RINTIK SENJA
Di ambang senja, rintik cahaya jatuh perlahan,
seperti doa yang tak ingin lekas selesai.
Langit merunduk, mengeja warna—
jingga, ungu, dan biru yang saling memaafkan, dan tak pernah memelihara dendam
Angin mengantar sunyi ke telinga waktu,
mengingatkanku, bahwa segala yang datang akan pulang.
Daun-daun yang diam, batu-batu selalu siap bersaksi,
bahwa hening pun punya suara.
Di sela napas yang kupelajari ulang,
aku membaca namamu tanpa huruf.
Engkau hadir dalam jarak antara detik,
di titik kecil tempat rasa berserah.
Rintik senja menetes membasahi hati,
membasuh debu sombong yang tak kusadari.
aku terasa kecil—dan justru, di sanalah luas terbuka
keagungan-Mu pun terlihat menjelma dalam sederhana.
Maka biarlah hari menutup tirai dengan senja,
dan aku pun menutup mata dengan syukur yang jujur.
Karena di setiap senja yang memudar,
Pasti, ada terang yang tak pernah benar-benar pergi
@ Ma`ruf Abu Said Husein, Simo, 3 Januari 2026
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform