Cinta Yang Tak Lagi Bertanya Aku pernah berjalan siang dan malam untuk mencari cinta, di antara tumpukan kitab-kitab dan kata-kata, mencari dalil atau hujjah untuk setiap langkah, mencari alasan mengapa kita harus mencintai Muhammad al-Mustafa Di suatu malam aku berjumpa kepada angin, Ia berbisik lirih di telinga sunyi: “Jika engkau telah menemukan mata air, mengapa masih bertanya, apakah kita boleh minum saat dahaga ?” Maka aku pun termenung dan diam. Sebab cinta kepada Muhammad bukan lagi pertanyaan tentang boleh dan tidak, bukan pula sekedar perdebatan tentang dalil dan kata. Ia adalah cahaya, yang ketika masuk ke dada, membuat tangan enggan untuk menyakiti, lidah malu untuk melukai, dan hati tak tega untuk membenci. Aku mencoba terus melintas, dari dunia bentuk menuju dunia makna. Tempat selawat bukan lagi sekadar suara, melainkan denyut yang mengubah perilaku seorang hamba, sunnah nabi bukan sekadar kata yang dihafal, dan disimpan di kepala melainkan sebuah jalan yang perlaha...
Nyanyian Kerinduan Aku duduk terpaku di pinggiran malam, menjadi debu yang hening di hadapan Sang Angin. Dunia meredup, namun dari jauh, pintu-pintu rahasia mendadak terkuak. Dengarlah! Napas-napas Al-Barjanji beterbangan dari kubah masjid, dari mihrab surau, dari sudut-sudut mushola, saling menyapa bagai burung-burung surgawi yang mabuk oleh cinta. Bukan sekadar suara yang sampai ke telingaku, melainkan wewangian dari Kota Cahaya yang menyusup ke dalam dada. Dada ini bergetar, pecah menjadi ribuan cermin, memantulkan kerinduan pada Muhammad al-Mustafa, Ia adalah Jiwa dari Segala Jiwa. Wahai Sang Pembawa Terang, aku mengerti bahwa engkau sedang berjalan di sudut-sudut bumi ? Dan malam ini, di tepi kesunyian , namamu menjelma menjadi anggur penyejuk jiwa, tempat hati menemukan arah untuk kembali. Maka, izinkan aku hanyut dalam gema shalawat, agar aku bisa menyatu bersama tarian cinta di hari kelahiran-Mu. Untuk hancurkan berhala ego di dada, Laksana Ibrahim menghancurkan patu...