Ziarah Nurani Ku rebahkan tubuhku di sebuah kursi tua, Mataku mulai mengeja lembar sejarah duka, tentang cucu nabi penghuni Surga, Al-Husein putera Mustafa, yang mengalami Syahid di tanggal sepuluh bulan mulia, "Arba'in" melintas di bulan Safar, sebuah tradisi ziarah nurani seorang hamba, Tradisi mengingat duka, menjelma menjadi cahaya. Karbala tak hanya ada di padang pasir nan jauh sana, Namun, ia sering bersemayam di setiap dada, yang memilih cinta dari kuasa. Aku teringat Rumi berkata, jalan menuju Tuhan seringkali melewati luka. Tetapi manusia lebih gemar menghias rantai yang membelenggu kaki mereka Ketahuilah kawan!, Kini pedang tak selalu berkilau. Seringkali ia bernama keserakahan, bermahkota jabatan, Bahkan seringkali bersorban kesalehan, namun meminum air mata dan keringat rakyat tanpa rasa kasihan. Arba'in bukan sekadar mengenang syahidnya Al-Husein di Karbala, melainkan membangunkan hati agar tak bersujud kepada singgasana, tak bersujud kepada hawa nafs...
Beranda Kemerdekaan Kita Agustus, bulan ketika merah putih kembali berkibar dimana-mana, Dan rakyat Indonesia menengadah pada langit yang sama, meski dapur masih mengeja dengan sabar, Serta meja makan sering lebih sunyi daripada pidato kekuasaan Kemerdekaan datang sebagai cahaya yang tak pernah kami ingkari. Ia adalah darah para syuhada yang tak pantas ditukar dengan keluh semata. Namun di gang-gang sempit negeri ini, kami melihat harga-harga tak berhenti berlari lebih cepat daripada upah penduduk negeri, sementara harapan masih tertatih mengejar pagi. Orang-orang kecil tetap berangkat sebelum fajar, memanggul cangkul, gerobak, dan doa. Mereka bekerja sepanjang usia, tetapi kemiskinan seolah enggan berpisah dari mereka. Aneh, justru di rumah-rumah reyot itulah syukur paling khusyuk sering dipanjatkan. Sepotong singkong dibagi menjadi kebahagiaan, seteguk teh menjadi pesta kesederhanaan. Obrolan di pinggir sawah menjadi hiburan tak tergantikan. Sedang di gedung-gedung megah, kemer...