kursi tua, Mataku mulai mengeja lembar sejarah duka, tentang cucu nabi penghuni Surga, Al-Husein putera Mustafa, yang mengalami Syahid di tanggal sepuluh bulan mulia, "Arba'in" melintas di bulan Safar, sebuah tradisi ziarah nurani seorang hamba, Tradisi mengingat duka, menjelma menjadi cahaya. Karbala tak hanya ada di padang pasir nan jauh sana, Namun, ia sering bersemayam di setiap dada, yang memilih cinta dari kuasa. Aku teringat Rumi berkata, jalan menuju Tuhan seringkali melewati luka. Tetapi manusia lebih gemar menghias rantai yang membelenggu kaki mereka Ketahuilah kawan!, Kini pedang tak selalu berkilau. Seringkali ia bernama keserakahan, bermahkota jabatan, Bahkan seringkali bersorban kesalehan, namun meminum air mata dan keringat rakyat tanpa rasa kasihan. Arba'in bukan sekadar mengenang syahidnya Al-Husein di Karbala, melainkan membangunkan hati agar tak bersujud kepada singgasana, tak bersujud kepada hawa nafs...