Sering kita mendengar ceramah dengan suara bergetar,
ayat-ayat menetes
dari janggut yang rimbun
seperti hujan yang tampak suci.
Bersama janggut yang rimbun,
dengan lisan fasih mengutip sabar,
mata menunduk seolah dunia
hanya debu di ujung sajadah.
Tetapi di balik lipatan jubah,
ada angka-angka tersembunyi,
ada rupiah yang disulap dengan doa,
ada air mata jamaah
yang diperas pelan-pelan
atas nama Ka'bah dan pahala.
Ia berkhotbah tentang ikhlas,
sementara koper-koper penuh
menyimpan ongkos orang-orang tua
yang menjual sawah mereka,
Yang menggadai gelang yang dicinta,
menunggu giliran ke tanah suci
dengan napas yang kian renta.
Betapa mudah kesalehan dicipta
Dipoles dengan janggut, sorban, suara lirih,
seolah takwa dapat dijahit dan dilukis
pada kain putih dengan gelar ustadz dan sorban di kepala.
Bukankah Tuhan tak pernah silau
oleh dahi yang hitam,
tak pernah tertipu
oleh fasihnya dalil yang diperdagangkan
Kini retaklah topeng itu kesalehan
Pecah di hadapan publik,
saat rekening bicara
lebih jujur daripada ceramah di mimbar pengajian
Dan kita pun mulai belajar
bahwa agama di tangan tamak
dapat berubah menjadi tangga—
Dan dipanjat menuju kuasa,
Serta dipakai menutupi loba.
Sebab yang paling busuk
bukan pencuri uang,
melainkan pencuri iman:
ia merampok bukan hanya harta,
tetapi kepercayaan yang diamanahkan,
dari dada orang-orang kecil
yang menggantungkan surga
pada sepotong nasihat ustadz yang pernah ia percaya
Maka bila jubah jadi tirai dusta,
biarlah nurani menelanjanginya.
Karena Tuhan terlalu agung
untuk diwakili topeng kesalehan
yang retak oleh korupsi haji, sebuah penghianatan atas nama iman.
@Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, Sabtu, 25 April 2026
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform