RETAKNYA TOPENG KESALEHAN Sering kita mendengar ceramah dengan suara bergetar, ayat-ayat menetes dari janggut yang rimbun seperti hujan yang tampak suci. Bersama janggut yang rimbun, dengan lisan fasih mengutip sabar, mata menunduk seolah dunia hanya debu di ujung sajadah. Tetapi di balik lipatan jubah, ada angka-angka tersembunyi, ada rupiah yang disulap dengan doa, ada air mata jamaah yang diperas pelan-pelan atas nama Ka'bah dan pahala. Ia berkhotbah tentang ikhlas, sementara koper-koper penuh menyimpan ongkos orang-orang tua yang menjual sawah mereka, Yang menggadai gelang yang dicinta, menunggu giliran ke tanah suci dengan napas yang kian renta. Betapa mudah kesalehan dicipta Dipoles dengan janggut, sorban, suara lirih, seolah takwa dapat dijahit dan dilukis pada kain putih dengan gelar ustadz dan sorban di kepala. Bukankah Tuhan tak pernah silau oleh dahi yang hitam, tak pernah tertipu oleh fasihnya dalil yang diperdagangkan Kini retaklah topeng itu kesalehan Pecah di hadapa...
BERKACA PASCA HARI RAYA aku mencoba berjalan pulang ke dalam diri. dengan baju maaf yang masih berbau wangi doa, namun hati mulai kusut oleh debu kebiasaan lama. Takbir telah reda di setiap belahan langit, silaturahmi tinggal foto dan sisa hidangan tersisa, sementara janji suci pada-Nya perlahan tertunda kembali. Aku sempat merasa dilahirkan kembali, Laksana bening embun di ujung subuh, Dan Matahari pagi tak butuh waktu lama mengeringkannya. Wahai jiwa, apakah kemenangan itu sungguh engkau jaga, atau hanya kau rayakan sebentar, lalu kau lepaskan seperti balon harapan yang hilang di cakrawala ? @ Ma'ruf Abu Said Husein, Selasa, 24 Maret 2026.