Langsung ke konten utama

MORALITAS YANG TERLINDAS (By : Ma'ruf ASH)

MORALITAS YANG TERLINDAS


Waktu menjelang senja, matahari tak sempat menutup wajahnya,

Ku dengar kabar tentang perampokan,

Tentang kebiadaban, tentang kebengisan yang dipertontonkan,

Dan tentang seorang bocah enam tahun yang terkapar bersimbah darah, 

Oleh kebiadaban iblis yang bertopeng manusia,


Jerit yang telah pergi bukan sekadar suara,

ia adalah lonceng nurani

yang dipatahkan ditengah biadapnya kehidupan,

saat harta lebih disembah

daripada nyawa yang baru belajar mengeja doa.


Moralitas tergeletak dan diinjak diantara puing-puing angkara,

dan terlindas langkah-langkah serakah,

Saat tangan dewasa berubah dingin,

dan lupa bahwa anak-anak

adalah titipan langit, bukan obyek pelampiasan kebodohan.


Kebiadaban itu merenggut nyawa, 

Dari bocah yang usianya masih seumur doa yang terbata,

masih belajar menyebut nama ibu

sebelum tidur,

namun dunia mengajarinya arti takut

tanpa sempat menjelaskan arti kehidupan.


Bukan pisau lah yang paling melukai jiwa,

melainkan moralitas yang gugur di hadapan sepotong harta yang diambil paksa.


Darah bocah itu melahirkan tanya,

sejauh apa manusia

harus kehilangan Tuhannya ?,

hingga tega mengubur masa depan, 

dan menggorok kuncup bunga titipan Semesta ?


@ Ma'ruf Abu Said Husein, 30 Januari 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

SELAMAT DATANG CAHAYA

 SELAMAT DATANG CAHAYA Selamat datang, wahai jiwa-jiwa Pencari, Telah tiba langkah kakimu di Madrasah yang membuka asa. Tahun ajaran baru terbentang bagai lautan hikmah, setiap langkahmu adalah jejak menuju cahaya. Tinggalkan lelah masa lalu di balik gerbang, buka lembaran suci dengan niat yang terang. Ilmu baru menantimu dalam baris ayat dan kata,  akhlak mulia menuntunmu di setiap langkah nyata. Jangan engkau gentar menghadapi tantangan baru, karena peluhmu hari ini adalah mahkota esok hari Jangan malu belajar dari salah dan lupa, karena setiap kesalahan adalah guru utama. Madrasah bukan sekadar bangunan berdinding, ia adalah taman ilmu, ladang akhlak yang subur, di sanalah kau menabur mimpi-mimpi luhur, dan memanen iman yang mengakar subur. Bangkitlah, pelajar Madrasah… Hadapi tahun Ajaran baru dengan semangat membara, gapailah ilmu,  Dan perindah dirimu dengan adab mulia, dan  karena engkau adalah penerus cahaya umat dan bangsa.  @ Ma'ruf Abu Said Husein, Si...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.