Langsung ke konten utama

CAWAN SYAHADAH SANG IMAM (By : Ma'ruf Abu Said Husein)

 CAWAN SYAHADAH SANG IMAM


Di senja dua puluh delapan Februari Tahun ini,

Di bumi Persia,

di bawah langit merah dan gemuruh baja,

engkau gugur di Medan laga, 

Sayyid Ali Khamenei, 

engkau  laksana cahaya yang tak akan padam, 

Walau engkau telah berpulang dalam syahadah suci, 

Namun suaramu masih terus bergema di altar sejarah yang berguncang.


Di tengah dentuman rudal setan yang menghantam,

dan gemuruh pesawat siluman kiriman Dajjal,

engkau meraih secawan syahadah dari Tuhan,

Tepat di meja takdir yang telah terukir dari do'a,


Setelah lebih dari enam puluh tahun usia, 

engkau persambahkan diri  di jalan agama, 

Maka, darah syahadah menjadi saksi setia di jalan Allah Subhanahu wata'ala.


Sungguh.....

Engkau kini tak lagi sekadar nama,

tetapi melodi perlawanan dari kedzaliman,

yang menembus demarkasi negara,

dan setelah engkau pergi tinggalkan dunia, 

namamu tetap menjadi legenda.


Dalam benak ummat Islam di penjuru dunia, 

Mengalir air mata duka, 

dan doa dipintal seribu kali,

dalam tiap desah, derap, dan tatap,

mereka akan mengenangmu sebagai Pahlawan,

di bawah langit  perjuangan melawan kedzaliman,


Syahid bukan hanya tentang gugur,

melainkan tentang atsar  yang telah engkau tinggalkan

—yang akan terus bergema di setiap lorong waktu,

dan di setiap nafas keadilan.


Di antara debu senja dan bayang malam,

gagasanmu akan  terpahat kuat,

di hati yang tak rela keadilan terus diinjak, 

dan dikuburkan oleh  arogansi kekuasaan. 


@ Ma'ruf. A.S.H, Indonesia, 1 Maret 2026.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Beranda Kemerdekaan Kita (by: Ma'ruf ASH)

  Beranda Kemerdekaan Kita Agustus, bulan ketika merah putih kembali berkibar dimana-mana, Dan rakyat Indonesia menengadah pada langit yang sama, meski dapur masih mengeja dengan sabar, Serta meja makan sering lebih sunyi daripada pidato kekuasaan Kemerdekaan datang sebagai cahaya yang tak pernah kami ingkari. Ia adalah darah para syuhada yang tak pantas ditukar dengan keluh semata. Namun di gang-gang sempit negeri ini, kami melihat harga-harga tak berhenti berlari lebih cepat daripada upah penduduk negeri, sementara harapan masih tertatih mengejar pagi. Orang-orang kecil tetap berangkat sebelum fajar, memanggul cangkul, gerobak, dan doa. Mereka bekerja sepanjang usia, tetapi kemiskinan seolah enggan berpisah dari mereka. Aneh, justru di rumah-rumah reyot itulah syukur paling khusyuk sering dipanjatkan. Sepotong singkong dibagi menjadi kebahagiaan, seteguk teh menjadi pesta kesederhanaan. Obrolan di pinggir sawah menjadi hiburan tak tergantikan. Sedang di gedung-gedung megah, kemer...