Selasa pagi masih setengah terjaga,
DUKA KERETA KITA
Kemarin pagi....
Saat Matahari baru belajar menyebut nama-nama,
dan rel-rel besi memanjang seperti doa
yang tak pernah selesai dibacakan.
Di Timur Bekasi,
waktu tiba-tiba tersentak—
dua laju bertemu tanpa sempat saling memahami,
besi beradu, kaca pecah,
dan hidup… terlepas dari genggaman.
Lima belas napas pulang lebih cepat,
tanpa pamit yang utuh,
tanpa kalimat terakhir yang sempat dirapikan.
Puluhan lainnya tertinggal di antara luka,
menggenggam nyeri seperti pertanyaan
yang tak kunjung diberi jawaban.
Ini salah siapa?
Apakah takdir yang menulis terlalu tergesa,
menggoreskan akhir pada halaman
yang belum selesai dibaca?
Ataukah tangan manusia
yang lalai menjaga jeda,
yang lupa bahwa kecepatan
bisa berubah menjadi kehilangan?
Barangkali kita terlalu sering
menyebut “sudah kehendak-Nya”
untuk menenangkan kegaduhan hati,
padahal di sela-sela itu,
ada keputusan-keputusan kecil
yang kita abaikan—
isyarat-isyarat yang tak dibaca,
aturan yang dilonggarkan,
Maupun tanggung jawab yang diabaikan.
Namun siapa pun yang kita tuduh,
nyawa tak bisa kembali,
dan pagi tetap berjalan
dengan sisa-sisa suara sirene
yang menggantung di udara.
Rel-rel itu masih ada,
membentang seperti pengingat,
bahwa setiap perjalanan
adalah titipan yang rapuh,
dan setiap kelalaian, sekecil apa pun,
bisa menjadi gema panjang
di dada banyak orang.
Selasa pagi kini tak lagi sama—
ia menyimpan duka
di antara deru,
dan kita, yang masih diberi waktu,
ditinggalkan dengan satu tugas sunyi:
menjaga hidup
dengan lebih sadar,
lebih pelan,
dan lebih bertanggung jawab
dari sebelumnya.
@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, Rabu, 29 April 2026.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform