Langsung ke konten utama

Postingan

MUHASABAH MALAM

 MUHASABAH MALAM Di ujung kalender kita berdiri tanpa kembang api memancar di angkasa,  Tanpa gempita petasan di udara,  Tetapi sekedar jeda  panjang antara doa dan duka,  Sebagaimana himbauan Bupati Boyolali,  Untuk hidupkan empati Desember tahun ini,  Hujan turun lebih lama dari biasanya, sungai meluap melampaui ingatan, rumah-rumah hanyut bersama jadwal hidup yang tertunda. Dan berjuta telinga tak mendengar letih bumi menegur kita dengan tanpa kata, Di sebagian barat  Nusantara air naik sampai ke dada sejarah, banjir bukan sekedar menenggelamkan, dan merendam beratus-ratus desa, tetapi juga perasaan yang tersimpan lama. Di Aceh, air menenggelamkan ribuan rumah, sementara kata-kata keras beredar lebih deras dari arus banjir yang tenggelam kan kota. Kata tentang luka lama yang kembali dibuka, tentang sebagian suara yang ingin berjalan sendiri,  saat yang lain masih berjuang menyelamatkan anak-anak, para wanita, dari dingin malam yang menceka...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

CERMIN JIWA

 CERMIN JIWA Tuhan....... Terimakasih aku ucapkan  Atas anugerah cermin jiwa, bernama kata-kata. Ia adalah tempat setiap diri berkaca Ia adalah tempat setiap kita membaca jiwa-jiwa. Dalam setiap kata yang meluncur, terdapat jejak jiwa yang tak terlihat oleh mata. Bahasa bukan sekadar bunyi lisan anak manusia, melainkan cermin jernih yang memantulkan warna,  Memantulkan bentuk dan kondisi jiwa Tuhan ........ Terimakasih aku ucapkan Atas anugerah agama dengan ruh tata Krama, sebagaimana dalam firman suci dan sabda nabi. Ia berdiri sebagai penjaga sunyi, Yang tampil dalam setiap kata, dan gerak raga. Kata dapat menjadi obat atas luka, atau justru menggores  luka yang sembuhnya butuh waktu yang lama. Maka, setiap kalimat memerlukan kebijaksanaan, agar tak menebar bara dalam percakapan. Berbahasalah kita seperti menyalakan lentera— menuntun dengan cahaya, bukan membakar dan menghancurkan,  Sebab, dalam dunia yang penuh gema, suara paling luhur adalah kata yang penuh ...

MEMBACA JEJAK-JEJAK TUHAN

 MEMBACA JEJAK-JEJAK TUHAN Di antara hela napas di ujung malam, ketika cahaya masih berjuang mencari makna, aku menunduk diam pada sunyi, dan menemukan jejak-jejak Tuhan tersembunyi. Ia ada di balik setiap fenomena, Ia pun tersembunyi di dalam firman suci-Nya dalam setiap jalinan kata. Ia adalah getar halus pada daun yang memilih jatuh perlahan, Pada keagungan asmaNya yang bersemayam dalam istana jiwa, sebagai pelita Penuntun jalan kembali ke haribaan Sang Maha.  Jejak-jejak Keagungan-Nya hadir dalam bisikan tanpa suara, melintasi gurun resah dalam dada— yang mengajarkan bahwa setiap peristiwa  adalah pintu menuju pemahaman tentang keagungan Nya, dan setiap sedih maupun gembira  adalah jendela kecil menuju cahaya. Dalam diam, Aku terus berjalan menyusuri lorong-lorong malam yang sunyi, menyusuri jejak yang tak memaksa, jejak yang mengajakku mengingat bahwa hidup bukan sekadar datang dan pergi, melainkan perjalanan sunyi untuk menemukan siapa yang selalu menemani kita...

DI BALIK HINGAR BINGAR PERINGATAN HARI GURU NASIONAL

DI BALIK HINGAR BINGAR PERINGATAN HARI GURU NASIONAL Di balik gegap gempita ucapan “Selamat Hari Guru Nasional”, Yang terpampang di depan setiap Gedung sekolah kita Di setiap story media sosial guru dan siswa Indonesia  Ada suara lirih yang nyaris tenggelam di antara spanduk dan seremoni, suara lirih guru-guru swasta, yang menderita ketidak adilan, dalam usia yang teramat panjang,  Sebuah ketidakadilan yang menindih,  Tentang kebijakan "yang pilih kasih". Puluhan ribu hati berdetak pelan, menyembunyikan lelah yang panjang, dari gaji yang tak cukup menghidupinya dalam sepekan. Namun setiap pagi, mereka sigap membuka pintu kelas dengan tersenyum bangga, seolah luka di dada hanyalah embun yang sebentar lagi hilang tersapu oleh Sang Surya. Betapa teguh tangan-tangan kecil itu, mengukir masa depan bangsa tanpa ragu, meski mereka sendiri masih harus berperang melawan kekurangan  yang tak kunjung usai. Ketekunan mereka adalah nyala kecil yang menolak padam di tengah ketimpa...

IRONI HUKUM KITA

 IRONI HUKUM KITA (Sebuah refleksi vonis hukuman untuk Ira Puspa Dewi) Di negeri yang suka menuduh bayang-bayang, kebenaran sering datang terlambat— kadang diseret, kadang dipaksa diam di pojok ruangan yang lampunya sengaja diredupkan. Ira Puspadewi, namamu kini melayang-layang di antara bisik-bisik yang tak pernah tuntas, sementara tangan hukum sibuk menudingkan jari, tapi lupa menggenggam bukti. Begitu murah tuduhan hukum di Republik kita, laksana barang bekas  "pasar loak" dipinggiran kota. Namun, begitu mahal harga keadilan. Seolah-olah kecurigaan lebih suci daripada fakta. Maka, dalam hati yang lelah, kita pun bertanya ? jika hukum lahir dari prasangka, lalu siapa sebenarnya yang layak dihukum ? Orang jujur, atau koruptor perusak negara? Di balik senyum sindiran yang getir, kita belajar satu hal yang menyesakkan dada: bahwa sering kali tersaji, yang dihukum bukan kesalahan— tapi keberanian seseorang untuk tetap jujur di tengah panggung yang ingin ia tunduk. Dan kita hany...

AKAL DAN DOGMA

AKAL DAN DOGMA Masih Aku saksikan mimbar-mimbar khurafat banyak dipuja. Tempat tahayul mengusir nalar ummat beragama Dengan kesalehan fiksi, di luar logika yang terbungkus "kesucian yang dipaksakan". Ada hati yang bersandar penuh pasrah, mengira takdir adalah rantai yang membelenggu langkah. Ia berhenti dan enggan untuk bertanya,  karena takut dianggap kurangnya iman di dada. Maka, Pelan-pelan, cahaya nalar menjadi  redup, seperti lentera yang kehabisan minyak— bukan karena tak mampu menyala, tapi karena sengaja dibiarkan padam, Oleh dan atas nama kepatuhan yang salah jalan. Di sanalah kejumudan tumbuh melebar, Dan, akal pun semakin jauh dari mimbar keilmuan, budaya kehilangan detak, tak lagi bergetar, Maka manusia pun kembali menjadi bayang dirinya sendiri, takut untuk bergerak, Dan takut untuk berubah. Padahal, dalam Kitab tertulis nyata,  Bahwa Tuhan kita  memanggil dengan lembut: “Lihatlah, renungkanlah, pahamilah.” Namun, suara itu tenggelam oleh gemuruh dogma t...

SELAMAT MILAD MATAHARI BANGSA

 SELAMAT MILAD MATAHARI BANGSA Muhammadiyah.... Di seratus tiga belas tahun usia, Engkau ingatkan kami untuk menundukkan hati— mendengar kembali gema langkah para perintis bangsa, yang telah menyalakan cahaya di tengah zaman yang kusam.  Dan untuk kembali membaca zaman kita yang sedang berjalan  Yaitu, zaman ketika fitnah politik tak berhenti mengudara seperti debu yang menyesakkan dada kita, Zaman ketika mafia hukum berjalan tanpa malu, dan zaman ketika moralitas dijual murah di pasar gelap kepentingan, kita pun bertanya pada diri: masihkah cahaya itu tetap menyala? Masihkah kompas iman, dan ideologi Pancasila menuntun arah kita,  di antara ributnya egoisme kepentingan yang tak punya malu untuk menggema Dalam hening, kudengar samar-samar,  mengalun lembut di balik riuh dan luka, Tentang suara lembut yang tak pernah padam— suara pengabdian yang lahir dari niat ikhlas untuk kemajuan, dan pengabdian untuk Tuhan, Suara yang mengajak manusia untuk merawat sesama tan...

PAHLAWAN DARI LUWU

Di tanah Luwu, angin membawa kabar lirih, tentang dua jiwa yang tak menunduk di hadapan kenyataan getir. Abdul Muis dan Rasnal melawan ketertindasan. Mereka membela saudara-saudaranya yang tertindas oleh administrasi tanpa nurani. Sepuluh bulan mengabdi tanpa gaji. Namun, sayang justeru berujung dipenjara dalam jeruji Mereka berdua bukan pencuri, bukan pengkhianat negeri, mereka hanya menggenggam nurani—dan bertanya: “Mengapa saudaraku yang berjuang untuk bangsa tak diberi upahnya oleh negara ?” Apakah bertanya kini dosa ? Apakah membela kebenaran kini kejahatan? Negara diam, hukum menutup mata, sementara keadilan bersembunyi di balik meja birokrasi yang dingin tanpa denyut nurani. Sepuluh bulan pengabdian tanpa bayaran— bukan sekadar angka, tapi luka yang panjang. Dan dua pahlawan itu menanggungnya, karena keberanian justeru dihukum dalam penjara, Mereka dipenjara bukan karena salah, tapi karena benar di waktu yang salah. Jeruji besi bukan penjara bagi tubuh mereka, mela...

RUMAH TUHAN YANG TAK TEDUH LAGI

 “RUMAH TUHAN YANG TAK TEDUH LAGI” (Refleksi Penganiayaan di Masjid Agung Sibolga) Di bawah kubah yang mestinya teduh, seorang mahasiswa pergi ke kota, menenteng sisa mimpi dengan sisa sepuluh ribu rupiah di kantong celananya. Ia tak membawa apa pun—hanya segumpal harapan, dan sepotong iman yang ingin ia jaga dari kerasnya jalan-jalan  kota. Malam itu, Masjid Agung Sibolga terbuka baginya, sebagai rumah terakhir di antara dingin dan lapar. Ia berbaring di lantai sujud, menyandarkan lelah pada asma Tuhan yang terukir indah di dinding mihrab. Namun, fajar tak pernah datang seperti biasa. Ia tak lagi terbangun oleh adzan, melainkan oleh tangan-tangan yang menolak kasih, dan suara yang lebih tajam dari pedang prasangka. Sungguh mataku mendadak berkaca-kaca Saat di layar kaca, aku membaca kisahnya— tinta berita menggantikan darah yang telah kering. Hatiku bertanya pada langit, adakah itu masih rumah Tuhan? Ataukah kini menjadi istana baru tempat berhala egoisme dan kesalehan palsu ...

SUARA YANG TERPINGGIRKAN

 *SUARA YANG TERPINGGIRKAN* +Sebuah refleksi demonstrasi Guru Madrasah swasta Indonesia) Di bawah langit Jakarta yang gerah, ribuan langkah puluhan ribu guru Madrasah swasta menyatu dalam doa dan luka. Mereka hadir membawa papan harapan, bukan batu, bukan pula  amarah, dan represif yang diluapkan— Mereka hanya membawa lembar keyakinan bahwa hak dan kewajiban semestinya adil bagi semua. Sejak proklamasi dikumandangkan, Sebagian besar mereka berdiri di ruang-ruang sempit mengajar anak bangsa dengan gaji sebulan yang tak cukup untuk makan dalam sepekan  Sedih rasanya- dengan senyum yang menutupi lapar, dan dengan ikhlas yang mereka jaga,  Ternyata dijadikan hujjah penguasa untuk menunda keadilan. Tuan-tuan pemangku kebijakan, Melalui mimbar Maya aku katakan bahwa, Mereka bukanlah pengemis kebijakan, mereka pewaris cita-cita luhur kemerdekaan. Namun negara seperti ayah yang lupa, bahwa di sudut madrasah yang reyot itu,  mereka tetap ikhlas menyuapi anak-anak bangsa ...

MENGAMBIL HIKMAH DARI LUKA SEJARAH

 MENGAMBIL HIKMAH DARI SEJARAH  Dalam gelap dan pekatnya sejarah, darah pernah menetes, tangis bangsa pecah di malam-malam kelam, sebuah luka menggores dalam dada ibu pertiwi kita, menyisakan jejak getir yang tak boleh dilupa. Bukan untuk menumbuhkan benci kita mengenang, melainkan untuk menimba hikmah dari luka sejarah, agar waspada terjaga di relung jiwa anak-anak Bangsa, dan persatuan tetap tegak di atas perbedaan. Sejarah adalah guru yang bersuara lirih, ia berkata: jangan lengah, jangan terpecah, sebab bangsa besar tumbang bukan oleh musuh di jauh sana, melainkan dari retak di dalam rumahnya sendiri. Kawan, maka mari kita genggam luka itu dengan doa, kita jadikan bara menjadi pelita, agar cinta kepada republik ini tak berhenti menyala, mengikat anak-anak bangsa dalam satu nadi: Indonesia merdeka,  Dan terus menjadi semakin berjaya.  @ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 30 September 2025, dini hari.

SABDA IBLIS

  SABDA IBLIS Ketika lidah angkuh berucap, “Aku lebih baik darinya,” terbitlah "api congkak".membakar nurani, menutup mata dari hikmah Sang Pencipta, menghalau cahaya sujud yang murni. Kesombongan itu bukan mahkota, melainkan belenggu yang menyesakkan dada, membuat hati buta pada kebenaran, hingga Tuhan pun berfirman tegas, bahwa “Terkutuklah ia dalam kesesatan yang nyata.” Iblis terhempas bukan karena kurang ilmu, tetapi karena congkak, yang menolak untuk tunduk, takbirnya terasa hampa, ibadahnya sia-sia, sebab di balik sujud yang panjang, tersimpan "api aku", api sombong yang gelap dan pekat. Wahai jiwa, belajarlah dari kisah itu, jangan biarkan kesombongan menutup pintu, sebab satu kata "aku lebih baik dari dia" cukup menghapus lautan amal anak manusia, meninggalkan jejak abadi, laknat dan nestapa @ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 25 September 2025.  .

RACUN ZAMAN

 RACUN ZAMAN Dalam ruang sebuah negara yang penuh suara, ada mereka yang memilih diam, menutup telinga, menutup mata, seakan luka bersama bukan tanggung jawabnya. Masa bodoh, "luweh", orang-orang menyebutnya  Pelan, tapi pasti Masa bodoh tumbuh jadi racun sebuah negeri, mengalir diam-diam ke nadi institusi, meruntuhkan tiang kepercayaan, hingga rumah besar itu retak dari dalam dalam diam. Saat mereka mulai memandang remeh suatu masalah,, ia akan menjelma api kecil dalam sudut gelap, lalu menjalar tanpa kendali, membakar harapan,  dan melahap masa depan. Mengertilah kita bahwa, Luweh... Adalah pembunuh tanpa pisau, ia menghancurkan tanpa gemuruh, menyisakan hampa di tengah kebersamaan yang pura-pura. Hanya kepedulian yang mampu jadi perisai, hanya kebersamaan sejati yang akan menjadi jembatan, agar institusi, agar masyarakat, tak tenggelam oleh gelombang acuh, racun zaman. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 24 September 2025

Kepada Siapa Lagi Aku Percaya?

  Kepada Siapa Lagi Aku Percaya? Aku berdiri di tengah bising negeri, suara janji bertebaran bagai daun kering berserakan, retak di bawah pijakan dusta yang tak pernah jemu. Lembaga negara— yang seharusnya sebagai benteng, justeru menjadi pasar kepentingan. Kursi-kursi rapat penuh genggam tangan dingin, dimana uang menggantikan nurani. Ormas keagamaan— yang seharusnya menjadi cahaya, justeru terjerat bayang-bayang yang sama. Kas suara doa bercampur bisik laba, membuat langit terasa jauh dari bumi. Aku rakyat kecil, menggenggam resah seperti bara. Jika negara tak bisa kupercaya, jika agamawan pun berpeluk dengan kuasa, dan terlibat andil menggarong negara Lantas, kepada siapa lagi aku harus percaya? Mungkin, hanya pada sunyi di dalam dada, Kepada suara hati yang belum bisa dibeli, Kepada Tuhan yang tetap suci meski para penjaga nama-Nya terjerat ambisi. Di jalan buntu ini aku belajar, bahwa kejujuran bukan milik lembaga, tetapi perjuangan diri— yang s...

Api Dan Cahaya Madrasah Kita

 Api dan Cahaya Madrasah Kita Dari pinggiran kota Karanggede, anak-anak Madrasah Muda (Muhammadiyah dua) menyalakan tekad, langkah kecil mereka menyulam cita,  walau dengan seragam sederhana, namun dengan jiwa lebih besar dari samudra. Mereka datang bukan sekadar peserta, tapi sebagai pejuang dengan nyala keyakinan, dalam menapaki tanah jambore kompetisi dan persahabatan, Mereka bagaikan prajurit muda yang tak gentar meski Matahari terik membakar,  meski letih yang tak berhenti menindih, Tenda-tenda perkemahan mereka  dirikan bagai benteng harapan, api unggun menyala  menjelma menjadi  cahaya peradaban, terukir di antara yel-yel, di antara untaian doa, dan diantara disiplin barisan seluruh anggota. Jambore Hizbul Wathon bukan sekadar perkemahan, ia adalah madrasah jiwa, tempat ditempa keberanian dan kesetiaan.” Ia adalah wahana siswa berkompetisi, dan arena membangun persahabatan sejati. Di sini mereka belajar, bahwa juara bukan hadiah semata, tapi tanda ba...

TANGIS ANAK NEGERI

 TANGIS ANAK NEGERI Telah satu bulan kita saksikan,  Tentang fenomena melalui media sosial kita,  Tentang jalan-jalan berbagai  kota di Republik kita, Tentang asap hitam yang menjulang ke angkasa, Dan tentang teriak massa yang pecah bagai gelombang, Serta, tentang suara rakyat tak lagi ditampung oleh telinga yang bebal di kursi Dewan Perwakilan. Lihatlah Tuan, disana Tubuh-tubuh itu jatuh tersungkur, Dan darah membasahi tanah  pertiwi, anak bangsa gugur bukan di medan perang, melainkan di antara bambu runcing yang berganti gas air mata,  Di antara batu yang diterbangkan oleh amarah yang tersulut oleh ketidak-adilan ,  maupun senjata yang diarahkan pada sesama anak bangsa.  Lihatlah Tuan,  Di sana, kepercayaan pun runtuh, bagai dinding tua dihantam badai, janji perwakilan menjadi abu,  ketidakadilan menyalakan bara yang menjelma menjadi  kerusuhan dan penjarahan. Lihatlah Tuan, Negeri tercintaku menangis, air matanya bercampur debu j...

Silaturahmi ke Ndalem Kanjeng Sunan Kalijaga

Silaturahmi ke Ndalem Kanjeng Sunan Kalijaga Di antara desir angin malam, kujejakkan langkah dengan hati bergetar, menuju makammu, wahai kekasih Allah, penyambung cahaya dari langit ke bumi. Rinduku berlapis doa, mahabahku berbalut salam, kupanjatkan shalawat dalam bisikan lirih, agar ruh sucimu menyambut dengan kasih. Kanjeng Sunan, engkau peneduh jiwa, kau jaga rahasia antara syariat dan hakikat, kau anyam iman dalam budaya, hingga Islam bersemi di tanah Jawa. Di hadapan pusaramu, air mata tak lagi kuasa sembunyi, cinta ini bukan sekadar ziarah, tapi azam untuk menapaki jejakmu yang terang. Ya Allah, jadikan silaturahmiku ini bukan sekadar singgah, melainkan penyambung cahaya mahabbah, agar aku selalu ada dalam cintai-Mu sebagaimana cintamu kepada untuk para wali kekasihMu Sebuah cinta tanpa batas. Dari Sang Maha Welas @ Ma'ruf Abu Said Husein, Demak, 31 Agustus 2025. 

SELAMAT JALAN AVAN

 SELAMAT JALAN AVAN Selamat jalan, Avan Kurniawan, penjemput rezeki di jalan berdebu, ojol sederhana dengan doa di dadamu, gugur di aspal yang menjadi saksi bisu. Terkapar di jalan dalam perjuangan menuntut keadilan  Tubuhmu terhempas, roda arogansi kekuasaan yang melindas tanpa rasa, darahmu mengalir membasahi jalan, seakan menuliskan puisi terakhir tentang ketidakadilan. Teriakan histeris pecah di udara, jerit saksi mata menggema di sudut kota, namun roda kekuasaan terus melaju, meninggalkan jejak luka tanpa rasa bersalah dan rasa malu. Avan, Engkau pergi membawa cerita pilu, namamu tercatat di dada bangsa yang kelu, bahwa di negeri ini, nyawa rakyat jelata sering dipatahkan kuasa tanpa rasa. Selamat jalan, Avan Kurniawan, setiap tetes darahmu adalah doa, bahwa harapmu akan terus menyala Dan gugurmu, adalah jalan lapang menuju surga. @. Ma'ruf Abu Said Husein, Karanggede, 29 Agustus 2025.