Makam Ukhuwah
Dalam duduk bersandar di kursi tua, ku biarkan nalar dan hati mencoba berjalan, walau ia tertatih di lorong-lorong ummat,
Terus ku cari wajah ukhuwah yang dahulu
menghangatkan dingin sejarah.
Namun, yang kutemukan kini hanyalah gema takbir
yang saling menenggelamkan,
bukan saling menguatkan.
Ukhuwah kini terlihat sekarat—
napasnya tersengal
di bawah reruntuhan ego,
diselimuti bendera-bendera kebanggaan
Kelompok mereka,
Hingga menyisakan sesak tangis dalam dada, tempat nurani masih ada,
Ukhwah telah mati,
bukan oleh musuh yang datang dari kuffar,
melainkan oleh tangan-tangan
yang sibuk mengaku paling setia sebagai pembela Tuhan,
namun enggan memeluk sesama hamba seperti dicontohkan oleh Al-Mustafa.
Aku lihat ummat mengusung jenazahnya
ke penjara panjang bernama ashabiyah;
di sanalah ia dikuburkan,
di balik tembok fanatisme,
diikat rantai golongan,
dan dikafani prasangka yang terus diwariskan.
Makam itu tampak sunyi dari doa.
yang terdengar hanya sorak kemenangan
atas kekalahan saudaranya,
seolah luka sesama saudara tak lagi mampu merasa,
Aku pun mulai bertanya kepada langit,
"Masih adakah jalan kembali ?"
Angin menjawab lirih,
"Selama ada ummat yang lebih mencintai nama kelompoknya
daripada cahaya kasih yang Allah titipkan kepada kita,
makam itu akan tetap sunyi dari do'a"
Aku pun menangisi diriku sendiri,
mungkinkah aku termasuk
salah satu penggali kubur itu—
ketika aku membiarkan fanatisme
mengalahkan cinta,
dan identitas semu mengalahkan ukhwah antar.
Wahai Tuhan,
jangan biarkan ukhuwah hanya menjadi
batu nisan yang kami ziarahi dalam pidato,
tetapi bangkitkan ia kembali
sebagai pohon yang akarnya menghujam dalam iman,
batangnya adalah keadilan semakin kokoh, tak tumbang di terpa angin zaman,
dan buahnya: kasih sayang yang menjelma dalam kehidupan.
@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 7 Agustus 2026
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform