Takdir Kehidupan
Di kesunyian malam aku mulai mengeja fakta, tentang kemiskinan dari ratusan juta raga yang jauh dari kemalasan, yang lebih dari separoh waktu hidupnya habis untuk bekerja. Mereka bekerja dibawah kejamnya "gedung industri", dan mereka yang di bawah terik panas Matahari, serta mereka yang bekerja dalam kebisingan jalan raya, maupun di pusat perbelanjaan, yang pegawainya berada di pinggir kesejahteraan,
Aku melihat kemiskinan telah berdiri paling lama di antrean sejarah. Ia tak pernah diundang resmi ke ruang rapat para pejabat, tapi hanya dipinjam namanya untuk perjuangan yang dipalsukan, untuk para hipokrit di panggung kekuasaan.
Entah mengapa ? Aku tak rela orang berkata berkata, bahwa kemiskinan adalah
"takdir semesta."
Dan hati kecilku aku bertanya, adakah mungkin, ini Takdir Semesta ?
Benarkah Tuhan telah menulis lapar
di dahi para buruh
yang sejak fajar
telah menjahit siang dengan peluh,
namun pulang
membawa kantong yang lebih ringan
dari harapan ?
Ataukah kemiskinan
sekadar nama yang diperhalus
untuk menyembunyikan
keserakahan yang dilegalkan,
ketidakadilan yang diundangkan,
dan kekuasaan
yang lebih mencintai angka
daripada manusia ?
Sungguh kedua mataku melihat jelas, tentang Mereka yang bekerja
hingga tulang-tulangnya pun belajar berbicara.
Mereka memeras umur
menjadi jalan raya,
jembatan, menjadi
gedung,
dan lumbung-lumbung negeri.
Namun ketika panen tiba,
yang tersisa di meja mereka
hanyalah remah-remah
yang jatuh dari pesta para pemenang.
Lalu masih adakah hati
yang tega menyebut mereka malas ?
Aku berkata Tidak. Justeru aku berkesimpulan....
Yang malas adalah nurani
yang membiarkan jurang
terus menganga.
Yang malas adalah keadilan
yang sengaja dibuat pincang
agar kekuasaan dapat berjalan
dengan tongkat privilese sebagian kecil orang saja.
Kemiskinan yang kita saksikan
tidak lahir dari kurangnya ikhtiar.
Namun seringkali ia dibesarkan
oleh sistem yang mengajari segelintir orang
cara menumpuk gunung emas,
sementara jutaan lainnya
berebut segenggam nasi.
Betapa ironis,
di negeri yang alamnya kaya raya,
Namun, yang diwariskan kepada banyak anak-anak negeri bukanlah kemakmuran,
melainkan keterbatasan;
bukan kesempatan,melainkan "kesabaran"
yang dipaksa menjadi warisan.
Maka jangan katakan kemiskinan
sebagai takdir semesta.Sebab takdir Tuhan ditulis dalam keadilannya
Dan barangkali,
dosa terbesar sebuah republik kita
bukan ketika rakyatnya miskin,
melainkan ketika kemiskinan
dipelihara begitu lama,
hingga rakyat lupa
bahwa hidup bermartabat
adalah hak,
bukan hadiah dari penguasa
@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 1 Agustus 2026 dini hari (03.29 Wib)
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform