Langsung ke konten utama

"Londo Ireng" (by: Ma'ruf Abu Said Husein)

 

"Londo Ireng"

Londo Ireng, siapakah mereka ? Mereka tak datang dengan meriam, tak pula mengibarkan panji negeri seberang. Mereka hadir dengan jas yang rapi, Mereka berpidato tentang kemajuan negeri, Dan mereka tersenyum yang dibungkus angka pembangunan laksana pahlawan.

Tanah kita tetap bernama Indonesia,
namun bau aroma asing menguap dari ruang-ruang pembuat keputusan.
Rakyat diajak bertepuk tangan,
sementara haknya perlahan dipindahkan
ke meja-meja yang tak pernah mengenal lumpur sawah, dan para pemilik gedung megah.

Sering kita dengar bahwa penjajahan telah usai.
Tetapi, mengapa masih ada hati yang diperintah oleh korupsi,
akal yang disewakan kepada kuasa,
dan nurani yang dijual semurah tanda tangan tanpa makna ?

Mungkinkah kolonialisme telah berganti wajah.
Ia tak lagi memakai seragam "kompeni", pirang rambutnya, dan mancung hidungnya, serta putih warna kulitnya.
melainkan wajah sendiri yang lupa bercermin pada sejarah.

Orang-orang kini menyebut "Londo Ireng", siapakah mereka ?, angin senja berkata, ia hanyalah sebuah metafora, yaitu... 
ketika ada anak-abak negeri berdiri gagah,
namun langkahnya tak ragu menginjak bangsanya sendiri tanpa rasa bersalah,
ketika lidah mengucap "merdeka",
Namun tangan sibuk menggadaikan masa depan bangsa,

Sore ini, Aku kembali bertanya kepada angin,
apakah kemerdekaan cukup dirayakan
dengan upacara dan menyanyikan lagu kebangsaan di bulan Agustus yang akan datang ?

Angin berbisik lirih,
"Selama keadilan masih dapat diperjualbelikan,
selama kekuasaan lebih dicintai daripada kebenaran,
Selama penjajahan hanya berganti nama menjadi kemerdekaan"

Maka tak perlu buru-buru mencari musuh di seberang lautan.
Mari bercermin dengan muka sendiri,
Sebab imperium paling berbahaya,
sering lahir dari hati yang kehilangan keberpihakan pada keadilan, hati yang tega  menindas saudara atau kawan, hati yang amnesia karena kuasa.

Dan ketahuilah, bahwa bangsa akan menjadi  merdeka
bukan ketika tak ada koloni asing di tanah kita,
melainkan ketika tak ada seorang pun anak negeri yang bersedia menindas bangsa sendiri.

@ Ma'ruf Abu Said Husein, Indonesia, 26 Juli 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Kepada Siapa Lagi Aku Percaya?

  Kepada Siapa Lagi Aku Percaya? Aku berdiri di tengah bising negeri, suara janji bertebaran bagai daun kering berserakan, retak di bawah pijakan dusta yang tak pernah jemu. Lembaga negara— yang seharusnya sebagai benteng, justeru menjadi pasar kepentingan. Kursi-kursi rapat penuh genggam tangan dingin, dimana uang menggantikan nurani. Ormas keagamaan— yang seharusnya menjadi cahaya, justeru terjerat bayang-bayang yang sama. Kas suara doa bercampur bisik laba, membuat langit terasa jauh dari bumi. Aku rakyat kecil, menggenggam resah seperti bara. Jika negara tak bisa kupercaya, jika agamawan pun berpeluk dengan kuasa, dan terlibat andil menggarong negara Lantas, kepada siapa lagi aku harus percaya? Mungkin, hanya pada sunyi di dalam dada, Kepada suara hati yang belum bisa dibeli, Kepada Tuhan yang tetap suci meski para penjaga nama-Nya terjerat ambisi. Di jalan buntu ini aku belajar, bahwa kejujuran bukan milik lembaga, tetapi perjuangan diri— yang s...