TANGIS NURANI BERSAMA LUKA LIMAPULUH SANTRIWATI Dibalik dinding Pondok pesantren, rintih dan Isak tangis sayup-sayup ku dengar, tentang kesucian yang terbakar, Pondok Pesantren..... yang mestinya dipenuhi lantunan ayat, entah mengapa ? langit mendadak muram— seolah sajadah pun kehilangan arah ketika kabar itu pecah dari sela tembok yang selama ini dianggap suci. Lima puluh santriwati, hadir membawa mimpi orang tua tercinta, ingin belajar menggenggam sabar, ingin memeluk Tuhan lebih dekat, ingin tumbuh dalam cahaya. Namun malam berubah menjadi lorong panjang yang menyimpan takut dan luka. Sungguh mengerikan, menakutkan, dan memprihatinkan, saat tangan yang mestinya menuntun, justru datang melukai, saat suara yang mengajarkan iman menjadi gema ancaman, dan nama agama dipakai untuk menutup tangis yang lembut tak terdengar. Orang-orang pun bertanya, mengapa mereka diam begitu lama ? Mungkin karena luka tak bisa langsung menjadi kata. Ada ...
PIDATO TUAN RAJA Di bawah langit Jakarta, riuh suara buruh menunggu pidato Tuan raja, dan berharap dapat mengubah nasib mereka, kata-kata disulam menjadi barisan, seperti buruh yang berharap ada regulasi perbaikan nasib mereka. Yang tak berhenti diperas keringatnya, oleh para kapitalis yang mati rasa. Hari itu, suara dilipat menjadi peringatan, dan Sang Tuan Raja berdiri di atas podium— bukan sekadar sebagai manusia, melainkan gema yang ingin diyakini sebagai pusat kuasa. Siang itu, dari bibir meluncur suara keras, dan bertanya,l, hampir seperti permainan di Bustanul Athfal kita, “Apakah MBG penting bagi rakyat ?” Pertanyaan itu melayang, menguji udara, mengukur seberapa patuh napas yang dihirup bersama. Lalu jawaban datang— serentak bikin geleng-geleng kepala, Dari ratusan mikropun terdengar “tidak.”, begitu jelas dan nyata. Seketika, waktu berhenti menjadi jam, dan berubah menjadi cermin. Apakah ini ujian ? Atau sekadar kebetulan yang telanjang? Apakah sensitivit...