Kepada Siapa Lagi Aku Percaya?
Aku berdiri di tengah bising negeri,
suara janji bertebaran bagai daun kering berserakan,
retak di bawah pijakan dusta yang tak pernah jemu.
Lembaga negara—
yang seharusnya sebagai benteng,
justeru menjadi pasar kepentingan.
Kursi-kursi rapat penuh genggam tangan dingin,
dimana uang menggantikan nurani.
Ormas keagamaan—
yang seharusnya menjadi cahaya,
justeru terjerat bayang-bayang yang sama.
Kas suara doa bercampur bisik laba,
membuat langit terasa jauh dari bumi.
Aku rakyat kecil,
menggenggam resah seperti bara.
Jika negara tak bisa kupercaya,
jika agamawan pun berpeluk dengan kuasa, dan terlibat andil menggarong negara
Lantas, kepada siapa lagi aku harus percaya?
Mungkin, hanya pada sunyi di dalam dada,
Kepada suara hati yang belum bisa dibeli,
Kepada Tuhan yang tetap suci
meski para penjaga nama-Nya terjerat ambisi.
Di jalan buntu ini aku belajar,
bahwa kejujuran bukan milik lembaga,
tetapi perjuangan diri—
yang setia pada nurani,
meski langit runtuh di muka bumi.
@ Ma`ruf Abu Said Husein, Simo, 14 September 2025
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform