MORALITAS YANG TERLINDAS
Waktu menjelang senja, matahari tak sempat menutup wajahnya,
Ku dengar kabar tentang perampokan,
Tentang kebiadaban, tentang kebengisan yang dipertontonkan,
Dan tentang seorang bocah enam tahun yang terkapar bersimbah darah,
Oleh kebiadaban iblis yang bertopeng manusia,
Jerit yang telah pergi bukan sekadar suara,
ia adalah lonceng nurani
yang dipatahkan ditengah biadapnya kehidupan,
saat harta lebih disembah
daripada nyawa yang baru belajar mengeja doa.
Moralitas tergeletak dan diinjak diantara puing-puing angkara,
dan terlindas langkah-langkah serakah,
Saat tangan dewasa berubah dingin,
dan lupa bahwa anak-anak
adalah titipan langit, bukan obyek pelampiasan kebodohan.
Kebiadaban itu merenggut nyawa,
Dari bocah yang usianya masih seumur doa yang terbata,
masih belajar menyebut nama ibu
sebelum tidur,
namun dunia mengajarinya arti takut
tanpa sempat menjelaskan arti kehidupan.
Bukan pisau lah yang paling melukai jiwa,
melainkan moralitas yang gugur di hadapan sepotong harta yang diambil paksa.
Darah bocah itu melahirkan tanya,
sejauh apa manusia
harus kehilangan Tuhannya ?,
hingga tega mengubur masa depan,
dan menggorok kuncup bunga titipan Semesta ?
@ Ma'ruf Abu Said Husein, 30 Januari 2026
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform