Langsung ke konten utama

Ramadhan Kita dan Penyucian Jiwa (By: Ma'ruf ASH)

 Ramadhan Kita dan Penyucian Jiwa


Di ambang fajar,

ketika sahur masih berembun doa,

aku berusaha berdiri di tepian sunyi,

Aku baca ulang diriku

yang sering lusuh oleh dosa dan nafsu dunia.


Puasa hari pertama mulai berjalan perlahan,

Ia hadir bukan sekadar menahan lapar dan dahaga,

Namun, mengajak menahan gemuruh ingin

yang diam-diam membangun singgasana

di dada kita yang rapuh.


Puasa mengajari kita, bahwa perut yang kosong lebih jujur dari hati yang penuh prasangka,

Bahwa dahaga

adalah guru yang sabar

menyaring kata,

Agar lisan tak lahirkan suara sumbang dalam kehidupan,

Dan mampu menjernihkan niat sebelum jasad melangkah dan berjalan,.


Saat nanti senja mulai bersembunyi di balik gelap malam,

Dan azan magrib,

mengajari kita tentang batas, 

bahwa segala yang halal pun

punya waktu dan ukuran.

Namun jiwa,

ternyata lebih sering kotor oleh yang berlebihan,

daripada oleh yang dilarang.


Malam-malamnya

adalah cermin panjang,

aku melihat bayang-bayang dalam cermin kebijaksanaan, 

Dan terlihat nyata, 

betapa sering kita meminta ampunan,

tanpa benar-benar ingin berubah.


Ramadhan.....,

engkau bukan bulan yang memanjakan,

engkau adalah ruang pembersihan, 

tempat mengikis kerak jiwa

Tempat mengubur riuh kesombongan di dada,

Tempat mengalirkan kembali "air malu"

ke dalam hati yang mengering.


Di sajadah yang basah oleh sujud,

aku mulai paham:

bahwa penyucian bukanlah menjadi tanpa dosa,

melainkan berani mengakui noda

dan mencucinya dengan taubat yang sesungguhnya, .


Sehingga nanti, saat ramadhan  pergi,

Ia tinggalkan sedikit cahaya,

di relung terdalam dari  jiwa kita,

agar setelah lapar berlalu,

dan pesta kembali menggoda,

Kita tetap ingat,

bahwa kita pernah ada dalam satu bulan,

di mana kita belajar

menjadi manusia.


@ Ma'ruf ASH, Simo, 19 Februari 2026.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Kepada Siapa Lagi Aku Percaya?

  Kepada Siapa Lagi Aku Percaya? Aku berdiri di tengah bising negeri, suara janji bertebaran bagai daun kering berserakan, retak di bawah pijakan dusta yang tak pernah jemu. Lembaga negara— yang seharusnya sebagai benteng, justeru menjadi pasar kepentingan. Kursi-kursi rapat penuh genggam tangan dingin, dimana uang menggantikan nurani. Ormas keagamaan— yang seharusnya menjadi cahaya, justeru terjerat bayang-bayang yang sama. Kas suara doa bercampur bisik laba, membuat langit terasa jauh dari bumi. Aku rakyat kecil, menggenggam resah seperti bara. Jika negara tak bisa kupercaya, jika agamawan pun berpeluk dengan kuasa, dan terlibat andil menggarong negara Lantas, kepada siapa lagi aku harus percaya? Mungkin, hanya pada sunyi di dalam dada, Kepada suara hati yang belum bisa dibeli, Kepada Tuhan yang tetap suci meski para penjaga nama-Nya terjerat ambisi. Di jalan buntu ini aku belajar, bahwa kejujuran bukan milik lembaga, tetapi perjuangan diri— yang s...