BERHALA DI BALIK DO'A Ku lihat banyak orang berdoa panjang kepada Tuhannya, tetapi yang paling sering disebut adalah dirinya sendiri, keinginannya, kepentingannya, dan kemenangan yang ingin diraihnya. Terlihat mereka bersujud begitu khusyuk, namun hawa nafsu diam-diam menjadi imamnya, Untuk membimbing doa menuju dunia, menjadikan ibadah sekedar sebagai tangga, untuk meninggikan ego semata. Di bibirnya lekat nama Tuhan, Tetapi, di dadanya takhta keinginan ditancapkan. Tasbih terus mereka putar, tetapi cinta kepada diri tak pernah benar-benar berhenti. Mereka meminta Tuhan mengubah takdir untuk mereka, namun mereka enggan membiarkan Tuhan mengubah sesuai kehendaknya. Ku luangkan waktu sejenak untuk berdiri memandang, walau hanya dari luar lingkaran, Aku coba menatap dengan diam, betapa mungkin seseorang rajin menyembah Tuhan, namun sepanjang waktu mereka tak berhenti menuhankan hawa nafsu. Barangkali kesunyian paling dalam bukan ketika doa tak dijawab, melainkan ketika ...
SIMALAKAMA Dimakan, ibu yang mati, Tak dimakan ayah yang mati, Begitulah simalakama bunga Bank kita, Di antara lembar-lembar kitab tua, dan angka-angka melayang di udara digital kita, kita dipaksa berdiri di persimpangan zaman, Antara menimbang dosa, dan menawar nyawa. Suara-suara dari mimbar menggema, menunjuk haram pada tiap persen yang beranak, mengetuk pintu dada yang cemas, "Ini riba, ini benalu yang memakan sukma!" Sebentar, lalu hening menjadi dingin, saat ketiadaan modal mengetuk pintu dapur yang sama. Di balik layar kaca sistem raksasa, uang tak lagi sekadar tukar penambal lapar. Ia adalah darah yang dipaksa mengalir dalam nadi kehidupan kota yang tak pernah tidur. Tanpa bunga, roda terhenti; dengan bunga, leher terjerat tali. Apakah kita sedang menyembah sistem, atau sekadar bertahan di atas tanah yang tak lagi ramah ? Ketika kebutuhan bukan lagi pilihan, melainkan benteng dari kehancuran yang nyata. Terselip tanya di antara dogma dan realita, Siapa yang seben...