Langsung ke konten utama

MIMPI KAUM PENGGEMBALA DOMBA (By : Ma'ruf Abu Said Husein)

 *MIMPI KAUM PENGGEMBALA DOMBA*


Malam terus bergerak menuju puncak

Ku paksa tubuh untuk duduk membuang kantuk,

Dan teringatlah aku pada sepotong fatwa,

Bahwa tafakur itu jalan memperoleh cinta Sang Maha,

Maka dalam duduk,

Dengan kepala sedikit tertunduk,

Tanpa berpamitan jiwa berkelana mengangkasa,


Di situlah telinga jiwa mendengar bumi berbisik bahwa,

"Tuhan tak pernah bersemayam

di singgasana yang ditegakkan oleh luka,

melainkan di hati

yang rela menjadi alas

bagi derita sesama."


Lalu mataku pun melihat angin membawa seonggok berita,

Bahwa, "Pasar iman" telah kembali dibuka,

surat-surat penebusan dosa dijual

dengan tinta kesalehan dan stempel kemuliaan.

Bukankah ini sejarah yang berulang, 

dalam hati aku berkata,

dahulu seorang biarawan memaku kegelisahannya pada pintu zaman,

agar manusia berhenti memperdagangkan

jalan menuju Tuhan ?


Namun sejarah sering lupa,

pada air mata yang pernah melahirkannya.

Dan Kereta mewah tetap terus menjadi mimpi para penggembala domba,

Sementara keringat dan darah kaum papa tetaplah menjadi debu yang diterbangkan angin.


Dan Tuhan pun kembali  berbisik,

"Jangan mencari-Ku

di roda kereta yang berkilau.

Carilah Aku pada kaki yang tetap berjalan,

meski berdarah dan penuh luka,

karena cintaku tak pernah melintas di jalan Penggembala domba,

yang, meninggikan mihrab mereka diatas luka. 


@Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, Jum"at Pon,10 Juli 2026.

Komentar