Langsung ke konten utama

Postingan

MALAM NISFU SYA'BAN (Oleh : Ma'ruf ASH)

 MALAM NISFU SYA'BAN Di pinggiran desa, Ku lihat Matahari perlahan tenggelam  Malam pun datang beriringan, langit mulai membuka lembaran takdir, Setiap nama dipanggil dalam sunyi, Dan doa berbaris rapi di hadapan Sang Maha Suci. Inilah malam utama, Nisfu Sya’ban hadir sebagai jeda bagi jiwa-jiwa yang letih dan terluka, mengajak menimbang setiap ama-amal kita, dan memulangkan duka  pada ampunan-Nya. Di antara sujud dan isak, kita belajar hidup bukan tentang panjang usia, tetapi seberapa sering berkunjung dengan taubatan nasuha.  @ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo 2 Februari 2026.
Postingan terbaru

Board of Peace dan Ujian Ideologis Politik Luar Negeri Indonesia (Oleh ; Ma'ruf Abu Said Husein, alimnus Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta)

 Board of Peace dan Ujian Ideologis Politik Luar Negeri Indonesia (Oleh ; Ma'ruf Abu Said Husein, alimnus Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta) Keputusan Indonesia bergabung dalam Board of Peace telah menuai polemik luas di tengah masyarakat. Di satu sisi, pemerintah menyebut langkah ini sebagai wujud politik luar negeri bebas dan aktif. Di sisi lain, publik mempertanyakan: apakah keputusan tersebut benar-benar sejalan dengan ideologi Pancasila? Pertanyaan ini penting, sebab bagi Indonesia, diplomasi bukan sekadar urusan geopolitik, melainkan perpanjangan nilai-nilai ideologis bangsa. Pertama, Sila ke-dua Pancasila, yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menegaskan keberpihakan Indonesia pada nilai kemanusiaan dan keadilan. Dalam konteks konflik Palestina, kemanusiaan tidak bisa dimaknai netral secara semu. Ia menuntut keberpihakan pada korban, penolakan terhadap penjajahan, dan penghormatan terhadap hukum internasional. Suatu hal yang wajar,  kekhawatiran publik muncul ketika Bo...

MORALITAS YANG TERLINDAS (By : Ma'ruf ASH)

MORALITAS YANG TERLINDAS Waktu menjelang senja, matahari tak sempat menutup wajahnya, Ku dengar kabar tentang perampokan, Tentang kebiadaban, tentang kebengisan yang dipertontonkan, Dan tentang seorang bocah enam tahun yang terkapar bersimbah darah,  Oleh kebiadaban iblis yang bertopeng manusia, Jerit yang telah pergi bukan sekadar suara, ia adalah lonceng nurani yang dipatahkan ditengah biadapnya kehidupan, saat harta lebih disembah daripada nyawa yang baru belajar mengeja doa. Moralitas tergeletak dan diinjak diantara puing-puing angkara, dan terlindas langkah-langkah serakah, Saat tangan dewasa berubah dingin, dan lupa bahwa anak-anak adalah titipan langit, bukan obyek pelampiasan kebodohan. Kebiadaban itu merenggut nyawa,  Dari bocah yang usianya masih seumur doa yang terbata, masih belajar menyebut nama ibu sebelum tidur, namun dunia mengajarinya arti takut tanpa sempat menjelaskan arti kehidupan. Bukan pisau lah yang paling melukai jiwa, melainkan moralitas yang gugur di...

LITANI POLITIK TANPA NALAR

 LITANI POLITIK TANPA NALAR Di altar bising bernama kebenaran, mereka bersujud tanpa bertanya, Ramai mencium dusta yang disucikan, dan menghafal amarah sebagai doa. Nalar disingkirkan dan dibuang,  tanpa sunyi dan malu, karena akal dianggap pengkhianat perjuangan. Yang lantang lebih dipercaya dari pada yang jujur dalam lirih. Pembohong dipuja seperti nabi, pembuat onar dielu sebagai pahlawan, sebab kebohongan yang ditebarkan dan diulang, lebih menenangkan dari pada kebenaran yang menuntut tanggung jawab. Aku bertanya pada nurani yang letih: kapan manusia kembali berani berpikir, dan menyebut kebenaran tanpa perlu membunuh karakter sesama, Tanpa fitnah dan caci diantara manusia. @Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 13 Januari 2026.

IMPERIALISME BARU DI VENEZUELA

 IMPERIALISME BARU DI VENEZUELA  Dengan dalih "Demi ketertiban dan keamanan dunia", Terorisme negara terus berjalan,  Imperialisme baru terus diluaskan, Dan kini, di negara bernama Venezuela, Seorang presiden diseret dari martabat bangsanya. Bukan hukum internasional yang berjalan, melainkan bayang imperium yang menuntut tunduk pada kekuasaan. Trump—nama itu telah menjelma menjadi palu, memukul retak meja kedaulatan lain dengan dalih ketertiban. Hukum internasional dipelintir menjadi peta perang untuk penjajahan,  untuk mengubur  Keadilan,  Maka kedaulatan setiap negara terancam untuk dikuburkan, Dan keadilan hanya diukur dari jarak kekuasaan. Venezuela. Ia bukan sekadar tentang tanah dan minyak, ia adalah kehendak rakyat yang berdaulat. Dan ketika satu negara menangkap kepala negara lainnya, Maka, retaklah janji dunia tentang kesetaraan negara,  Tentang adil dan damai, yang terukir dalam Piagam Perdamaian.  Imperialisme tak selalu datang dengan m...

RINTIK SENJA

 RINTIK SENJA  Di ambang senja, rintik cahaya jatuh perlahan, seperti doa yang tak ingin lekas selesai. Langit merunduk, mengeja warna— jingga, ungu, dan biru yang saling memaafkan, dan tak pernah memelihara dendam Angin mengantar sunyi ke telinga waktu, mengingatkanku, bahwa segala yang datang akan pulang. Daun-daun yang diam, batu-batu selalu siap bersaksi, bahwa hening pun punya suara. Di sela napas yang kupelajari ulang, aku membaca namamu tanpa huruf. Engkau hadir dalam jarak antara detik, di titik kecil tempat rasa berserah. Rintik senja menetes membasahi hati, membasuh debu sombong yang tak kusadari. aku terasa kecil—dan justru, di sanalah luas terbuka keagungan-Mu pun terlihat menjelma dalam sederhana. Maka biarlah hari  menutup tirai dengan senja, dan aku pun menutup mata dengan syukur yang jujur. Karena di setiap senja yang memudar, Pasti, ada terang yang tak pernah benar-benar pergi @ Ma`ruf Abu Said Husein, Simo, 3 Januari 2026

SESUDAH TURUN TAHTA

 *SESUDAH TURUN TAHTA* Di tanah yang ingatannya panjang, dan benih tata Krama hampir hilang, nama-nama pemimpin jatuh Laksana daun musim kemarau, Ia kering oleh waktu, retak oleh kata-kata tanpa jiwa. Ketika kuasa masih melekat di bahu raja, Mereka menaruh harap seperti dupa, asapnya naik, bersama harapan yang membumbung ke angkasa, Namun saat tahta telah habis waktunya, Mereka menurunkan pula penghormatan atas mantan raja, mengganti harapan dengan segudang caci dan tuduhan,  bahkan bergudang fitnah tentang tindak kejahatan,  Mereka mengganti sejarah dengan amarah. Kadang aku bertanya, adakah bangsakaku telah hilang tata Krama ? Waktu terus melaju, generasi berganti generasi berikutnya, namun lidah masih mewarisi luka yang sama. Mereka menghakimi dari bangku yang aman, membaca masa lalu dengan mata hari ini, seolah keputusan kemarin tak pernah lahir dari kabut zaman. Ada kebenaran yang layak dibongkar, ada salah yang patut diadili— tetapi sering mereka  lupa bertanya...

MUHASABAH MALAM

 MUHASABAH MALAM Di ujung kalender kita berdiri tanpa kembang api memancar di angkasa,  Tanpa gempita petasan di udara,  Tetapi sekedar jeda  panjang antara doa dan duka,  Sebagaimana himbauan Bupati Boyolali,  Untuk hidupkan empati Desember tahun ini,  Hujan turun lebih lama dari biasanya, sungai meluap melampaui ingatan, rumah-rumah hanyut bersama jadwal hidup yang tertunda. Dan berjuta telinga tak mendengar letih bumi menegur kita dengan tanpa kata, Di sebagian barat  Nusantara air naik sampai ke dada sejarah, banjir bukan sekedar menenggelamkan, dan merendam beratus-ratus desa, tetapi juga perasaan yang tersimpan lama. Di Aceh, air menenggelamkan ribuan rumah, sementara kata-kata keras beredar lebih deras dari arus banjir yang tenggelam kan kota. Kata tentang luka lama yang kembali dibuka, tentang sebagian suara yang ingin berjalan sendiri,  saat yang lain masih berjuang menyelamatkan anak-anak, para wanita, dari dingin malam yang menceka...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

CERMIN JIWA

 CERMIN JIWA Tuhan....... Terimakasih aku ucapkan  Atas anugerah cermin jiwa, bernama kata-kata. Ia adalah tempat setiap diri berkaca Ia adalah tempat setiap kita membaca jiwa-jiwa. Dalam setiap kata yang meluncur, terdapat jejak jiwa yang tak terlihat oleh mata. Bahasa bukan sekadar bunyi lisan anak manusia, melainkan cermin jernih yang memantulkan warna,  Memantulkan bentuk dan kondisi jiwa Tuhan ........ Terimakasih aku ucapkan Atas anugerah agama dengan ruh tata Krama, sebagaimana dalam firman suci dan sabda nabi. Ia berdiri sebagai penjaga sunyi, Yang tampil dalam setiap kata, dan gerak raga. Kata dapat menjadi obat atas luka, atau justru menggores  luka yang sembuhnya butuh waktu yang lama. Maka, setiap kalimat memerlukan kebijaksanaan, agar tak menebar bara dalam percakapan. Berbahasalah kita seperti menyalakan lentera— menuntun dengan cahaya, bukan membakar dan menghancurkan,  Sebab, dalam dunia yang penuh gema, suara paling luhur adalah kata yang penuh ...

MEMBACA JEJAK-JEJAK TUHAN

 MEMBACA JEJAK-JEJAK TUHAN Di antara hela napas di ujung malam, ketika cahaya masih berjuang mencari makna, aku menunduk diam pada sunyi, dan menemukan jejak-jejak Tuhan tersembunyi. Ia ada di balik setiap fenomena, Ia pun tersembunyi di dalam firman suci-Nya dalam setiap jalinan kata. Ia adalah getar halus pada daun yang memilih jatuh perlahan, Pada keagungan asmaNya yang bersemayam dalam istana jiwa, sebagai pelita Penuntun jalan kembali ke haribaan Sang Maha.  Jejak-jejak Keagungan-Nya hadir dalam bisikan tanpa suara, melintasi gurun resah dalam dada— yang mengajarkan bahwa setiap peristiwa  adalah pintu menuju pemahaman tentang keagungan Nya, dan setiap sedih maupun gembira  adalah jendela kecil menuju cahaya. Dalam diam, Aku terus berjalan menyusuri lorong-lorong malam yang sunyi, menyusuri jejak yang tak memaksa, jejak yang mengajakku mengingat bahwa hidup bukan sekadar datang dan pergi, melainkan perjalanan sunyi untuk menemukan siapa yang selalu menemani kita...

DI BALIK HINGAR BINGAR PERINGATAN HARI GURU NASIONAL

DI BALIK HINGAR BINGAR PERINGATAN HARI GURU NASIONAL Di balik gegap gempita ucapan “Selamat Hari Guru Nasional”, Yang terpampang di depan setiap Gedung sekolah kita Di setiap story media sosial guru dan siswa Indonesia  Ada suara lirih yang nyaris tenggelam di antara spanduk dan seremoni, suara lirih guru-guru swasta, yang menderita ketidak adilan, dalam usia yang teramat panjang,  Sebuah ketidakadilan yang menindih,  Tentang kebijakan "yang pilih kasih". Puluhan ribu hati berdetak pelan, menyembunyikan lelah yang panjang, dari gaji yang tak cukup menghidupinya dalam sepekan. Namun setiap pagi, mereka sigap membuka pintu kelas dengan tersenyum bangga, seolah luka di dada hanyalah embun yang sebentar lagi hilang tersapu oleh Sang Surya. Betapa teguh tangan-tangan kecil itu, mengukir masa depan bangsa tanpa ragu, meski mereka sendiri masih harus berperang melawan kekurangan  yang tak kunjung usai. Ketekunan mereka adalah nyala kecil yang menolak padam di tengah ketimpa...

IRONI HUKUM KITA

 IRONI HUKUM KITA (Sebuah refleksi vonis hukuman untuk Ira Puspa Dewi) Di negeri yang suka menuduh bayang-bayang, kebenaran sering datang terlambat— kadang diseret, kadang dipaksa diam di pojok ruangan yang lampunya sengaja diredupkan. Ira Puspadewi, namamu kini melayang-layang di antara bisik-bisik yang tak pernah tuntas, sementara tangan hukum sibuk menudingkan jari, tapi lupa menggenggam bukti. Begitu murah tuduhan hukum di Republik kita, laksana barang bekas  "pasar loak" dipinggiran kota. Namun, begitu mahal harga keadilan. Seolah-olah kecurigaan lebih suci daripada fakta. Maka, dalam hati yang lelah, kita pun bertanya ? jika hukum lahir dari prasangka, lalu siapa sebenarnya yang layak dihukum ? Orang jujur, atau koruptor perusak negara? Di balik senyum sindiran yang getir, kita belajar satu hal yang menyesakkan dada: bahwa sering kali tersaji, yang dihukum bukan kesalahan— tapi keberanian seseorang untuk tetap jujur di tengah panggung yang ingin ia tunduk. Dan kita hany...

AKAL DAN DOGMA

AKAL DAN DOGMA Masih Aku saksikan mimbar-mimbar khurafat banyak dipuja. Tempat tahayul mengusir nalar ummat beragama Dengan kesalehan fiksi, di luar logika yang terbungkus "kesucian yang dipaksakan". Ada hati yang bersandar penuh pasrah, mengira takdir adalah rantai yang membelenggu langkah. Ia berhenti dan enggan untuk bertanya,  karena takut dianggap kurangnya iman di dada. Maka, Pelan-pelan, cahaya nalar menjadi  redup, seperti lentera yang kehabisan minyak— bukan karena tak mampu menyala, tapi karena sengaja dibiarkan padam, Oleh dan atas nama kepatuhan yang salah jalan. Di sanalah kejumudan tumbuh melebar, Dan, akal pun semakin jauh dari mimbar keilmuan, budaya kehilangan detak, tak lagi bergetar, Maka manusia pun kembali menjadi bayang dirinya sendiri, takut untuk bergerak, Dan takut untuk berubah. Padahal, dalam Kitab tertulis nyata,  Bahwa Tuhan kita  memanggil dengan lembut: “Lihatlah, renungkanlah, pahamilah.” Namun, suara itu tenggelam oleh gemuruh dogma t...

SELAMAT MILAD MATAHARI BANGSA

 SELAMAT MILAD MATAHARI BANGSA Muhammadiyah.... Di seratus tiga belas tahun usia, Engkau ingatkan kami untuk menundukkan hati— mendengar kembali gema langkah para perintis bangsa, yang telah menyalakan cahaya di tengah zaman yang kusam.  Dan untuk kembali membaca zaman kita yang sedang berjalan  Yaitu, zaman ketika fitnah politik tak berhenti mengudara seperti debu yang menyesakkan dada kita, Zaman ketika mafia hukum berjalan tanpa malu, dan zaman ketika moralitas dijual murah di pasar gelap kepentingan, kita pun bertanya pada diri: masihkah cahaya itu tetap menyala? Masihkah kompas iman, dan ideologi Pancasila menuntun arah kita,  di antara ributnya egoisme kepentingan yang tak punya malu untuk menggema Dalam hening, kudengar samar-samar,  mengalun lembut di balik riuh dan luka, Tentang suara lembut yang tak pernah padam— suara pengabdian yang lahir dari niat ikhlas untuk kemajuan, dan pengabdian untuk Tuhan, Suara yang mengajak manusia untuk merawat sesama tan...

PAHLAWAN DARI LUWU

Di tanah Luwu, angin membawa kabar lirih, tentang dua jiwa yang tak menunduk di hadapan kenyataan getir. Abdul Muis dan Rasnal melawan ketertindasan. Mereka membela saudara-saudaranya yang tertindas oleh administrasi tanpa nurani. Sepuluh bulan mengabdi tanpa gaji. Namun, sayang justeru berujung dipenjara dalam jeruji Mereka berdua bukan pencuri, bukan pengkhianat negeri, mereka hanya menggenggam nurani—dan bertanya: “Mengapa saudaraku yang berjuang untuk bangsa tak diberi upahnya oleh negara ?” Apakah bertanya kini dosa ? Apakah membela kebenaran kini kejahatan? Negara diam, hukum menutup mata, sementara keadilan bersembunyi di balik meja birokrasi yang dingin tanpa denyut nurani. Sepuluh bulan pengabdian tanpa bayaran— bukan sekadar angka, tapi luka yang panjang. Dan dua pahlawan itu menanggungnya, karena keberanian justeru dihukum dalam penjara, Mereka dipenjara bukan karena salah, tapi karena benar di waktu yang salah. Jeruji besi bukan penjara bagi tubuh mereka, mela...

RUMAH TUHAN YANG TAK TEDUH LAGI

 “RUMAH TUHAN YANG TAK TEDUH LAGI” (Refleksi Penganiayaan di Masjid Agung Sibolga) Di bawah kubah yang mestinya teduh, seorang mahasiswa pergi ke kota, menenteng sisa mimpi dengan sisa sepuluh ribu rupiah di kantong celananya. Ia tak membawa apa pun—hanya segumpal harapan, dan sepotong iman yang ingin ia jaga dari kerasnya jalan-jalan  kota. Malam itu, Masjid Agung Sibolga terbuka baginya, sebagai rumah terakhir di antara dingin dan lapar. Ia berbaring di lantai sujud, menyandarkan lelah pada asma Tuhan yang terukir indah di dinding mihrab. Namun, fajar tak pernah datang seperti biasa. Ia tak lagi terbangun oleh adzan, melainkan oleh tangan-tangan yang menolak kasih, dan suara yang lebih tajam dari pedang prasangka. Sungguh mataku mendadak berkaca-kaca Saat di layar kaca, aku membaca kisahnya— tinta berita menggantikan darah yang telah kering. Hatiku bertanya pada langit, adakah itu masih rumah Tuhan? Ataukah kini menjadi istana baru tempat berhala egoisme dan kesalehan palsu ...

SUARA YANG TERPINGGIRKAN

 *SUARA YANG TERPINGGIRKAN* +Sebuah refleksi demonstrasi Guru Madrasah swasta Indonesia) Di bawah langit Jakarta yang gerah, ribuan langkah puluhan ribu guru Madrasah swasta menyatu dalam doa dan luka. Mereka hadir membawa papan harapan, bukan batu, bukan pula  amarah, dan represif yang diluapkan— Mereka hanya membawa lembar keyakinan bahwa hak dan kewajiban semestinya adil bagi semua. Sejak proklamasi dikumandangkan, Sebagian besar mereka berdiri di ruang-ruang sempit mengajar anak bangsa dengan gaji sebulan yang tak cukup untuk makan dalam sepekan  Sedih rasanya- dengan senyum yang menutupi lapar, dan dengan ikhlas yang mereka jaga,  Ternyata dijadikan hujjah penguasa untuk menunda keadilan. Tuan-tuan pemangku kebijakan, Melalui mimbar Maya aku katakan bahwa, Mereka bukanlah pengemis kebijakan, mereka pewaris cita-cita luhur kemerdekaan. Namun negara seperti ayah yang lupa, bahwa di sudut madrasah yang reyot itu,  mereka tetap ikhlas menyuapi anak-anak bangsa ...

MENGAMBIL HIKMAH DARI LUKA SEJARAH

 MENGAMBIL HIKMAH DARI SEJARAH  Dalam gelap dan pekatnya sejarah, darah pernah menetes, tangis bangsa pecah di malam-malam kelam, sebuah luka menggores dalam dada ibu pertiwi kita, menyisakan jejak getir yang tak boleh dilupa. Bukan untuk menumbuhkan benci kita mengenang, melainkan untuk menimba hikmah dari luka sejarah, agar waspada terjaga di relung jiwa anak-anak Bangsa, dan persatuan tetap tegak di atas perbedaan. Sejarah adalah guru yang bersuara lirih, ia berkata: jangan lengah, jangan terpecah, sebab bangsa besar tumbang bukan oleh musuh di jauh sana, melainkan dari retak di dalam rumahnya sendiri. Kawan, maka mari kita genggam luka itu dengan doa, kita jadikan bara menjadi pelita, agar cinta kepada republik ini tak berhenti menyala, mengikat anak-anak bangsa dalam satu nadi: Indonesia merdeka,  Dan terus menjadi semakin berjaya.  @ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 30 September 2025, dini hari.