Tasamuh di Ujung Hilal
Di ujung senja hari lalu,
Di ufuk barat,
sepotong cahaya digantungkan langit,
ada yang bersaksi telah melihatnya dengan ilmu semesta,
ada yang bersumpah, ramadhan belum tiba waktunya.
Di ruang-ruang sidang, suara ditimbang.
Di menara-menara sunyi, rukyat ditegakkan,
di meja hitung, angka-angka berbaris rapi.
Nahdlatul Ulama menengadah dengan mata tradisi,
Muhammadiyah menatap dengan presisi hisabi
Sementara langit tetap diam,
Ia tak pernah berdebat tentang siapa yang paling benar.
Enggan menghegemoni opini mereka yang berbeda paradigma,
Sebab semua itu hujjah semesta.
Wahai jiwa-jiwa yang mudah menyala,
Aku katakan padamu pagi ini,
bukankah bulan sabit itu tipis—
mengapa egomu justru mengeras seperti batu ?
Bukankah Islam diturunkan sebagai rahmat semesta,
mengapa kita gemar menjadikannya palu untuk "memaksa" yang berbeda ?
Sungguh !
Awal Ramadhan bukan hanya soal tanggal,
ia adalah pintu untuk menundukkan diri.
Apalah arti puasa kita,
jika lisan masih gemar melukai ?
Apa arti sahur
jika nurani tak ikut bangun ?
Tasamuh bukan berarti menghapus keyakinan,
bukan pula membunuh perbedaan,
ia adalah kebijaksanaan untuk menempatkan perbedaan sebagai ruang belajar jiwa,
bukan gelanggang saling menjatuhkan atas nama kebenaran.
Jika hilal tak tampak di matamu,
jangan butakan mata hatimu.
Jika keyakinanmu berdiri tegak,
biarkan keyakinan orang lain juga untuk sama-sama berdiri,
Karena Ramadhan sejatinya
bukan datang untuk memenangkan perhitungan,
melainkan menumbuhkan kebeningan.
Dan mungkin,
yang paling dirindukan langit dari kita,
bukan tentang keseragaman tanggal,
melainkan kedewasaan jiwa,
Jiwa yang mampu berbeda
tanpa kehilangan kasih sesama.
Jiwa yang mampu untuk sujud bersama dalam formula yang sedikit berbeda.
@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo 18 Februari 2026.
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform