Langsung ke konten utama

Takdir Kehidupan ? ( By: Ma'ruf Abu Said Husein)

 Takdir Kehidupan 

Di kesunyian malam aku mulai mengeja fakta, tentang kemiskinan dari ratusan juta raga yang jauh dari kemalasan, yang lebih dari separoh waktu hidupnya habis untuk bekerja. Mereka bekerja dibawah kejamnya "gedung industri", dan mereka yang di bawah terik panas Matahari, serta mereka yang bekerja dalam kebisingan jalan raya, maupun di pusat perbelanjaan, yang pegawainya berada di pinggir kesejahteraan, 

Aku melihat kemiskinan telah berdiri paling lama di antrean sejarah. Ia tak pernah diundang resmi ke ruang rapat para pejabat, tapi hanya dipinjam namanya untuk perjuangan yang dipalsukan, untuk para hipokrit di panggung kekuasaan. 

Entah mengapa ? Aku tak rela orang berkata berkata, bahwa kemiskinan adalah 
"takdir semesta."

Dan hati kecilku aku bertanya, adakah mungkin, ini Takdir Semesta ?
Benarkah Tuhan telah menulis lapar
di dahi para buruh
yang sejak fajar
telah menjahit siang dengan peluh,
namun pulang
membawa kantong yang lebih ringan
dari harapan ?

Ataukah kemiskinan
sekadar nama yang diperhalus 
untuk menyembunyikan
keserakahan yang dilegalkan,
ketidakadilan yang diundangkan,
dan kekuasaan
yang lebih mencintai angka
daripada manusia ?

Sungguh kedua mataku melihat jelas, tentang Mereka yang bekerja
hingga tulang-tulangnya pun belajar berbicara.
Mereka memeras umur
menjadi jalan raya,
jembatan, menjadi 
gedung,
dan lumbung-lumbung negeri.
Namun ketika panen tiba,
yang tersisa di meja mereka
hanyalah remah-remah
yang jatuh dari pesta para pemenang.

Lalu masih adakah hati
yang tega menyebut mereka malas ?

Aku berkata Tidak. Justeru aku berkesimpulan....
Yang malas adalah nurani
yang membiarkan jurang
terus menganga.
Yang malas adalah keadilan
yang sengaja dibuat pincang
agar kekuasaan dapat berjalan
dengan tongkat privilese sebagian kecil orang saja.

Kemiskinan yang kita saksikan
tidak lahir dari kurangnya ikhtiar.
Namun seringkali ia dibesarkan
oleh sistem yang mengajari segelintir orang
cara menumpuk gunung emas,
sementara jutaan lainnya
berebut segenggam nasi.

Betapa ironis,
di negeri yang alamnya kaya raya,
Namun, yang diwariskan kepada banyak anak-anak negeri bukanlah kemakmuran,
melainkan keterbatasan;
bukan kesempatan,melainkan "kesabaran"
yang dipaksa menjadi warisan.

Maka jangan katakan kemiskinan
sebagai takdir semesta.Sebab takdir Tuhan ditulis dalam keadilannya

Dan barangkali,
dosa terbesar sebuah republik kita
bukan ketika rakyatnya miskin,
melainkan ketika kemiskinan
dipelihara begitu lama,
hingga rakyat lupa
bahwa hidup bermartabat
adalah hak,
bukan hadiah dari penguasa

@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 1 Agustus 2026 dini hari (03.29 Wib)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Kepada Siapa Lagi Aku Percaya?

  Kepada Siapa Lagi Aku Percaya? Aku berdiri di tengah bising negeri, suara janji bertebaran bagai daun kering berserakan, retak di bawah pijakan dusta yang tak pernah jemu. Lembaga negara— yang seharusnya sebagai benteng, justeru menjadi pasar kepentingan. Kursi-kursi rapat penuh genggam tangan dingin, dimana uang menggantikan nurani. Ormas keagamaan— yang seharusnya menjadi cahaya, justeru terjerat bayang-bayang yang sama. Kas suara doa bercampur bisik laba, membuat langit terasa jauh dari bumi. Aku rakyat kecil, menggenggam resah seperti bara. Jika negara tak bisa kupercaya, jika agamawan pun berpeluk dengan kuasa, dan terlibat andil menggarong negara Lantas, kepada siapa lagi aku harus percaya? Mungkin, hanya pada sunyi di dalam dada, Kepada suara hati yang belum bisa dibeli, Kepada Tuhan yang tetap suci meski para penjaga nama-Nya terjerat ambisi. Di jalan buntu ini aku belajar, bahwa kejujuran bukan milik lembaga, tetapi perjuangan diri— yang s...