SELAT HORMUZ DAN PENJAJAHAN BARU AMERIKA Di layar kaca aku menatap kabar pagi, Tentang Selat Hormuz yang pemiliknya akan berganti, Kedua mataku melesat melayang menuju Hormuz Dan aku pun bertanya kepada angin yang melintas di atasnya, sejak kapan laut menjadi wilayah tanpa hukum ? sejak kapan selat dapat dipindahkan, hanya dengan membunuh dan merampas atas nama perdamaian ? Sejak kapan wilayah dapat diambil paksa ?, Boleh digambar ulang dengan penjajahan— Adilkah Hormuz tiba-tiba berganti nama menjadi Amerika, seolah kedaulatan adalah kapur, yang boleh dihapus oleh tangan yang merasa paling kuat. Trump berkata: demi perdamaian. Tetapi, mengapa perdamaian datang bersama kapal perang, blokade, ancaman, bahkan klaim wilayah kekuasaan ? Bukankah damai yang lahir dari todongan hanyalah penjajahan. Mari renungkan merenung, Bolehkah hukum internasional berdiri di antara rudal-rudal penghancur dan pembunuhan membabi buta, serta berderet pelanggaran Hak asasi Manusia? Dan kedaulatan ...
Warisan Kenabian Di deretan nama-nama besar dalam sejarah, aku belajar bahwa kemuliaan tak selalu datang dengan baju kebesaran, kadang ia berjalan di lorong sunyi, mengenakan pakaian sederhana, dan menundukkan wajah di hadapan Tuhannya. Dalam berbagai literatur terpercaya, aku mencoba memandang Sayyid Mujtaba, aku melihat jejak kesahajaan melekat di wajahnya— sebuah warisan yang tak terlihat mewah, melainkan warisan jiwa penuh cahaya, Warisan dari ayah kepada anaknya, Warisan dari kakek kepada cucunya, dan warisan dari datuk kepada generasi penerusnya. Kesederhanaan yang bukan kemiskinan, melainkan kekayaan jiwa yang tak membutuhkan tepuk tangan dunia. Ia sangat mengerti, bahwa semakin tinggi pohon, semakin dalam akar harus menembus ke tanah tempat kehidupan bermula. Jika benar darah dan nasab adalah amanah, maka kemuliaan bukan sekadar menyebut silsilah, melainkan menjaga akhlak yang diwariskan Yaitu kelembutan, keberanian, kezuhudan, dan cinta kepada kebenaran, yang dinisb...