Langsung ke konten utama

RETAKNYA TOPENG KESALEHAN

RETAKNYA TOPENG KESALEHAN



Sering kita mendengar ceramah dengan suara bergetar, 

ayat-ayat menetes
dari janggut yang rimbun
seperti hujan yang tampak suci.

Bersama janggut yang rimbun,
dengan lisan fasih mengutip sabar,
mata menunduk seolah dunia
hanya debu di ujung sajadah.

Tetapi di balik lipatan jubah,
ada angka-angka tersembunyi,
ada rupiah yang disulap dengan doa,
ada air mata jamaah
yang diperas pelan-pelan
atas nama Ka'bah dan pahala.

Ia berkhotbah tentang ikhlas,
sementara koper-koper penuh
menyimpan ongkos orang-orang tua
yang menjual sawah mereka,
Yang menggadai gelang yang dicinta,
menunggu giliran ke tanah suci
dengan napas yang kian renta.

Betapa mudah kesalehan dicipta
Dipoles dengan janggut, sorban, suara lirih,
seolah takwa dapat dijahit dan dilukis
pada kain putih dengan gelar ustadz dan sorban di kepala.

Bukankah Tuhan tak pernah silau
oleh dahi yang hitam,
tak pernah tertipu
oleh fasihnya dalil yang diperdagangkan

Kini retaklah topeng itu kesalehan
Pecah di hadapan publik,
saat rekening bicara
lebih jujur daripada ceramah di mimbar pengajian

Dan kita pun mulai belajar
bahwa agama di tangan tamak
dapat berubah menjadi tangga—
Dan dipanjat menuju kuasa,
Serta dipakai menutupi loba.

Sebab yang paling busuk
bukan pencuri uang,
melainkan pencuri iman:
ia merampok bukan hanya harta,
tetapi kepercayaan yang diamanahkan,
dari dada orang-orang kecil
yang menggantungkan surga
pada sepotong nasihat ustadz yang pernah ia percaya

Maka bila jubah jadi tirai dusta,
biarlah nurani menelanjanginya.
Karena Tuhan terlalu agung
untuk diwakili topeng kesalehan
yang retak oleh korupsi haji, sebuah penghianatan atas nama iman.

@Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, Sabtu, 25 April 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

SELAMAT DATANG CAHAYA

 SELAMAT DATANG CAHAYA Selamat datang, wahai jiwa-jiwa Pencari, Telah tiba langkah kakimu di Madrasah yang membuka asa. Tahun ajaran baru terbentang bagai lautan hikmah, setiap langkahmu adalah jejak menuju cahaya. Tinggalkan lelah masa lalu di balik gerbang, buka lembaran suci dengan niat yang terang. Ilmu baru menantimu dalam baris ayat dan kata,  akhlak mulia menuntunmu di setiap langkah nyata. Jangan engkau gentar menghadapi tantangan baru, karena peluhmu hari ini adalah mahkota esok hari Jangan malu belajar dari salah dan lupa, karena setiap kesalahan adalah guru utama. Madrasah bukan sekadar bangunan berdinding, ia adalah taman ilmu, ladang akhlak yang subur, di sanalah kau menabur mimpi-mimpi luhur, dan memanen iman yang mengakar subur. Bangkitlah, pelajar Madrasah… Hadapi tahun Ajaran baru dengan semangat membara, gapailah ilmu,  Dan perindah dirimu dengan adab mulia, dan  karena engkau adalah penerus cahaya umat dan bangsa.  @ Ma'ruf Abu Said Husein, Si...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.