Langsung ke konten utama

Nestapa Bangsa Kita (By: Ma`ruf ASH)

 

NESTAPA BANGSA KITA

Di atas tanah yang dahulu menjunjung suara,
kini banyak kata telah kehilangan gema.
Memang demokrasi tampak berdiri di panggung terbuka,
Namun, aku dengar rakyat banayak yang bertanya,
mengapa suara kami sering berhenti
di pintu-pintu kekuasaan ?

Di negeri yang alamnya kaya raya,
mengapa kami hanya boleh menghitung receh
untuk menyambung nyawa.
Sawah tetap hijau, laut tetap luas,
tambang terus menggali perut bumi—
namun kesejahteraan
belum juga merata sampai ke dapur kami.

Kita telah membangun gedung-gedung tinggi,
Namun, lupa membangun manusia yang tinggi martabatnya.
Kita mengejar angka pertumbuhan,
Tetapi apakah pertumbuhan itu
Merata di meja rakyat kita,
di meja makan para buruh,
di ruang kelas para guru,
dan di rumah-rumah kecil kaum tertindas,
yang menunggu keadilan yang terasa pincang.

Aku lihat hukum gagah berdiri
dengan kitab tebal di tangannya,
namun rakyat kadang melihat
keadilan berjalan dengan langkah berbeda.
Yang kecil belajar menunduk,
yang kuat belajar mencari celah.
Jika hukum kehilangan rasa adil,
apa yang tersisa dari sebuah negara hukum kita ?

Di tengah gaduhnya zaman,
kebenaran sering kalah oleh kebisingan.
Berita berubah menjadi dagangan,
opini menyamar sebagai fakta,
fitnah berlari lebih cepat dari klarifikasi..

Nestapa bangsa kita
bukan semata-mata karena miskin harta,
melainkan ketika malu mulai kehilangan tempat di hati mereka,
ketika jabatan menjadi tujuan,
ketika kekuasaan menjadi kemewahan,
dan ketika kepentingan rakyat
hanya diingat menjelang pesta pemungutan suara.

Aku melihat di gang-gang sempit
masih ada ibu yang berbagi nasi.
Di surau-surau tempat taklim kita.
masih ada guru yang mengajar dengan cinta.
masih ada petani yang menanam harapan di petak kecil sawahnya..
Di masjid, gereja, pura, vihara, dan rumah-rumah ibadah,
masih ada manusia
yang berdoa agar negeri ini selamat dari bencana.

Maka izinkan aku berkata-kata karena cinta, bukan ada benci di dada.
Ia adalah kegelisahan dan keperihatinan,
dari hati yang masih mencintai negeri.

Sebab mencintai Indonesia
Tak berarti membungkam luka,
bukan pula memuja mereka yang berkuasa.
Kadang cinta justru harus berkata:

ada yang keliru,
ada yang harus diperbaiki,
ada yang harus dikembalikan
kepada cita-cita kemerdekaan.

Di antara nestapa
dan doa yang panjang,
Indonesia masih menunggu
anak-anak terbaiknya
untuk menyalakan kembali
cahaya yang tampak redup di mata kita

 

@. Ma`ruf Abu Said Husein, Simo, 29 September 2026.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Beranda Kemerdekaan Kita (by: Ma'ruf ASH)

  Beranda Kemerdekaan Kita Agustus, bulan ketika merah putih kembali berkibar dimana-mana, Dan rakyat Indonesia menengadah pada langit yang sama, meski dapur masih mengeja dengan sabar, Serta meja makan sering lebih sunyi daripada pidato kekuasaan Kemerdekaan datang sebagai cahaya yang tak pernah kami ingkari. Ia adalah darah para syuhada yang tak pantas ditukar dengan keluh semata. Namun di gang-gang sempit negeri ini, kami melihat harga-harga tak berhenti berlari lebih cepat daripada upah penduduk negeri, sementara harapan masih tertatih mengejar pagi. Orang-orang kecil tetap berangkat sebelum fajar, memanggul cangkul, gerobak, dan doa. Mereka bekerja sepanjang usia, tetapi kemiskinan seolah enggan berpisah dari mereka. Aneh, justru di rumah-rumah reyot itulah syukur paling khusyuk sering dipanjatkan. Sepotong singkong dibagi menjadi kebahagiaan, seteguk teh menjadi pesta kesederhanaan. Obrolan di pinggir sawah menjadi hiburan tak tergantikan. Sedang di gedung-gedung megah, kemer...