*LOGISKAH ?*
Di ujung senja
Diatas kursi renta
Aku memberanikan diri untuk bertanya
Bertanya karena cinta
Tentang sebuah realita
Logiskah sepiring nasi
lebih fasih menjelaskan rumus kehidupan,
ketimbang suara guru
yang serak menahan perih ketidak adilan zaman ?
Aku dengar, Katanya, gizi adalah cahaya,
protein adalah masa depan, dan vitamin adalah kecerdasan.
Lalu guru apa?
Adakah sekadar bayangan di di depan papan tulis yang retak ?
Sepertinya.....
Negeri ini gemar menghitung kalori,
tapi lupa menakar nurani.
Anak-anak diberi susu,
namun pikirannya dibiarkan dingin
tanpa sentuhan makna.
Oh, betapa mulia program makan gratis,
difoto, dipuji, disorot kamera.
Sementara guru berdiri di depan kelas dengan sepatu usang,
dan wajah murung berbungkus doa,
Tentang angan yang telah terbungkus kain kafan,
Dan menunggu mu'zizat Tuhan untuk menghidupkan.
Apakah kecerdasan lahir dari sendok yang berkilau ?,
atau dari kesabaran
yang mengulang huruf demi huruf hingga akal menemukan cahaya?
Jika perut kenyang adalah segalanya,
maka perpustakaan tak perlu lagi untuk dibuka.
Gantilah buku dengan dapur umum,
gantilah kurikulum dengan daftar menu,
dan ijazah cukup ditandatangani koki,
Sebagai tanda anak telah lulus makan bergizi.
Sore ini aku mencoba mengingat sejarah,
Tergambar nyata, bahwa sejarah tak pernah mencatat
bangsa besar karena lauknya lezat, melainkan karena gurunya dihargai,
karena ilmunya dimuliakan,
Dan karena akhlaknya ditanam sejak pagi.
Maaf Tuan....
Satir sore ini bukan menolak nasi,
bukan pula meremehkan gizi.
Ia hanya bertanya lirih dengan hati,
jika guru terus ditempatkan
di garis terbawah kehidupan,
siapa yang akan mengajarkan
arti tertinggi kemanusiaan?
Sebab kenyang tanpa ilmu
hanya membuat tubuh tegak,
bukan pikiran merdeka,
Sehingga bangsa menjadi berjaya.
@Ma'ruf Abu Said Husein, Boyolali, 17 Februari 2026.
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform