SUARA KEADILAN DAN SETORAN PAJAK KITA Di simpang jalan antara baliho pudar dan sawah yang menguning, terdengar bisik yang menjelma menjadi gema, Stop bayar pajak. Begitu ku dengar teriak massa di media kita, Ia bukan sekadar angka yang ditolak, tetapi rasa yang telah retak, diantara kepercayaan yang pernah ditanam di tanah subur bernama harapan. Di Jawa Tengah, angin membawa kabar tentang rakyat yang letih menghitung, sementara hitungan mereka tak pernah dihitung. Mereka bertanya, ke mana larinya peluh yang ditukar rupiah ? Apakah ia menjelma jalan yang rata ?, sekolah yang kokoh ?, atau sekadar spanduk janji lima tahunan ? Pajak.... katanya adalah urat nadi negara, tanpanya tubuh ini pucat dan goyah. Namun bila nadi itu mengalir ke jantung yang lupa berdetak untuk rakyat, apakah salah bila tangan gemetar menahan setoran ? Aku lihat, Gerakan ini bukan hanya soal berhenti, ia adalah jeritan yang ingin didengar. dan jeritan pun perlu arah, sehingga tak berubah menjadi bara yang memb...
Ramadhan Kita dan Penyucian Jiwa Di ambang fajar, ketika sahur masih berembun doa, aku berusaha berdiri di tepian sunyi, Aku baca ulang diriku yang sering lusuh oleh dosa dan nafsu dunia. Puasa hari pertama mulai berjalan perlahan, Ia hadir bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, Namun, mengajak menahan gemuruh ingin yang diam-diam membangun singgasana di dada kita yang rapuh. Puasa mengajari kita, bahwa perut yang kosong lebih jujur dari hati yang penuh prasangka, Bahwa dahaga adalah guru yang sabar menyaring kata, Agar lisan tak lahirkan suara sumbang dalam kehidupan, Dan mampu menjernihkan niat sebelum jasad melangkah dan berjalan,. Saat nanti senja mulai bersembunyi di balik gelap malam, Dan azan magrib, mengajari kita tentang batas, bahwa segala yang halal pun punya waktu dan ukuran. Namun jiwa, ternyata lebih sering kotor oleh yang berlebihan, daripada oleh yang dilarang. Malam-malamnya adalah cermin panjang, aku melihat bayang-bayang dalam cermin kebijaksanaan, ...