Langsung ke konten utama

REFLEKSI SEPULUH HARI (By: Ma'ruf Abu Said Husein)

REFLEKSI SEPULUH HARI

Sepuluh hari sudah berlalu,

namun waktu terasa tidak benar-benar berjalan—
ia seperti duduk dalam diam di pinggir luka,
menatapku tanpa mengedipkan mata.

Di antara sisa bau darah dan kaca pecah
yang masih terselip dalam ingatan,
aku mencoba menyusun ulang diriku
seperti serpihan yang enggan menyatu.

Bus itu—
yang sering kita fahami hanya kendaraan transportasi—
Kini telah berubah menjadi ruang antara,
antara hidup yang kukenal
dan hidup yang kini harus ku-pahami.

Benturan itu masih bergaung,
seperti pertanyaan yang tak kunjung selesai, dan terus berulang 
mengapa detik bisa secepat itu berubah,
dari tawa menjadi tangis duka ?

Selokan Tol Subang,
menjadi saksi bagaimana tubuh khawatir dan takut
bercampur tanpa izin.
Aku masih teringat dinginnya pagi,
bukan hanya pada kulit,
tetapi pada kesadaran tentang "accident" atau takdir Illahi ?

Sepuluh hari ini,
aku berjalan pelan di dalam diriku sendiri.
Menghitung napas seperti menghitung anugerah
yang dulu terasa biasa saja.

Ada pertanyaan yang menggelayut di pikiran—
bukan hanya tentang rasa aman perjalanan,
tetapi juga kepastian bahwa hal itu tak terulang.

Namun di sela retakan itu,
tumbuh sesuatu yang sunyi:
sejenis keberanian kecil
untuk tetap membuka mata setiap pagi,
meski bayangan masih setia mengikuti.

Aku belajar,
bahwa hidup bukan tentang perjalanan tanpa benturan,
melainkan tentang bagaimana kita duduk
di antara puing beragam fakta, 
lalu perlahan berdiri,
meski dengan lutut yang sedikit gemetar.

Sepuluh hari ini, rasanya 
belum cukup untuk memahami semuanya.
Tapi cukup untuk mengerti,
bahwa aku masih di sini—
dan itu sendiri,
adalah sebuah keajaiban yang aku masih  renungkan dalam diam.

@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 30 April 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Beranda Kemerdekaan Kita (by: Ma'ruf ASH)

  Beranda Kemerdekaan Kita Agustus, bulan ketika merah putih kembali berkibar dimana-mana, Dan rakyat Indonesia menengadah pada langit yang sama, meski dapur masih mengeja dengan sabar, Serta meja makan sering lebih sunyi daripada pidato kekuasaan Kemerdekaan datang sebagai cahaya yang tak pernah kami ingkari. Ia adalah darah para syuhada yang tak pantas ditukar dengan keluh semata. Namun di gang-gang sempit negeri ini, kami melihat harga-harga tak berhenti berlari lebih cepat daripada upah penduduk negeri, sementara harapan masih tertatih mengejar pagi. Orang-orang kecil tetap berangkat sebelum fajar, memanggul cangkul, gerobak, dan doa. Mereka bekerja sepanjang usia, tetapi kemiskinan seolah enggan berpisah dari mereka. Aneh, justru di rumah-rumah reyot itulah syukur paling khusyuk sering dipanjatkan. Sepotong singkong dibagi menjadi kebahagiaan, seteguk teh menjadi pesta kesederhanaan. Obrolan di pinggir sawah menjadi hiburan tak tergantikan. Sedang di gedung-gedung megah, kemer...