HYPHOCRISY Di dinding-dinding megah demokrasi, kata-kata suci dipahat dengan emas, namun lorong-lorongnya dipenuhi gema nurani yang dikebiri dengan intimidasi. Kekuasaan seringkali pandai mengeja integritas, tetapi gagap ketika kejujuran mengetuk nurani, Lidah kuasa telah menjadi mimbar kebajikan, berbaur dengan tamak dan keserakahan, Dan dalam gelap tangan mereka diam-diam merawat kepentingan. Aturan dibuat sebagai kitab mulia, namun hanya tajam bagi yang tak punya kuasa, dan tak mampu menjilat kaki Tuan raja, Betapa mahal harga sebuah topeng di negeri kita. Harus dibeli dengan tepuk tangan kepalsuan, dipoles oleh kepura-puraan pujian, lalu diwariskan sebagai budaya yang mencengkeram nurani bangsa. Begitulah mental hypocrisy bekerja, ia tidak selalu berteriak, melainkan tersenyum sopan, menyalami semua orang, sambil perlahan mematikan nurani Kemanusiaan, Kita harus mengerti, bahwa institusi tak pernah runtuh hanya karena serangan dari luar sana, Tetapi, lebih dulu retak da...
Tentang Uang Kita Kawan, tahukah engkau, bahwa di dalam ruang sunyi dari setiap kita, uang tak pernah benar-benar berbicara. Seringkali yang berbicara justru ketakutan, harapan,dan kenangan masa kecil yang diam-diam mengajari kita mencintai atau membenci kelimpahan maupun kekurangan. Kita sering diajari mengejar angka, seolah setiap nol yang bertambah mampu mengisi lubang rongga dada. Padahal kita mengerti, bahwa yang lapar bukan dompet kita, melainkan jiwa yang lupa mengenal kata cukup . Tahukah engkau, bahwa terdapat kaum kaya yang hidup dalam sorak kemewahan, namun miskin saat malam memeluk sepi. Ada pula mereka yang sederhana dalam penampilan, tetapi menyimpan kemerdekaan di balik kesabaran yang tak pernah dipamerkan. Kawan, kita harus mengerti , bahwa waktu adalah investor paling setia dalam hidup manusia. Ia tak berteriak di pasar, tak berebut tepuk tangan merebut puja, namun perlahan menumbuhkan benih untuk mereka yang percaya pada kejujuran dan ketekunan dalam sepi. Kawan, mari...