Kekacauan Desil Kita dan Hak Kaum Tertindas Yang Terampas Di atas kertas, negara menyusun rakyatnya dalam angka-angka yang tampak tertib—desil pertama, kedua, kesepuluh, seolah hidup dapat diukur seperti garis pada penggaris. Namun di lorong yang tak tercatat, ada perut yang belajar menahan lapar, ada tangan yang bekerja sejak fajar tetapi pulang membawa kekhawatiran pada hari-hari mereka. Kita menyebutnya data, lalu lupa bahwa di balik angka ada nama, ada wajah, ada ibu yang menunggu, ada anak yang bertanya mengapa kesempatan selalu datang ke alamat yang sama. Saat kita melihat pembagian desil keliru, jangan salahkan mereka yang jatuh di antara tabel. Barangkali yang kacau bukan rakyatnya, melainkan cara negara membaca kehidupan rakyat nya. Kawan, kita mengerti, bahwa Hak bukanlah hadiah yang turun dari meja kekuasaan. Ia bukan pula belas kasihan, yang diberikan ketika keadaan sudah terlalu gaduh. Hak adalah pintu yang semestinya terbuka bagi setiap rakyat Indonesia— ...
Ketika Adab Dijadikan Tameng Kejahatan Malam ini ku putar kembali dialog di layar kaca, Ku dengar Roky berkata dengan dengan yakin dan percaya. “Jangan hukum mati koruptor, sebab itu bertentangan dengan adab manusia.” Aku pun bertanya dalam hati : adab kepada siapa yang sedang kita bela— kepada pelaku, atau kepada jutaan korban yang kehilangan haknya? Bukankah korupsi bukan sekadar mengambil harta, tetapi mencuri masa depan anak-anak Bangsa, memadamkan api untuk sekolah dari anak-anak miskin, menutup pintu obat bagi setiap yang sakit, dan membuat rakyat belajar. bahwa kejujuran kadang kalah oleh harga sebuah jabatan ? Janganlah kita terlalu cepat menyebut hukuman sebagai kezaliman, sementara kezaliman yang telah berlangsung panjang. justeru di bungkus dengan kata prosedur , Dan di hidangkan dengan senyum kekuasaan, lalu mereka sebut sebagai adab kehidupan, wahai hati, jangan biarkan keadilan berubah menjadi dendam. Sebab hukum bukan tempat melampiaskan amarah manusia, ...