Nyanyian Kerinduan Aku duduk terpaku di pinggiran malam, menjadi debu yang hening di hadapan Sang Angin. Dunia meredup, namun dari jauh, pintu-pintu rahasia mendadak terkuak. Dengarlah! Napas-napas Al-Barjanji beterbangan dari kubah masjid, dari mihrab surau, dari sudut-sudut mushola, saling menyapa bagai burung-burung surgawi yang mabuk oleh cinta. Bukan sekadar suara yang sampai ke telingaku, melainkan wewangian dari Kota Cahaya yang menyusup ke dalam dada. Dada ini bergetar, pecah menjadi ribuan cermin, memantulkan kerinduan pada Muhammad al-Mustafa, Ia adalah Jiwa dari Segala Jiwa. Wahai Sang Pembawa Terang, aku mengerti bahwa engkau sedang berjalan di sudut-sudut bumi ? Dan malam ini, di tepi kesunyian , namamu menjelma menjadi anggur penyejuk jiwa, tempat hati menemukan arah untuk kembali. Maka, izinkan aku hanyut dalam gema shalawat, agar aku bisa menyatu bersama tarian cinta di hari kelahiran-Mu. Untuk hancurkan berhala ego di dada, Laksana Ibrahim menghancurkan patu...
Atas Nama Rakyat Ada pelajaran dari tanah seberang, yaitu di tanah Afrika Selatan, seorang lelaki menari di hadapan rakyat, langkahnya ringan, senyumnya lebar, dan sorak massa menjelma menjadi tangga menuju kekuasaan. Ia datang membawa nama rakyat sebagai senjata, membungkus janji dengan slogan tentang kesejahteraan. Dalam kampanye politik ia berpidato lantang, akan ada makanan bagi rakyat yang lapar, Akan ada gizi tambahan bagi rakyat yang kekurangan, Akan ada koperasi rakyat untuk membangun kesejahteraan— seolah setiap pidatonya adalah roti, seolah setiap program adalah jalan menuju kondisi rakyat yang lebih sejahtera. Seiring berjalannya waktu, deretan fakta membuka topeng kekuasaannya, Rakyat mengerti, bahwa di balik jargon kepentingan rakyat, tumbuh jaringan kepentingan yang mengerikan, di balik pesta kebijakan, negara perlahan kehilangan arah untuk berjalan, Tetapi Istana sibuk mempertahankan kuasa, sementara rakyat menanggung harga dari tata kelola y...