Ramadhan Kita dan Penyucian Jiwa
Di ambang fajar,
ketika sahur masih berembun doa,
aku berusaha berdiri di tepian sunyi,
Aku baca ulang diriku
yang sering lusuh oleh dosa dan nafsu dunia.
Puasa hari pertama mulai berjalan perlahan,
Ia hadir bukan sekadar menahan lapar dan dahaga,
Namun, mengajak menahan gemuruh ingin
yang diam-diam membangun singgasana
di dada kita yang rapuh.
Puasa mengajari kita, bahwa perut yang kosong lebih jujur dari hati yang penuh prasangka,
Bahwa dahaga
adalah guru yang sabar
menyaring kata,
Agar lisan tak lahirkan suara sumbang dalam kehidupan,
Dan mampu menjernihkan niat sebelum jasad melangkah dan berjalan,.
Saat nanti senja mulai bersembunyi di balik gelap malam,
Dan azan magrib,
mengajari kita tentang batas,
bahwa segala yang halal pun
punya waktu dan ukuran.
Namun jiwa,
ternyata lebih sering kotor oleh yang berlebihan,
daripada oleh yang dilarang.
Malam-malamnya
adalah cermin panjang,
aku melihat bayang-bayang dalam cermin kebijaksanaan,
Dan terlihat nyata,
betapa sering kita meminta ampunan,
tanpa benar-benar ingin berubah.
Ramadhan.....,
engkau bukan bulan yang memanjakan,
engkau adalah ruang pembersihan,
tempat mengikis kerak jiwa
Tempat mengubur riuh kesombongan di dada,
Tempat mengalirkan kembali "air malu"
ke dalam hati yang mengering.
Di sajadah yang basah oleh sujud,
aku mulai paham:
bahwa penyucian bukanlah menjadi tanpa dosa,
melainkan berani mengakui noda
dan mencucinya dengan taubat yang sesungguhnya, .
Sehingga nanti, saat ramadhan pergi,
Ia tinggalkan sedikit cahaya,
di relung terdalam dari jiwa kita,
agar setelah lapar berlalu,
dan pesta kembali menggoda,
Kita tetap ingat,
bahwa kita pernah ada dalam satu bulan,
di mana kita belajar
menjadi manusia.
@ Ma'ruf ASH, Simo, 19 Februari 2026.
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform