Langsung ke konten utama

IMPERIALISME BARU DI VENEZUELA

 IMPERIALISME BARU DI VENEZUELA 


Dengan dalih "Demi ketertiban dan keamanan dunia",

Terorisme negara terus berjalan, 

Imperialisme baru terus diluaskan,

Dan kini, di negara bernama Venezuela, Seorang presiden diseret dari martabat bangsanya.

Bukan hukum internasional yang berjalan,

melainkan bayang imperium yang menuntut tunduk pada kekuasaan.


Trump—nama itu telah menjelma menjadi palu,

memukul retak meja kedaulatan lain dengan dalih ketertiban.

Hukum internasional dipelintir menjadi peta perang untuk penjajahan, 

untuk mengubur 

Keadilan, 

Maka kedaulatan setiap negara terancam untuk dikuburkan,

Dan keadilan hanya diukur dari jarak kekuasaan.


Venezuela.

Ia bukan sekadar tentang tanah dan minyak,

ia adalah kehendak rakyat yang berdaulat.

Dan ketika satu negara menangkap kepala negara lainnya,

Maka, retaklah janji dunia tentang kesetaraan negara, 

Tentang adil dan damai, yang terukir dalam Piagam Perdamaian. 


Imperialisme tak selalu datang dengan meriam,

Namun seringkali ia beraroma sanksi, dan penangkapan.

Imperialisme baru bertujuan menanam rasa takut, memanen kepatuhan,

lalu melabeli hasilnya sebagai “demokrasi”.


Hari ini Maduro,

besok siapa lagi yang dipilih oleh kuasa untuk dijadikan mangsa ?

Lalu dimanakah hak anak-anak bangsa ?

Jika kedaulatan bisa direnggut paksa oleh negara yang memiliki kuasa,

Ini artinya, setiap bangsa hidup di tepi jurang yang sama.

Yaitu Penjajahan berwajah baru, 

dengan penguburan kedaulatan negara sebagai jalan utama, 

Selanjutnya, regulasi ekonomi diatur secara paksa

@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 5 Januari 2026.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Beranda Kemerdekaan Kita (by: Ma'ruf ASH)

  Beranda Kemerdekaan Kita Agustus, bulan ketika merah putih kembali berkibar dimana-mana, Dan rakyat Indonesia menengadah pada langit yang sama, meski dapur masih mengeja dengan sabar, Serta meja makan sering lebih sunyi daripada pidato kekuasaan Kemerdekaan datang sebagai cahaya yang tak pernah kami ingkari. Ia adalah darah para syuhada yang tak pantas ditukar dengan keluh semata. Namun di gang-gang sempit negeri ini, kami melihat harga-harga tak berhenti berlari lebih cepat daripada upah penduduk negeri, sementara harapan masih tertatih mengejar pagi. Orang-orang kecil tetap berangkat sebelum fajar, memanggul cangkul, gerobak, dan doa. Mereka bekerja sepanjang usia, tetapi kemiskinan seolah enggan berpisah dari mereka. Aneh, justru di rumah-rumah reyot itulah syukur paling khusyuk sering dipanjatkan. Sepotong singkong dibagi menjadi kebahagiaan, seteguk teh menjadi pesta kesederhanaan. Obrolan di pinggir sawah menjadi hiburan tak tergantikan. Sedang di gedung-gedung megah, kemer...