CAWAN SYAHADAH SANG IMAM
Di senja dua puluh delapan Februari Tahun ini,
Di bumi Persia,
di bawah langit merah dan gemuruh baja,
engkau gugur di Medan laga,
Sayyid Ali Khamenei,
engkau laksana cahaya yang tak akan padam,
Walau engkau telah berpulang dalam syahadah suci,
Namun suaramu masih terus bergema di altar sejarah yang berguncang.
Di tengah dentuman rudal setan yang menghantam,
dan gemuruh pesawat siluman kiriman Dajjal,
engkau meraih secawan syahadah dari Tuhan,
Tepat di meja takdir yang telah terukir dari do'a,
Setelah lebih dari enam puluh tahun usia,
engkau persambahkan diri di jalan agama,
Maka, darah syahadah menjadi saksi setia di jalan Allah Subhanahu wata'ala.
Sungguh.....
Engkau kini tak lagi sekadar nama,
tetapi melodi perlawanan dari kedzaliman,
yang menembus demarkasi negara,
dan setelah engkau pergi tinggalkan dunia,
namamu tetap menjadi legenda.
Dalam benak ummat Islam di penjuru dunia,
Mengalir air mata duka,
dan doa dipintal seribu kali,
dalam tiap desah, derap, dan tatap,
mereka akan mengenangmu sebagai Pahlawan,
di bawah langit perjuangan melawan kedzaliman,
Syahid bukan hanya tentang gugur,
melainkan tentang atsar yang telah engkau tinggalkan
—yang akan terus bergema di setiap lorong waktu,
dan di setiap nafas keadilan.
Di antara debu senja dan bayang malam,
gagasanmu akan terpahat kuat,
di hati yang tak rela keadilan terus diinjak,
dan dikuburkan oleh arogansi kekuasaan.
@ Ma'ruf. A.S.H, Indonesia, 1 Maret 2026.
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform