Langsung ke konten utama

Makam Ukhwah (by: Ma'ruf ASH)

 

Makam Ukhuwah

Dalam duduk bersandar di kursi tua, ku biarkan nalar dan hati mencoba berjalan, walau ia tertatih di lorong-lorong ummat,
Terus ku cari wajah ukhuwah yang dahulu
menghangatkan dingin sejarah.
Namun, yang kutemukan kini hanyalah gema takbir
yang saling menenggelamkan,
bukan saling menguatkan.

Ukhuwah kini terlihat sekarat—
napasnya tersengal
di bawah reruntuhan ego,
diselimuti bendera-bendera kebanggaan
Kelompok mereka,
Hingga menyisakan sesak tangis dalam dada, tempat nurani masih ada,

Ukhwah telah mati,
bukan oleh musuh yang datang dari kuffar,
melainkan oleh tangan-tangan
yang sibuk mengaku paling setia sebagai pembela Tuhan,
namun enggan memeluk sesama hamba seperti dicontohkan oleh Al-Mustafa.

Aku lihat ummat mengusung jenazahnya
ke penjara panjang bernama ashabiyah;
di sanalah ia dikuburkan,
di balik tembok fanatisme,
diikat rantai golongan,
dan dikafani prasangka yang terus diwariskan.

Makam itu tampak sunyi dari doa.
yang terdengar hanya sorak kemenangan
atas kekalahan saudaranya, 
seolah luka sesama saudara tak lagi mampu merasa, 

Aku pun mulai bertanya kepada langit,
"Masih adakah jalan kembali ?"
Angin menjawab lirih,
"Selama ada ummat yang lebih mencintai nama kelompoknya
daripada cahaya kasih yang Allah titipkan kepada kita,
makam itu akan tetap sunyi dari do'a"

Aku pun menangisi diriku sendiri,
mungkinkah aku termasuk
salah satu penggali kubur itu—
ketika aku membiarkan fanatisme
mengalahkan cinta,
dan identitas semu mengalahkan ukhwah antar.

Wahai Tuhan,
jangan biarkan ukhuwah hanya menjadi
batu nisan yang kami ziarahi dalam pidato,
tetapi bangkitkan ia kembali
sebagai pohon yang akarnya menghujam dalam iman,
batangnya adalah keadilan semakin kokoh, tak tumbang di terpa angin zaman,
dan buahnya: kasih sayang yang menjelma dalam kehidupan.

@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 7 Agustus 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Kepada Siapa Lagi Aku Percaya?

  Kepada Siapa Lagi Aku Percaya? Aku berdiri di tengah bising negeri, suara janji bertebaran bagai daun kering berserakan, retak di bawah pijakan dusta yang tak pernah jemu. Lembaga negara— yang seharusnya sebagai benteng, justeru menjadi pasar kepentingan. Kursi-kursi rapat penuh genggam tangan dingin, dimana uang menggantikan nurani. Ormas keagamaan— yang seharusnya menjadi cahaya, justeru terjerat bayang-bayang yang sama. Kas suara doa bercampur bisik laba, membuat langit terasa jauh dari bumi. Aku rakyat kecil, menggenggam resah seperti bara. Jika negara tak bisa kupercaya, jika agamawan pun berpeluk dengan kuasa, dan terlibat andil menggarong negara Lantas, kepada siapa lagi aku harus percaya? Mungkin, hanya pada sunyi di dalam dada, Kepada suara hati yang belum bisa dibeli, Kepada Tuhan yang tetap suci meski para penjaga nama-Nya terjerat ambisi. Di jalan buntu ini aku belajar, bahwa kejujuran bukan milik lembaga, tetapi perjuangan diri— yang s...