Langsung ke konten utama

Postingan

NYALA IBU-IBU PERADABAN (By: Ma'ruf Abu Said Husein)

  NYALA IBU-IBU PERADABAN  Selamat Milad ke-109 untuk Aisyiyah — rahim panjang yang melahirkan cahaya di lorong zaman yang seringkali luka, dan kehilangan arah akan kemana. Dari tangan-tangan lembutmu, dakwah tidak tumbuh sebagai amarah, melainkan sebagai embun, yang jatuh perlahan di ladang-ladang luka. Engkau mengajarkan bahwa iman bukan sekadar suara di mimbar-mimbar, tetapi keberanian merawat kehidupan, menjaga anak-anak dari lapar, mengusap air mata kaum papa, dan menyalakan harapan di dada manusia yang hampir putus asa. Seratus sembilan tahun lamanya, engkau berjalan bersama sejarah— melewati perang, melewati kebencian, melewati dunia yang semakin gaduh oleh perebutan kekuasaan. Namun engkau tetap memilih menjadi ibu bagi kedamaian, ibu bagi kemanusiaan. Di saat banyak orang membangun benteng perbedaan, engkau meletakkan jembatan kasih sayang. Di saat manusia sibuk menyalakan api permusuhan, engkau datang membawa air perdamaian. Di tahun ini, citamu “Memperkokoh dakwah k...
Postingan terbaru

TANGIS NURANI BERSAMA LUKA LIMAPULUH SANTRIWATI (by: Ma'ruf Abu Said Husein)

TANGIS NURANI  BERSAMA LUKA LIMAPULUH SANTRIWATI Dibalik dinding Pondok pesantren, rintih dan Isak tangis sayup-sayup ku dengar, tentang kesucian yang terbakar,  Pondok Pesantren..... yang mestinya dipenuhi lantunan ayat, entah mengapa ? langit mendadak muram— seolah sajadah pun kehilangan arah ketika kabar itu pecah dari sela tembok yang selama ini dianggap suci. Lima puluh santriwati, hadir membawa mimpi orang tua tercinta, ingin belajar menggenggam sabar, ingin memeluk Tuhan lebih dekat, ingin tumbuh dalam cahaya. Namun malam berubah menjadi lorong panjang yang menyimpan takut dan luka. Sungguh mengerikan, menakutkan, dan memprihatinkan,  saat tangan yang mestinya menuntun,  justru datang  melukai, saat suara yang mengajarkan iman menjadi gema ancaman, dan nama agama dipakai untuk menutup tangis yang lembut tak terdengar. Orang-orang pun bertanya, mengapa mereka diam begitu lama ? Mungkin karena luka tak bisa langsung menjadi kata. Ada ...

PIDATO TUAN RAJA (By: Ma'ruf Abu Said Husein)

PIDATO TUAN RAJA Di bawah langit Jakarta, riuh suara buruh menunggu pidato Tuan raja, dan berharap dapat mengubah nasib mereka, kata-kata disulam menjadi barisan, seperti buruh yang berharap ada regulasi perbaikan nasib mereka. Yang tak berhenti diperas keringatnya, oleh para kapitalis yang mati rasa. Hari itu, suara dilipat menjadi peringatan, dan Sang Tuan Raja berdiri di atas podium— bukan sekadar sebagai manusia, melainkan gema yang ingin diyakini sebagai pusat kuasa. Siang itu, dari bibir meluncur suara keras, dan bertanya,l, hampir seperti permainan di Bustanul Athfal kita,  “Apakah MBG penting bagi rakyat ?” Pertanyaan itu melayang, menguji udara, mengukur seberapa patuh napas yang dihirup bersama. Lalu jawaban datang— serentak bikin geleng-geleng kepala, Dari ratusan mikropun terdengar “tidak.”, begitu jelas dan nyata. Seketika, waktu berhenti menjadi jam, dan berubah menjadi cermin. Apakah ini ujian ? Atau sekadar kebetulan yang telanjang? Apakah sensitivit...

MENGINGAT HARI BERSEJARAH DI HALAMAN MADRASAH (By: Ma'ruf Abu Said Husein)

MENGINGAT HARI BERSEJARAH DI HALAMAN MADRASAH Di halaman madrasah kita, waktu turut terus  berjalan, dan tanggal pun datang tanpa gaduh— seperti kapur yang pelan-pelan habis di ujung jari, meninggalkan debu yang tak pernah tercatat. Hari ini, 2 Mei 2026 disebut Hari peringatan, tapi, siapa yang sungguh mengingat ? tentang langkah-langkah kecil di ruang-ruang kelas yang sempit, yang lantainya telah retak, yang atapnya tak bosan menahan hujan dengan doa ? Di sana, guru-guru berdiri bukan hanya untuk mengajar huruf, melainkan untuk menambal harapan yang kerap robek oleh kenyataan. Mereka tak tercetak di baliho, tak disebut dalam pidato panjang, namun suara mereka menetap di kepala anak-anak yang belum mengerti,  betapa mahalnya sebuah kesempatan. Madrasahku memang terlihat sederhana— seperti hidup yang dijalani tanpa banyak pilihan. Buku-buku lama diwariskan seperti nasib, dan papan tulis menjadi saksi bahwa ilmu tak pernah hadir tanpa dicari. Guru-guru berangkat pagi dan pulang...