Atas Nama Rakyat Ada pelajaran dari tanah seberang, yaitu di tanah Afrika Selatan, seorang lelaki menari di hadapan rakyat, langkahnya ringan, senyumnya lebar, dan sorak massa menjelma menjadi tangga menuju kekuasaan. Ia datang membawa nama rakyat sebagai senjata, membungkus janji dengan slogan tentang kesejahteraan. Dalam kampanye politik ia berpidato lantang, akan ada makanan bagi rakyat yang lapar, Akan ada gizi tambahan bagi rakyat yang kekurangan, Akan ada koperasi rakyat untuk membangun kesejahteraan— seolah setiap pidatonya adalah roti, seolah setiap program adalah jalan menuju kondisi rakyat yang lebih sejahtera. Seiring berjalannya waktu, deretan fakta membuka topeng kekuasaannya, Rakyat mengerti, bahwa di balik jargon kepentingan rakyat, tumbuh jaringan kepentingan yang mengerikan, di balik pesta kebijakan, negara perlahan kehilangan arah untuk berjalan, Tetapi Istana sibuk mempertahankan kuasa, sementara rakyat menanggung harga dari tata kelola y...
SELAT HORMUZ DAN PENJAJAHAN BARU AMERIKA Di layar kaca aku menatap kabar pagi, Tentang Selat Hormuz yang pemiliknya akan berganti, Kedua mataku melesat melayang menuju Hormuz Dan aku pun bertanya kepada angin yang melintas di atasnya, sejak kapan laut menjadi wilayah tanpa hukum ? sejak kapan selat dapat dipindahkan, hanya dengan membunuh dan merampas atas nama perdamaian ? Sejak kapan wilayah dapat diambil paksa ?, Boleh digambar ulang dengan penjajahan— Adilkah Hormuz tiba-tiba berganti nama menjadi Amerika, seolah kedaulatan adalah kapur, yang boleh dihapus oleh tangan yang merasa paling kuat. Trump berkata: demi perdamaian. Tetapi, mengapa perdamaian datang bersama kapal perang, blokade, ancaman, bahkan klaim wilayah kekuasaan ? Bukankah damai yang lahir dari todongan hanyalah penjajahan. Mari renungkan merenung, Bolehkah hukum internasional berdiri di antara rudal-rudal penghancur dan pembunuhan membabi buta, serta berderet pelanggaran Hak asasi Manusia? Dan kedaulatan ...