*MIMPI KAUM PENGGEMBALA DOMBA* Malam terus bergerak menuju puncak Ku paksa tubuh untuk duduk membuang kantuk, Dan teringatlah aku pada sepotong fatwa, Bahwa tafakur itu jalan memperoleh cinta Sang Maha, Maka dalam duduk, Dengan kepala sedikit tertunduk, Tanpa berpamitan jiwa berkelana mengangkasa, Di situlah telinga jiwa mendengar bumi berbisik bahwa, "Tuhan tak pernah bersemayam di singgasana yang ditegakkan oleh luka, melainkan di hati yang rela menjadi alas bagi derita sesama." Lalu mataku pun melihat angin membawa seonggok berita, Bahwa, "Pasar iman" telah kembali dibuka, surat-surat penebusan dosa dijual dengan tinta kesalehan dan stempel kemuliaan. Bukankah ini sejarah yang berulang, dalam hati aku berkata, dahulu seorang biarawan memaku kegelisahannya pada pintu zaman, agar manusia berhenti memperdagangkan jalan menuju Tuhan ? Namun sejarah sering lupa, pada air mata yang pernah melahirkannya. Dan Kereta mewah tetap terus menjadi mimpi para penggembala domb...
BERSRLANCAR DI SAMUDERA CAHAYA Di samudra digital yang tak bertepi, kupasang layar pada angin sunyi. Ku kayuh jemari menembus gelombang cahaya, mencari mutiara, bukan riuh ombaknya. Di sebuah dermaga tak bernama, kutemui Rumi menjaga nyala. Ia tak mengajar dengan suara, melainkan dengan bunga yang mekar di dalam luka. Ia membisikkan ke telingaku, bahwa "Keindahan," , "lahir dari mata yang mencinta; Sedang cinta adalah jalan pulang, dan bukan sekadar sebuah tujuan." Sejak itu, ku pungut embun di setiap perjumpaan, karena semesta hanya membuka wajahnya bagi hati yang ikhlas dalam pengabdiannya. Maka kubiarkan jiwaku menjadi burung tanpa sangkar, terbang melampaui pagar-pagar prasangka. Di dunia digital kutemukan jalan menuju diriku sendiri: jiwa yang merdeka adalah jiwa yang mencinta dengan ikhlas untuk Tuhannya. @ Ma'ruf Abu Said Husein, di atas bumi Tuhan, 28 Juni 2026