Langsung ke konten utama

MUHASABAH MALAM

 MUHASABAH MALAM


Di ujung kalender

kita berdiri tanpa kembang api memancar di angkasa, 

Tanpa gempita petasan di udara, 

Tetapi sekedar jeda  panjang antara doa dan duka, 

Sebagaimana himbauan Bupati Boyolali, 

Untuk hidupkan empati


Desember tahun ini, 

Hujan turun lebih lama dari biasanya,

sungai meluap melampaui ingatan,

rumah-rumah hanyut

bersama jadwal hidup yang tertunda.

Dan berjuta telinga tak mendengar letih bumi menegur kita dengan tanpa kata,


Di sebagian barat  Nusantara

air naik sampai ke dada sejarah,

banjir bukan sekedar menenggelamkan, dan merendam beratus-ratus desa,

tetapi juga perasaan

yang tersimpan lama.


Di Aceh,

air menenggelamkan ribuan rumah,

sementara kata-kata keras beredar lebih deras dari arus banjir yang tenggelam kan kota.

Kata tentang luka lama yang kembali dibuka,

tentang sebagian suara

yang ingin berjalan sendiri, 

saat yang lain

masih berjuang menyelamatkan anak-anak, para wanita, dari dingin malam yang mencekam, 

dari lapar dan dahaga yang mengaduk-aduk lambung mereka,

dan dari derita yang tak cukup ditulis dengan kata-kata.


Aku merasa, bahwa indonesia kita

sedang diuji dalam dua sisi.

Yaitu oleh marahnya alam yang tak bisa ditawar,

dan oleh kegaduhan 

yang lahir dari rasa tak didengar,


Entah mengapa?

Di tengah banjir, kegaduhan mendadak lahir,

Mereka sibuk menebar perang propaganda, untuk lampiaskan libido kuasa,

Padahal perut lapar,  selimut basah, bau anyir mayat rakyat yang tertimbun, tak tak berhenti memanggil nurani, 

Tetapi libido kuasa telah membuat telinga politisi mendadak tuli, 


Melalui mata jiwa

Dan nurani yang masih terjaga, kita percaya, 

Bahwa Indonesia tak pernah hanya satu suara.

Di balik hiruk politik,

Ada ribuan relawan yang tak bertanya asal,

ada tangan-tangan yang menolong tanpa bertanya bendera,

ada empati yang lebih jujur dari bualan pidato para politisi.


Akhir tahun dua ribu dua puluh lima,

kita perlu belajar kembali, 

bahwa persatuan bukan sekedar slogan,

Tetapi bekerja dalam sunyi,

mendengar lebih lama tentang rasa,

Dan siap hadir, saat air naik seiring janji sering yang tenggelam.


Kawan, jadikan malam penutupan tahun sebagai tempat bermuhasabah, 

Namun, tak sekedar menghitung tentang kehilangan,

Tetapi menimbang ulang tentang makna sebuah rumah besar bernama Indonesia,

Sebab Indonesia kita

bukan hanya sekedar kesepakatan politik,

melainkan penderitaan yang kita pikul bersama,

dan harapan yang tak boleh terpecah,

bahkan ketika bencana dan perbedaan datang bersama mengguncang jiwa, 


@Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 31 Desember 2025, pukul 22.05 Wi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

SELAMAT DATANG CAHAYA

 SELAMAT DATANG CAHAYA Selamat datang, wahai jiwa-jiwa Pencari, Telah tiba langkah kakimu di Madrasah yang membuka asa. Tahun ajaran baru terbentang bagai lautan hikmah, setiap langkahmu adalah jejak menuju cahaya. Tinggalkan lelah masa lalu di balik gerbang, buka lembaran suci dengan niat yang terang. Ilmu baru menantimu dalam baris ayat dan kata,  akhlak mulia menuntunmu di setiap langkah nyata. Jangan engkau gentar menghadapi tantangan baru, karena peluhmu hari ini adalah mahkota esok hari Jangan malu belajar dari salah dan lupa, karena setiap kesalahan adalah guru utama. Madrasah bukan sekadar bangunan berdinding, ia adalah taman ilmu, ladang akhlak yang subur, di sanalah kau menabur mimpi-mimpi luhur, dan memanen iman yang mengakar subur. Bangkitlah, pelajar Madrasah… Hadapi tahun Ajaran baru dengan semangat membara, gapailah ilmu,  Dan perindah dirimu dengan adab mulia, dan  karena engkau adalah penerus cahaya umat dan bangsa.  @ Ma'ruf Abu Said Husein, Si...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.