Langsung ke konten utama

Tasamuh di Ujung Hilal (by: Ma'ruf ASH)

 Tasamuh di Ujung Hilal


Di ujung senja hari lalu,

Di ufuk barat,

sepotong cahaya digantungkan langit,

ada yang bersaksi telah melihatnya dengan ilmu semesta,

ada yang bersumpah, ramadhan belum tiba waktunya.


Di ruang-ruang sidang, suara ditimbang.

Di menara-menara sunyi, rukyat ditegakkan,

di meja hitung, angka-angka berbaris rapi.

Nahdlatul Ulama menengadah dengan mata tradisi,

Muhammadiyah menatap dengan presisi hisabi


Sementara langit tetap diam,

Ia tak pernah berdebat tentang siapa yang paling benar.

Enggan menghegemoni opini mereka yang berbeda paradigma, 

Sebab semua itu hujjah semesta.


Wahai jiwa-jiwa yang mudah menyala,

Aku katakan padamu pagi ini,

bukankah bulan sabit itu tipis—

mengapa egomu justru mengeras seperti batu ?

Bukankah Islam diturunkan sebagai rahmat semesta,

mengapa kita gemar menjadikannya palu untuk "memaksa" yang berbeda ?


Sungguh !

Awal Ramadhan bukan hanya soal tanggal,

ia adalah pintu untuk menundukkan diri.

Apalah arti puasa kita,

jika lisan masih gemar melukai ?

Apa arti sahur

jika nurani tak ikut bangun ?


Tasamuh bukan berarti menghapus keyakinan,

bukan pula membunuh perbedaan, 

ia adalah kebijaksanaan untuk menempatkan perbedaan sebagai ruang belajar jiwa,

bukan gelanggang saling menjatuhkan atas nama kebenaran.


Jika hilal tak tampak di matamu,

jangan butakan mata hatimu.

Jika keyakinanmu berdiri tegak,

biarkan keyakinan orang lain juga untuk sama-sama berdiri,



Karena Ramadhan sejatinya

bukan datang untuk memenangkan perhitungan,

melainkan menumbuhkan kebeningan.


Dan mungkin,

yang paling dirindukan langit dari kita,

bukan tentang keseragaman tanggal,

melainkan kedewasaan jiwa, 

Jiwa yang mampu berbeda

tanpa kehilangan kasih sesama.

Jiwa yang mampu untuk sujud bersama dalam formula yang sedikit berbeda. 


@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo 18 Februari 2026.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Kepada Siapa Lagi Aku Percaya?

  Kepada Siapa Lagi Aku Percaya? Aku berdiri di tengah bising negeri, suara janji bertebaran bagai daun kering berserakan, retak di bawah pijakan dusta yang tak pernah jemu. Lembaga negara— yang seharusnya sebagai benteng, justeru menjadi pasar kepentingan. Kursi-kursi rapat penuh genggam tangan dingin, dimana uang menggantikan nurani. Ormas keagamaan— yang seharusnya menjadi cahaya, justeru terjerat bayang-bayang yang sama. Kas suara doa bercampur bisik laba, membuat langit terasa jauh dari bumi. Aku rakyat kecil, menggenggam resah seperti bara. Jika negara tak bisa kupercaya, jika agamawan pun berpeluk dengan kuasa, dan terlibat andil menggarong negara Lantas, kepada siapa lagi aku harus percaya? Mungkin, hanya pada sunyi di dalam dada, Kepada suara hati yang belum bisa dibeli, Kepada Tuhan yang tetap suci meski para penjaga nama-Nya terjerat ambisi. Di jalan buntu ini aku belajar, bahwa kejujuran bukan milik lembaga, tetapi perjuangan diri— yang s...