Langsung ke konten utama

Tentang Uang Kita (by: Ma'ruf Abu Said Husein)

Tentang Uang Kita

Kawan, tahukah engkau, bahwa di dalam ruang sunyi dari setiap kita, uang tak pernah benar-benar berbicara. Seringkali yang berbicara justru ketakutan, harapan,dan kenangan masa kecil yang diam-diam mengajari kita mencintai atau membenci kelimpahan maupun kekurangan.

Kita sering diajari mengejar angka,
seolah setiap nol yang bertambah
mampu mengisi lubang rongga dada.
Padahal kita mengerti, bahwa yang lapar bukan dompet kita,
melainkan jiwa yang lupa mengenal kata cukup.

Tahukah engkau, bahwa terdapat kaum kaya yang hidup dalam sorak kemewahan,
namun miskin saat malam memeluk sepi.
Ada pula mereka yang sederhana dalam penampilan,
tetapi menyimpan kemerdekaan
di balik kesabaran yang tak pernah dipamerkan.

Kawan, kita harus mengerti , bahwa waktu adalah investor paling setia dalam hidup manusia.
Ia tak berteriak di pasar,
tak berebut tepuk tangan merebut puja,
namun perlahan menumbuhkan benih
untuk mereka yang percaya pada kejujuran dan ketekunan dalam sepi.

Kawan, mari mengingat nasihat para bijak,  bahwa Nasib dan ikhtiar tak pernah berhenti menari di halaman kehidupan.
Sebagian keberhasilan adalah anugerah,
sebagian kegagalan adalah pelajaran.
Maka jangan angkuh ketika menuai,
dan jangan putus asa ketika kehilangan.

Sehingga kaya sejati bukanlah mereka yang mampu mengambil untuk dibeli,
melainkan mereka yang sanggup membuat hati tak lagi diperbudak oleh keinginan ragawi.

Sebab uang hanyalah cermin;
ia memantulkan siapa diri kita,
bukan menentukan siapa kita.

Dan ketika senja terakhir hadir menyapa,
yang tinggal bukan saldo di rekening kita,
melainkan jejak kebijaksanaan
dalam cara kita memegang dunia, dengan 
tidak pernah membiarkan dunia menggenggam jiwa.

@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo 27 Juli 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Kepada Siapa Lagi Aku Percaya?

  Kepada Siapa Lagi Aku Percaya? Aku berdiri di tengah bising negeri, suara janji bertebaran bagai daun kering berserakan, retak di bawah pijakan dusta yang tak pernah jemu. Lembaga negara— yang seharusnya sebagai benteng, justeru menjadi pasar kepentingan. Kursi-kursi rapat penuh genggam tangan dingin, dimana uang menggantikan nurani. Ormas keagamaan— yang seharusnya menjadi cahaya, justeru terjerat bayang-bayang yang sama. Kas suara doa bercampur bisik laba, membuat langit terasa jauh dari bumi. Aku rakyat kecil, menggenggam resah seperti bara. Jika negara tak bisa kupercaya, jika agamawan pun berpeluk dengan kuasa, dan terlibat andil menggarong negara Lantas, kepada siapa lagi aku harus percaya? Mungkin, hanya pada sunyi di dalam dada, Kepada suara hati yang belum bisa dibeli, Kepada Tuhan yang tetap suci meski para penjaga nama-Nya terjerat ambisi. Di jalan buntu ini aku belajar, bahwa kejujuran bukan milik lembaga, tetapi perjuangan diri— yang s...