Langsung ke konten utama

DUKA KERETA KITA (By: Ma'ruf Abu Said Husein)

Selasa pagi masih setengah terjaga,

DUKA KERETA KITA

Kemarin pagi....

Saat Matahari baru belajar menyebut nama-nama,

dan rel-rel besi memanjang seperti doa

yang tak pernah selesai dibacakan.

Di Timur Bekasi,
waktu tiba-tiba tersentak—
dua laju bertemu tanpa sempat saling memahami,
besi beradu, kaca pecah,
dan hidup… terlepas dari genggaman.

Lima belas napas pulang lebih cepat,
tanpa pamit yang utuh,
tanpa kalimat terakhir yang sempat dirapikan.
Puluhan lainnya tertinggal di antara luka,
menggenggam nyeri seperti pertanyaan
yang tak kunjung diberi jawaban.

Ini salah siapa?

Apakah takdir yang menulis terlalu tergesa,
menggoreskan akhir pada halaman
yang belum selesai dibaca?
Ataukah tangan manusia
yang lalai menjaga jeda,
yang lupa bahwa kecepatan
bisa berubah menjadi kehilangan?

Barangkali kita terlalu sering
menyebut “sudah kehendak-Nya”
untuk menenangkan kegaduhan hati,
padahal di sela-sela itu,
ada keputusan-keputusan kecil
yang kita abaikan—
isyarat-isyarat yang tak dibaca,
aturan yang dilonggarkan,
Maupun tanggung jawab yang diabaikan.

Namun siapa pun yang kita tuduh,
nyawa tak bisa kembali,
dan pagi tetap berjalan
dengan sisa-sisa suara sirene
yang menggantung di udara.

Rel-rel itu masih ada,
membentang seperti pengingat,
bahwa setiap perjalanan
adalah titipan yang rapuh,
dan setiap kelalaian, sekecil apa pun,
bisa menjadi gema panjang
di dada banyak orang.

Selasa pagi kini tak lagi sama—
ia menyimpan duka
di antara deru,
dan kita, yang masih diberi waktu,
ditinggalkan dengan satu tugas sunyi:

menjaga hidup
dengan lebih sadar,
lebih pelan,
dan lebih bertanggung jawab
dari sebelumnya.

@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, Rabu, 29 April 2026. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Beranda Kemerdekaan Kita (by: Ma'ruf ASH)

  Beranda Kemerdekaan Kita Agustus, bulan ketika merah putih kembali berkibar dimana-mana, Dan rakyat Indonesia menengadah pada langit yang sama, meski dapur masih mengeja dengan sabar, Serta meja makan sering lebih sunyi daripada pidato kekuasaan Kemerdekaan datang sebagai cahaya yang tak pernah kami ingkari. Ia adalah darah para syuhada yang tak pantas ditukar dengan keluh semata. Namun di gang-gang sempit negeri ini, kami melihat harga-harga tak berhenti berlari lebih cepat daripada upah penduduk negeri, sementara harapan masih tertatih mengejar pagi. Orang-orang kecil tetap berangkat sebelum fajar, memanggul cangkul, gerobak, dan doa. Mereka bekerja sepanjang usia, tetapi kemiskinan seolah enggan berpisah dari mereka. Aneh, justru di rumah-rumah reyot itulah syukur paling khusyuk sering dipanjatkan. Sepotong singkong dibagi menjadi kebahagiaan, seteguk teh menjadi pesta kesederhanaan. Obrolan di pinggir sawah menjadi hiburan tak tergantikan. Sedang di gedung-gedung megah, kemer...