Cinta Yang Tak Lagi Bertanya Aku pernah berjalan siang dan malam untuk mencari cinta, di antara tumpukan kitab-kitab dan kata-kata, mencari dalil atau hujjah untuk setiap langkah, mencari alasan mengapa kita harus mencintai Muhammad al-Mustafa Di suatu malam aku berjumpa kepada angin, Ia berbisik lirih di telinga sunyi: “Jika engkau telah menemukan mata air, mengapa masih bertanya, apakah kita boleh minum saat dahaga ?” Maka aku pun termenung dan diam. Sebab cinta kepada Muhammad bukan lagi pertanyaan tentang boleh dan tidak, bukan pula sekedar perdebatan tentang dalil dan kata. Ia adalah cahaya, yang ketika masuk ke dada, membuat tangan enggan untuk menyakiti, lidah malu untuk melukai, dan hati tak tega untuk membenci. Aku mencoba terus melintas, dari dunia bentuk menuju dunia makna. Tempat selawat bukan lagi sekadar suara, melainkan denyut yang mengubah perilaku seorang hamba, sunnah nabi bukan sekadar kata yang dihafal, dan disimpan di kepala melainkan sebuah jalan yang perlaha...
RENUNGAN ATAS FAKTA DAN INTUISI PECINTA KEBIJAKSANAAN