Tentang Uang Kita
Kawan, tahukah engkau, bahwa di dalam ruang sunyi dari setiap kita, uang tak pernah benar-benar berbicara. Seringkali yang berbicara justru ketakutan, harapan,dan kenangan masa kecil yang diam-diam mengajari kita mencintai atau membenci kelimpahan maupun kekurangan.
Kita sering diajari mengejar angka,
seolah setiap nol yang bertambah
mampu mengisi lubang rongga dada.
Padahal kita mengerti, bahwa yang lapar bukan dompet kita,
melainkan jiwa yang lupa mengenal kata cukup.
Tahukah engkau, bahwa terdapat kaum kaya yang hidup dalam sorak kemewahan,
namun miskin saat malam memeluk sepi.
Ada pula mereka yang sederhana dalam penampilan,
tetapi menyimpan kemerdekaan
di balik kesabaran yang tak pernah dipamerkan.
Kawan, kita harus mengerti , bahwa waktu adalah investor paling setia dalam hidup manusia.
Ia tak berteriak di pasar,
tak berebut tepuk tangan merebut puja,
namun perlahan menumbuhkan benih
untuk mereka yang percaya pada kejujuran dan ketekunan dalam sepi.
Kawan, mari mengingat nasihat para bijak, bahwa Nasib dan ikhtiar tak pernah berhenti menari di halaman kehidupan.
Sebagian keberhasilan adalah anugerah,
sebagian kegagalan adalah pelajaran.
Maka jangan angkuh ketika menuai,
dan jangan putus asa ketika kehilangan.
Sehingga kaya sejati bukanlah mereka yang mampu mengambil untuk dibeli,
melainkan mereka yang sanggup membuat hati tak lagi diperbudak oleh keinginan ragawi.
Sebab uang hanyalah cermin;
ia memantulkan siapa diri kita,
bukan menentukan siapa kita.
Dan ketika senja terakhir hadir menyapa,
yang tinggal bukan saldo di rekening kita,
melainkan jejak kebijaksanaan
dalam cara kita memegang dunia, dengan
tidak pernah membiarkan dunia menggenggam jiwa.
@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo 27 Juli 2026
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform