NESTAPA
BANGSA KITA
Di atas tanah
yang dahulu menjunjung suara,
kini banyak kata telah kehilangan gema.
Memang demokrasi tampak berdiri di panggung terbuka,
Namun, aku dengar rakyat banayak yang bertanya,
mengapa suara kami sering berhenti
di pintu-pintu kekuasaan ?
Di negeri
yang alamnya kaya raya,
mengapa kami hanya boleh menghitung receh
untuk menyambung nyawa.
Sawah tetap hijau, laut tetap luas,
tambang terus menggali perut bumi—
namun kesejahteraan
belum juga merata sampai ke dapur kami.
Kita telah
membangun gedung-gedung tinggi,
Namun, lupa membangun manusia yang tinggi martabatnya.
Kita mengejar angka pertumbuhan,
Tetapi apakah pertumbuhan itu
Merata di meja rakyat kita,
di meja makan para buruh,
di ruang kelas para guru,
dan di rumah-rumah kecil kaum tertindas,
yang menunggu keadilan yang terasa pincang.
Aku lihat
hukum gagah berdiri
dengan kitab tebal di tangannya,
namun rakyat kadang melihat
keadilan berjalan dengan langkah berbeda.
Yang kecil belajar menunduk,
yang kuat belajar mencari celah.
Jika hukum kehilangan rasa adil,
apa yang tersisa dari sebuah negara hukum kita ?
Di tengah
gaduhnya zaman,
kebenaran sering kalah oleh kebisingan.
Berita berubah menjadi dagangan,
opini menyamar sebagai fakta,
fitnah berlari lebih cepat dari klarifikasi..
Nestapa
bangsa kita
bukan semata-mata karena miskin harta,
melainkan ketika malu mulai kehilangan tempat di hati mereka,
ketika jabatan menjadi tujuan,
ketika kekuasaan menjadi kemewahan,
dan ketika kepentingan rakyat
hanya diingat menjelang pesta pemungutan suara.
Aku
melihat di gang-gang sempit
masih ada ibu yang berbagi nasi.
Di surau-surau tempat taklim kita.
masih ada guru yang mengajar dengan cinta.
masih ada petani yang menanam harapan di petak kecil sawahnya..
Di masjid, gereja, pura, vihara, dan rumah-rumah ibadah,
masih ada manusia
yang berdoa agar negeri ini selamat dari bencana.
Maka izinkan
aku berkata-kata karena cinta, bukan ada benci di dada.
Ia adalah kegelisahan dan keperihatinan,
dari hati yang masih mencintai negeri.
Sebab
mencintai Indonesia
Tak berarti membungkam luka,
bukan pula memuja mereka yang berkuasa.
Kadang cinta justru harus berkata:
ada yang
keliru,
ada yang harus diperbaiki,
ada yang harus dikembalikan
kepada cita-cita kemerdekaan.
Di antara
nestapa
dan doa yang panjang,
Indonesia masih menunggu
anak-anak terbaiknya
untuk menyalakan kembali
cahaya yang tampak redup di mata kita
@. Ma`ruf
Abu Said Husein, Simo, 29 September 2026.
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform