Langsung ke konten utama

Postingan

Takdir Kehidupan ? ( By: Ma'ruf Abu Said Husein)

  Takdir Kehidupan  Di kesunyian malam aku mulai mengeja fakta, tentang kemiskinan dari ratusan juta raga yang jauh dari kemalasan, yang lebih dari separoh waktu hidupnya habis untuk bekerja. Mereka bekerja dibawah kejamnya "gedung industri", dan mereka yang di bawah terik panas Matahari, serta mereka yang bekerja dalam kebisingan jalan raya, maupun di pusat perbelanjaan, yang pegawainya berada di pinggir kesejahteraan,  Aku melihat kemiskinan telah berdiri paling lama di antrean sejarah. Ia tak pernah diundang resmi ke ruang rapat para pejabat, tapi hanya dipinjam namanya untuk perjuangan yang dipalsukan, untuk para hipokrit di panggung kekuasaan.  Entah mengapa ? Aku tak rela orang berkata berkata, bahwa kemiskinan adalah  "takdir semesta." Dan hati kecilku aku bertanya, adakah mungkin, ini Takdir Semesta ? Benarkah Tuhan telah menulis lapar di dahi para buruh yang sejak fajar telah menjahit siang dengan peluh, namun pulang membawa kantong yang lebih ringan da...
Postingan terbaru

HYPHOCRISY (by: Ma'ruf Abu Said Husein)

 HYPHOCRISY Di dinding-dinding megah demokrasi, kata-kata suci dipahat dengan emas, namun lorong-lorongnya dipenuhi gema nurani yang dikebiri dengan intimidasi. Kekuasaan seringkali pandai mengeja integritas, tetapi gagap ketika kejujuran mengetuk nurani, Lidah kuasa telah menjadi mimbar kebajikan, berbaur dengan tamak dan keserakahan, Dan dalam gelap tangan mereka diam-diam merawat kepentingan. Aturan dibuat sebagai kitab mulia, namun hanya tajam bagi yang tak punya kuasa, dan tak mampu menjilat kaki Tuan  raja, Betapa mahal harga sebuah topeng di negeri kita. Harus dibeli dengan tepuk tangan kepalsuan, dipoles oleh kepura-puraan pujian, lalu diwariskan sebagai budaya yang mencengkeram nurani bangsa. Begitulah mental hypocrisy bekerja, ia tidak selalu berteriak, melainkan tersenyum sopan, menyalami semua orang, sambil perlahan mematikan nurani Kemanusiaan, Kita harus mengerti, bahwa institusi tak pernah runtuh hanya karena serangan dari luar sana, Tetapi, lebih dulu retak da...

Tentang Uang Kita (by: Ma'ruf Abu Said Husein)

Tentang Uang Kita Kawan, tahukah engkau, bahwa di dalam ruang sunyi dari setiap kita, uang tak pernah benar-benar berbicara. Seringkali yang berbicara justru ketakutan, harapan,dan kenangan masa kecil yang diam-diam mengajari kita mencintai atau membenci kelimpahan maupun kekurangan. Kita sering diajari mengejar angka, seolah setiap nol yang bertambah mampu mengisi lubang rongga dada. Padahal kita mengerti, bahwa yang lapar bukan dompet kita, melainkan jiwa yang lupa mengenal kata cukup . Tahukah engkau, bahwa terdapat kaum kaya yang hidup dalam sorak kemewahan, namun miskin saat malam memeluk sepi. Ada pula mereka yang sederhana dalam penampilan, tetapi menyimpan kemerdekaan di balik kesabaran yang tak pernah dipamerkan. Kawan, kita harus mengerti , bahwa waktu adalah investor paling setia dalam hidup manusia. Ia tak berteriak di pasar, tak berebut tepuk tangan merebut puja, namun perlahan menumbuhkan benih untuk mereka yang percaya pada kejujuran dan ketekunan dalam sepi. Kawan, mari...

"Londo Ireng" (by: Ma'ruf Abu Said Husein)

  "Londo Ireng" Londo Ireng, siapakah mereka ? Mereka tak datang dengan meriam, tak pula mengibarkan panji negeri seberang. Mereka hadir dengan jas yang rapi, Mereka berpidato tentang kemajuan negeri, Dan mereka tersenyum yang dibungkus angka pembangunan laksana pahlawan. Tanah kita tetap bernama Indonesia, namun bau aroma asing menguap dari ruang-ruang pembuat keputusan. Rakyat diajak bertepuk tangan, sementara haknya perlahan dipindahkan ke meja-meja yang tak pernah mengenal lumpur sawah, dan para pemilik gedung megah. Sering kita dengar bahwa penjajahan telah usai. Tetapi, mengapa masih ada hati yang diperintah oleh korupsi, akal yang disewakan kepada kuasa, dan nurani yang dijual semurah tanda tangan tanpa makna ? Mungkinkah kolonialisme telah berganti wajah. Ia tak lagi memakai seragam "kompeni", pirang rambutnya, dan mancung hidungnya, serta putih warna kulitnya. melainkan wajah sendiri yang lupa bercermin pada sejarah. Orang-orang kini menyebut "Londo Ir...

MIMPI KAUM PENGGEMBALA DOMBA (By : Ma'ruf Abu Said Husein)

 *MIMPI KAUM PENGGEMBALA DOMBA* Malam terus bergerak menuju puncak Ku paksa tubuh untuk duduk membuang kantuk, Dan teringatlah aku pada sepotong fatwa, Bahwa tafakur itu jalan memperoleh cinta Sang Maha, Maka dalam duduk, Dengan kepala sedikit tertunduk, Tanpa berpamitan jiwa berkelana mengangkasa, Di situlah telinga jiwa mendengar bumi berbisik bahwa, "Tuhan tak pernah bersemayam di singgasana yang ditegakkan oleh luka, melainkan di hati yang rela menjadi alas bagi derita sesama." Lalu mataku pun melihat angin membawa seonggok berita, Bahwa, "Pasar iman" telah kembali dibuka, surat-surat penebusan dosa dijual dengan tinta kesalehan dan stempel kemuliaan. Bukankah ini sejarah yang berulang,  dalam hati aku berkata, dahulu seorang biarawan memaku kegelisahannya pada pintu zaman, agar manusia berhenti memperdagangkan jalan menuju Tuhan ? Namun sejarah sering lupa, pada air mata yang pernah melahirkannya. Dan Kereta mewah tetap terus menjadi mimpi para penggembala domb...

BERSRLANCAR DI SAMUDERA CAHAYA (by: Ma'ruf ASH)

BERSRLANCAR DI SAMUDERA CAHAYA Di samudra digital yang tak bertepi, kupasang layar pada angin sunyi. Ku kayuh jemari menembus gelombang cahaya, mencari mutiara, bukan riuh ombaknya. Di sebuah dermaga tak bernama, kutemui Rumi menjaga nyala. Ia tak mengajar dengan suara, melainkan dengan bunga yang mekar di dalam luka. Ia membisikkan ke telingaku, bahwa "Keindahan," , "lahir dari mata yang mencinta; Sedang cinta adalah jalan pulang, dan bukan sekadar sebuah tujuan." Sejak itu, ku pungut embun di setiap perjumpaan, karena semesta hanya membuka wajahnya bagi hati yang ikhlas dalam pengabdiannya. Maka kubiarkan jiwaku menjadi burung tanpa sangkar, terbang melampaui pagar-pagar prasangka. Di dunia digital kutemukan jalan menuju diriku sendiri: jiwa yang merdeka adalah jiwa yang mencinta dengan ikhlas untuk Tuhannya. @ Ma'ruf Abu Said Husein, di atas bumi Tuhan, 28 Juni 2026

IBRAH DI SIMPANG GHODIR (by: Ma'ruf Abu Said Husein)

Ibrah di Simpang Ghadir Di sebuah simpang sejarah, ketika debu padang pasir menjadi saksi, Dan Rasul menegakkan tangan  Ali bin Abi Thalib , bukan untuk meninggikan seorang manusia di atas manusia lainnya, melainkan untuk menegakkan amanah di atas nafsu dan ambisi. Beliau bersabda, bahwa Ali di sisiku laksana Harun  di sisi Musa , namun tiada nabi setelah Ku. Itulah isyarat tentang kedekatan, kesetiaan, dan tanggung jawab, bahwa kepemimpinan bukan mahkota kekuasaan, melainkan beban pengabdian. Dan di Ghadir yang agung, bergema pesan cinta yang melampaui zaman, “Barang siapa menjadikan aku pemimpin dan kekasihnya, maka jadikan Ali pemimpin dan kekasihnya.” Maka meneladani Ali bukan sekadar memuji namanya dalam syair, melainkan belajar berdiri tegak di hadapan ketidakadilan, Dan tetap rendah hati ketika berkuasa, dan tetap lembut meski memiliki kekuatan untuk memaksa. Ali mengajarkan bahwa ilmu lebih mulia daripada kemegahan, bahwa kebenaran tidak selalu bersama keramaian, dan b...