*SESUDAH TURUN TAHTA*
Di tanah yang ingatannya panjang, dan benih tata Krama hampir hilang,
nama-nama pemimpin jatuh
Laksana daun musim kemarau,
Ia kering oleh waktu,
retak oleh kata-kata tanpa jiwa.
Ketika kuasa masih melekat di bahu raja,
Mereka menaruh harap seperti dupa,
asapnya naik, bersama harapan yang membumbung ke angkasa,
Namun saat tahta telah habis waktunya,
Mereka menurunkan pula penghormatan atas mantan raja,
mengganti harapan dengan segudang caci dan tuduhan,
bahkan bergudang fitnah tentang tindak kejahatan,
Mereka mengganti sejarah dengan amarah.
Kadang aku bertanya, adakah bangsakaku telah hilang tata Krama ?
Waktu terus melaju, generasi berganti generasi berikutnya, namun lidah masih mewarisi luka yang sama.
Mereka menghakimi dari bangku yang aman,
membaca masa lalu dengan mata hari ini,
seolah keputusan kemarin
tak pernah lahir dari kabut zaman.
Ada kebenaran yang layak dibongkar,
ada salah yang patut diadili—
tetapi sering mereka lupa bertanya, atau malu untuk jujur terhadap sesama,
apakah caci kita demi keadilan ?,
atau sekadar memuaskan libido untuk berkuasa ?
Jika kita sedikit menggunakan nalar dan hati,
Maka kita akan mengerti,
Bahwa, sejarah bukan ruang suci tanpa noda,
ia cermin yang jujur dan kejam.
Di dalamnya, pemimpin hanyalah manusia
yang dibesarkan dan dibatasi
oleh rakyatnya, juga oleh zamannya.
Maka mungkin yang perlu kita renungkan
bukan hanya siapa yang salah,
melainkan bagaimana kita mengingat.
Belajar mengkritik tanpa meludahi,
mengoreksi tanpa menghapus,
mengenang tanpa dendam.
Sebab suatu hari,
kita pun akan menjadi masa lalu—
dan sejarah akan bertanya dengan sunyi:
apakah kita mewariskan kebijaksanaan,
atau hanya kebisingan yang terus berulang ?
@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 1 Januari 2026.
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform