REFLEKSI SEPULUH HARI
Sepuluh hari sudah berlalu,
namun waktu terasa tidak benar-benar berjalan—
ia seperti duduk dalam diam di pinggir luka,
menatapku tanpa mengedipkan mata.
Di antara sisa bau darah dan kaca pecah
yang masih terselip dalam ingatan,
aku mencoba menyusun ulang diriku
seperti serpihan yang enggan menyatu.
Bus itu—
yang sering kita fahami hanya kendaraan transportasi—
Kini telah berubah menjadi ruang antara,
antara hidup yang kukenal
dan hidup yang kini harus ku-pahami.
Benturan itu masih bergaung,
seperti pertanyaan yang tak kunjung selesai, dan terus berulang
mengapa detik bisa secepat itu berubah,
dari tawa menjadi tangis duka ?
Selokan Tol Subang,
menjadi saksi bagaimana tubuh khawatir dan takut
bercampur tanpa izin.
Aku masih teringat dinginnya pagi,
bukan hanya pada kulit,
tetapi pada kesadaran tentang "accident" atau takdir Illahi ?
Sepuluh hari ini,
aku berjalan pelan di dalam diriku sendiri.
Menghitung napas seperti menghitung anugerah
yang dulu terasa biasa saja.
Ada pertanyaan yang menggelayut di pikiran—
bukan hanya tentang rasa aman perjalanan,
tetapi juga kepastian bahwa hal itu tak terulang.
Namun di sela retakan itu,
tumbuh sesuatu yang sunyi:
sejenis keberanian kecil
untuk tetap membuka mata setiap pagi,
meski bayangan masih setia mengikuti.
Aku belajar,
bahwa hidup bukan tentang perjalanan tanpa benturan,
melainkan tentang bagaimana kita duduk
di antara puing beragam fakta,
lalu perlahan berdiri,
meski dengan lutut yang sedikit gemetar.
Sepuluh hari ini, rasanya
belum cukup untuk memahami semuanya.
Tapi cukup untuk mengerti,
bahwa aku masih di sini—
dan itu sendiri,
adalah sebuah keajaiban yang aku masih renungkan dalam diam.
@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 30 April 2026
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform