LITANI POLITIK TANPA NALAR
Di altar bising bernama kebenaran,
mereka bersujud tanpa bertanya,
Ramai mencium dusta yang disucikan,
dan menghafal amarah sebagai doa.
Nalar disingkirkan dan dibuang,
tanpa sunyi dan malu,
karena akal dianggap pengkhianat perjuangan.
Yang lantang lebih dipercaya
dari pada yang jujur dalam lirih.
Pembohong dipuja seperti nabi,
pembuat onar dielu sebagai pahlawan,
sebab kebohongan yang ditebarkan dan diulang,
lebih menenangkan dari pada kebenaran yang menuntut tanggung jawab.
Aku bertanya pada nurani yang letih:
kapan manusia kembali berani berpikir,
dan menyebut kebenaran
tanpa perlu membunuh karakter sesama,
Tanpa fitnah dan caci diantara manusia.
@Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 13 Januari 2026.
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform