Tentang Uang Kita Kawan, tahukah engkau, bahwa di dalam ruang sunyi dari setiap kita, uang tak pernah benar-benar berbicara. Seringkali yang berbicara justru ketakutan, harapan,dan kenangan masa kecil yang diam-diam mengajari kita mencintai atau membenci kelimpahan maupun kekurangan. Kita sering diajari mengejar angka, seolah setiap nol yang bertambah mampu mengisi lubang rongga dada. Padahal kita mengerti, bahwa yang lapar bukan dompet kita, melainkan jiwa yang lupa mengenal kata cukup . Tahukah engkau, bahwa terdapat kaum kaya yang hidup dalam sorak kemewahan, namun miskin saat malam memeluk sepi. Ada pula mereka yang sederhana dalam penampilan, tetapi menyimpan kemerdekaan di balik kesabaran yang tak pernah dipamerkan. Kawan, kita harus mengerti , bahwa waktu adalah investor paling setia dalam hidup manusia. Ia tak berteriak di pasar, tak berebut tepuk tangan merebut puja, namun perlahan menumbuhkan benih untuk mereka yang percaya pada kejujuran dan ketekunan dalam sepi. Kawan, mari...
"Londo Ireng" Londo Ireng, siapakah mereka ? Mereka tak datang dengan meriam, tak pula mengibarkan panji negeri seberang. Mereka hadir dengan jas yang rapi, Mereka berpidato tentang kemajuan negeri, Dan mereka tersenyum yang dibungkus angka pembangunan laksana pahlawan. Tanah kita tetap bernama Indonesia, namun bau aroma asing menguap dari ruang-ruang pembuat keputusan. Rakyat diajak bertepuk tangan, sementara haknya perlahan dipindahkan ke meja-meja yang tak pernah mengenal lumpur sawah, dan para pemilik gedung megah. Sering kita dengar bahwa penjajahan telah usai. Tetapi, mengapa masih ada hati yang diperintah oleh korupsi, akal yang disewakan kepada kuasa, dan nurani yang dijual semurah tanda tangan tanpa makna ? Mungkinkah kolonialisme telah berganti wajah. Ia tak lagi memakai seragam "kompeni", pirang rambutnya, dan mancung hidungnya, serta putih warna kulitnya. melainkan wajah sendiri yang lupa bercermin pada sejarah. Orang-orang kini menyebut "Londo Ir...