REFLEKSI SEPULUH HARI Sepuluh hari sudah berlalu, namun waktu terasa tidak benar-benar berjalan— ia seperti duduk dalam diam di pinggir luka, menatapku tanpa mengedipkan mata. Di antara sisa bau darah dan kaca pecah yang masih terselip dalam ingatan, aku mencoba menyusun ulang diriku seperti serpihan yang enggan menyatu. Bus itu— yang sering kita fahami hanya kendaraan transportasi— Kini telah berubah menjadi ruang antara, antara hidup yang kukenal dan hidup yang kini harus ku-pahami. Benturan itu masih bergaung, seperti pertanyaan yang tak kunjung selesai, dan terus berulang mengapa detik bisa secepat itu berubah, dari tawa menjadi tangis duka ? Selokan Tol Subang, menjadi saksi bagaimana tubuh khawatir dan takut bercampur tanpa izin. Aku masih teringat dinginnya pagi, bukan hanya pada kulit, tetapi pada kesadaran tentang "accident" atau takdir Illahi ? Sepuluh hari ini, aku berjalan pelan di dalam diriku sendiri. Menghitung napas seperti menghitung anugerah yang dulu teras...
RENUNGAN ATAS FAKTA DAN INTUISI PECINTA KEBIJAKSANAAN