SUARA KEADILAN DAN SETORAN PAJAK KITA
Di simpang jalan
antara baliho pudar dan sawah yang menguning,
terdengar bisik yang menjelma menjadi gema,
Stop bayar pajak.
Begitu ku dengar teriak massa di media kita,
Ia bukan sekadar angka yang ditolak,
tetapi rasa yang telah retak,
diantara kepercayaan yang pernah ditanam
di tanah subur bernama harapan.
Di Jawa Tengah,
angin membawa kabar
tentang rakyat yang letih menghitung,
sementara hitungan mereka
tak pernah dihitung.
Mereka bertanya,
ke mana larinya peluh yang ditukar rupiah ?
Apakah ia menjelma jalan yang rata ?,
sekolah yang kokoh ?,
atau sekadar spanduk janji lima tahunan ?
Pajak....
katanya adalah urat nadi negara,
tanpanya tubuh ini pucat dan goyah.
Namun bila nadi itu mengalir ke jantung yang lupa berdetak untuk rakyat,
apakah salah bila tangan gemetar
menahan setoran ?
Aku lihat,
Gerakan ini bukan hanya soal berhenti,
ia adalah jeritan yang ingin didengar.
dan jeritan pun perlu arah,
sehingga tak berubah menjadi bara yang membakar rumah sendiri.
Ingatkah kita ?
bahwa, negeri ini dibangun dari gotong royong,
bukan dari saling menuding dan mengunci dompet.
Kritik adalah hak,
transparansi adalah kewajiban,
keadilan adalah napas yang seharusnya tak mahal.
Wahai para pemegang amanah,
dengarlah sebelum sunyi menjadi perlawanan.
Dan wahai rakyat yang gelisah,
ingatlah, bahwa perubahan bukan sekadar menahan,
tetapi juga menuntut dengan terang.
Di tanah ini,
antara gunung dan laut yang sabar,
kita belajar satu hal,
bahwa negara bukan mereka saja,
bukan juga kita saja,
tetapi perjanjian sunyi
antara setoran dan tanggung jawab.
Jika pajak adalah ikhtiar bersama,
maka kejujuran adalah syaratnya.
Tanpa itu,
setiap rupiah hanyalah luka yang dipaksa tersenyum.
@ Ma'ruf ASH, Boyolali, 19 Februari 2026
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform