MENGEJAR SIMBOL SUCI Kulihat meeka sibuk mengukir nama suci di kubah, spanduk, dan bahkan di dinding kota, tetapi di jalan yang sama terlihat banyak orang miskin masih berjalan tanpa kasih— seolah kesucian cukup menjadi ornamen, tak perlu menjelma dalam uluran tangan untuk kaum pinggiran. Mereka begitu fasih menunjuk kiblat orang lain, sibuk menghitung sesat di komunitas yang bajunya tidak sama, sementara jari telunjuk yang terangkat menyembunyikan tangan yang enggan berbagi. Bahkan tak malu mengubur simpati, Bukankah iman bukan sekadar arah, tetapi akhlak baik kepada sesama penduduk bumi ? Di layar yang terus menyala sepanjang malam, Mereka menjadikan agama sebagai etalase, ayat menjadi kutipan yang dipindah-pindahkan kesalehan menjadi sekedar unggahan, amar makruf menjadi komentar pedas atas setiap perbedaan. Mereka sibuk mengejar jejak simbol, tetapi rela kehilangan ruh keteladanan. Mereka memburu Muhammad pada jubah, sorban, gelar, dan nama. namun ketika kejujuran ...
NESTAPA BANGSA KITA Di atas tanah yang dahulu menjunjung suara, kini banyak kata telah kehilangan gema. Memang demokrasi tampak berdiri di panggung terbuka, Namun, aku dengar rakyat banayak yang bertanya, mengapa suara kami sering berhenti di pintu-pintu kekuasaan ? Di negeri yang alamnya kaya raya, mengapa kami hanya boleh menghitung receh untuk menyambung nyawa. Sawah tetap hijau, laut tetap luas, tambang terus menggali perut bumi— namun kesejahteraan belum juga merata sampai ke dapur kami. Kita telah membangun gedung-gedung tinggi, Namun, lupa membangun manusia yang tinggi martabatnya. Kita mengejar angka pertumbuhan, Tetapi apakah pertumbuhan itu Merata di meja rakyat kita, di meja makan para buruh, di ruang kelas para guru, dan di rumah-rumah kecil kaum tertindas, yang menunggu keadilan yang terasa pincang. Aku lihat hukum gagah berdiri dengan kitab tebal di tangannya, namun rakyat kadang melihat keadilan berjalan dengan langkah berbeda. Yang k...