Ibrah di Simpang Ghadir Di sebuah simpang sejarah, ketika debu padang pasir menjadi saksi, Dan Rasul menegakkan tangan Ali bin Abi Thalib , bukan untuk meninggikan seorang manusia di atas manusia lainnya, melainkan untuk menegakkan amanah di atas nafsu dan ambisi. Beliau bersabda, bahwa Ali di sisiku laksana Harun di sisi Musa , namun tiada nabi setelah Ku. Itulah isyarat tentang kedekatan, kesetiaan, dan tanggung jawab, bahwa kepemimpinan bukan mahkota kekuasaan, melainkan beban pengabdian. Dan di Ghadir yang agung, bergema pesan cinta yang melampaui zaman, “Barang siapa menjadikan aku pemimpin dan kekasihnya, maka jadikan Ali pemimpin dan kekasihnya.” Maka meneladani Ali bukan sekadar memuji namanya dalam syair, melainkan belajar berdiri tegak di hadapan ketidakadilan, Dan tetap rendah hati ketika berkuasa, dan tetap lembut meski memiliki kekuatan untuk memaksa. Ali mengajarkan bahwa ilmu lebih mulia daripada kemegahan, bahwa kebenaran tidak selalu bersama keramaian, dan b...
SELAMAT MEMPERINGATI LAHIRNYA PANCASILA KITA Hari ini, 1 Juni 2026, kita mengulang nama yang sama, mengeja lima sila dengan suara khidmat, mengibarkan bendera, mengangkat tangan ke dada, seolah seluruh negeri telah selesai mencintainya. Namun mestinya Pancasila tak hanya hidup dalam upacara. Ia mestinya hidup dalam keputusan, hidup dalam keberanian berlaku adil, hidup dalam kesediaan menghormati sesama, dan hidup dalam kesanggupan menahan diri dari kerakusan berkuasa. Aku melihat, ada yang aneh negeri kita. Sebagian orang memuji Pancasila di mimbar kehirmatan, namun mengkhianatinya di balik meja kerja. Mendendangkan persatuan, sambil menebar perpecahan. Mengagungkan keadilan, sambil merawat ketimpangan. Menjunjung kemanusiaan, sambil membiarkan sesama menangis dalam luka. Aku melihat tumbuhnya kepribadian ganda di tubuh kebangsaan kita, satu wajah tersenyum di depan lambang Burung Garuda, dan wajah lainnya diam-diam mencabuti bulu-bulu Garuda tanpa rasa. Pancasila dipuja sebagai semboy...