Langsung ke konten utama

HYPHOCRISY (by: Ma'ruf Abu Said Husein)

 HYPHOCRISY

Di dinding-dinding megah demokrasi, kata-kata suci dipahat dengan emas, namun lorong-lorongnya dipenuhi gema nurani yang dikebiri dengan intimidasi.

Kekuasaan seringkali pandai mengeja integritas,
tetapi gagap ketika kejujuran mengetuk nurani,
Lidah kuasa telah menjadi mimbar kebajikan, berbaur dengan tamak dan keserakahan,
Dan dalam gelap tangan mereka diam-diam merawat kepentingan.

Aturan dibuat sebagai kitab mulia,
namun hanya tajam bagi yang tak punya kuasa, dan tak mampu menjilat kaki Tuan  raja,

Betapa mahal harga sebuah topeng di negeri kita.
Harus dibeli dengan tepuk tangan kepalsuan,
dipoles oleh kepura-puraan pujian,
lalu diwariskan sebagai budaya yang mencengkeram nurani bangsa.

Begitulah mental hypocrisy bekerja,
ia tidak selalu berteriak,
melainkan tersenyum sopan,
menyalami semua orang,
sambil perlahan mematikan nurani Kemanusiaan,

Kita harus mengerti, bahwa institusi tak pernah runtuh
hanya karena serangan dari luar sana,
Tetapi, lebih dulu retak dari dalam,
ketika kemunafikan dijadikan kebijakan,
dan kebenaran diminta menunggu izin, sebagai formalitas aturan, sehingga sura kejujuran kaum pinggiran terlindas, dan sekarat terkubur bersama laju zaman.

@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, Senin Kliwon, 27 Juli 2026

Komentar