SABDA SETAN Di waktu menjelang senja, aku teringat sebuah riwayat, bahwa Setan pernah berbisik di telinga manusia, mengajarkan dusta, menabur dengki, membujuk hati agar mencintai kuasa. Namun kini setan duduk termangu keheranan, menyaksikan aksi manusia dalam panggung politik dengan cara yang bahkan iblis pun tak sanggup menirunya. “Wahai manusia,” kata setan lirih, “Dulu akulah guru segala tipu daya, akulah penggoda jiwa yang alpa. Tetapi kinji, mengapa kalian begitu lihai berdusta, mengubah fitnah menjadi senjata, dan menyulap kebencian menjadi mahkota ?” Manusia tersenyum di balik podium, mengucap demokrasi dengan bibir berbusa, sementara di balik tirai kekuasaan, ia tak segan merancang kematian berderet nama, membunuh kehormatan tanpa sebilah pedang, dan memenggal martabat tanpa belas kasihan. Melalui media sosial kita, Fitnah diracik menjadi hidangan pagi, ghibah disajikan dalam pesta rahasia, kabar bohong disebar ke segala penjuru, hingga kebenaran kehilangan suara dan ...
Ilusi Keadilan Di atas meja kayu yang dingin, Ketok palu menggema lirih. Bukan menimbang benar atau salah, melainkan menakar siapa pemenang hari ini. Timbangan tua itu kini condong ke kanan, terjerat benang-benang kepentingan. Ayat-ayat hukum dilipat rapi, dijadikan alas duduk bagi mereka yang merasa punya kuasa. Dan merasa sebagai pemegang otoritas kebenaran untuk manusia. Rasionalisasi dihias manis di depan kamera, bahasa-bahasa rumit dipintal rapi mengudara, memoles kejahatan menjadi "demi kestabilan", " demi kebenaran", membungkus keserakahan atas nama "kemaslahatan", atas nama "keadilan". Pasal-pasal berganti wujud bagai topeng, tajam melukai siapa saja yang berbeda, namun tumpul dan elastis saat menyentuh selimut kekuasaan. Keadilan kini menjadi barang dagangan, dilelang di ruang-ruang gelap rapat politik. Sementara rakyat menyimak di balik jeruji ilusi, melihat kebenaran yang dipaksa mengalah pada narasi yang tela...