Langsung ke konten utama

Board of Peace dan Ujian Ideologis Politik Luar Negeri Indonesia (Oleh ; Ma'ruf Abu Said Husein, alimnus Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta)

 Board of Peace dan Ujian Ideologis Politik Luar Negeri Indonesia

(Oleh ; Ma'ruf Abu Said Husein, alimnus Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta)

Keputusan Indonesia bergabung dalam Board of Peace telah menuai polemik luas di tengah masyarakat. Di satu sisi, pemerintah menyebut langkah ini sebagai wujud politik luar negeri bebas dan aktif. Di sisi lain, publik mempertanyakan: apakah keputusan tersebut benar-benar sejalan dengan ideologi Pancasila?

Pertanyaan ini penting, sebab bagi Indonesia, diplomasi bukan sekadar urusan geopolitik, melainkan perpanjangan nilai-nilai ideologis bangsa.

Pertama, Sila ke-dua Pancasila, yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menegaskan keberpihakan Indonesia pada nilai kemanusiaan dan keadilan. Dalam konteks konflik Palestina, kemanusiaan tidak bisa dimaknai netral secara semu. Ia menuntut keberpihakan pada korban, penolakan terhadap penjajahan, dan penghormatan terhadap hukum internasional.

Suatu hal yang wajar,  kekhawatiran publik muncul ketika Board of Peace dipersepsikan tidak sepenuhnya independen dari kepentingan kekuatan besar yang selama ini justru dipandang ambigu dalam membela keadilan bagi Palestina. Jika forum ini gagal menempatkan kemanusiaan sebagai prinsip utama, maka kehadiran Indonesia berpotensi bertabrakan dengan sila kedua.

Kedua, dalam Sila ketiga Pancasila, yaitu  Persatuan Indonesia, menuntut kebijakan luar negeri yang mencerminkan suara kolektif bangsa. Polemik ini menunjukkan adanya jarak antara kebijakan negara dan rasa keadilan publik. Ketika keputusan strategis tidak dikomunikasikan secara terbuka dan partisipatif, persatuan sikap bangsa menjadi rapuh.

Politik luar negeri yang Pancasilais seharusnya menguatkan kepercayaan publik, bukan memunculkan kecurigaan.

Ketiga, dalam Sila keempat Pancasila, yaitu Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan, mengajarkan bahwa kebijakan negara harus lahir dari kebijaksanaan dan musyawarah. Dalam isu Board of Peace, transparansi tujuan, batas peran, dan posisi Indonesia menjadi keharusan moral. Tanpa kejelasan tersebut, diplomasi berisiko dipersepsikan elitis dan jauh dari suara rakyat.

Kebijakan luar negeri tidak boleh hanya benar secara prosedural, tetapi juga etis secara ideologis.

Keempat, dalam Sila kelima Pancasila, yaitu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dapat dimaknai memperluas tanggung jawab Indonesia untuk mendorong keadilan, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di tingkat global. Perdamaian sejati bukan sekadar stabilitas politik, melainkan keadilan bagi bangsa yang tertindas. Di sinilah Indonesia diuji, apakah keikutsertaannya Indonesia dalam Board of peace dapat memperkuat perjuangan keadilan global, atau justru melemahkannya ?

Penutup

Board of Peace sejatinya menjadi ujian ideologis bagi Indonesia, dalam arti Board of peace bukan sekadar forum diplomatik Indonesia untuk boleh dan perlu aktif di panggung dunia, tetapi keaktifan itu harus berpijak teguh pada Pancasila.

Tanpa keberpihakan pada kemanusiaan, tanpa kedaulatan sikap, dan tanpa keadilan, perdamaian hanya akan menjadi slogan. Dan bagi Indonesia, Pancasila bukan simbol, melainkan kompas moral dalam setiap kebijakan, termasuk implementasi politik luar negeri Bebas - Aktif. 

Wallahu a'lam bi Al - Shawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

SELAMAT DATANG CAHAYA

 SELAMAT DATANG CAHAYA Selamat datang, wahai jiwa-jiwa Pencari, Telah tiba langkah kakimu di Madrasah yang membuka asa. Tahun ajaran baru terbentang bagai lautan hikmah, setiap langkahmu adalah jejak menuju cahaya. Tinggalkan lelah masa lalu di balik gerbang, buka lembaran suci dengan niat yang terang. Ilmu baru menantimu dalam baris ayat dan kata,  akhlak mulia menuntunmu di setiap langkah nyata. Jangan engkau gentar menghadapi tantangan baru, karena peluhmu hari ini adalah mahkota esok hari Jangan malu belajar dari salah dan lupa, karena setiap kesalahan adalah guru utama. Madrasah bukan sekadar bangunan berdinding, ia adalah taman ilmu, ladang akhlak yang subur, di sanalah kau menabur mimpi-mimpi luhur, dan memanen iman yang mengakar subur. Bangkitlah, pelajar Madrasah… Hadapi tahun Ajaran baru dengan semangat membara, gapailah ilmu,  Dan perindah dirimu dengan adab mulia, dan  karena engkau adalah penerus cahaya umat dan bangsa.  @ Ma'ruf Abu Said Husein, Si...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.