Langsung ke konten utama

DI BALIK HINGAR BINGAR PERINGATAN HARI GURU NASIONAL

DI BALIK HINGAR BINGAR PERINGATAN HARI GURU NASIONAL


Di balik gegap gempita ucapan “Selamat Hari Guru Nasional”,

Yang terpampang di depan setiap Gedung sekolah kita

Di setiap story media sosial guru dan siswa Indonesia 

Ada suara lirih yang nyaris tenggelam

di antara spanduk dan seremoni,

suara lirih guru-guru swasta, yang menderita ketidak adilan,

dalam usia yang teramat panjang, 

Sebuah ketidakadilan

yang menindih, 

Tentang kebijakan "yang pilih kasih".


Puluhan ribu hati berdetak pelan,

menyembunyikan lelah yang panjang, dari gaji yang tak cukup menghidupinya dalam sepekan.

Namun setiap pagi, mereka sigap membuka pintu kelas dengan tersenyum bangga,

seolah luka di dada hanyalah embun

yang sebentar lagi hilang tersapu oleh Sang Surya.


Betapa teguh tangan-tangan kecil itu,

mengukir masa depan bangsa tanpa ragu,

meski mereka sendiri masih harus berperang

melawan kekurangan  yang tak kunjung usai.

Ketekunan mereka adalah nyala kecil

yang menolak padam di tengah ketimpangan yang mendera.


Di tengah hiruk pikuk perayaan Hari Guru Nasional kita,

mereka tetap berusaha untuk kokoh berdiri,

Menebar kata, dan menyulam nalar anak-anak negeri,

Serta menenun cinta di relung jiwa anak bangsa,

demi Indonesia kita,

Untuk terus maju dan berjaya, 

Maka, aku ucapkan selamat untukmu Guru,  Pahlawan, tanpa tanda jasa.


@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 25 November 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Beranda Kemerdekaan Kita (by: Ma'ruf ASH)

  Beranda Kemerdekaan Kita Agustus, bulan ketika merah putih kembali berkibar dimana-mana, Dan rakyat Indonesia menengadah pada langit yang sama, meski dapur masih mengeja dengan sabar, Serta meja makan sering lebih sunyi daripada pidato kekuasaan Kemerdekaan datang sebagai cahaya yang tak pernah kami ingkari. Ia adalah darah para syuhada yang tak pantas ditukar dengan keluh semata. Namun di gang-gang sempit negeri ini, kami melihat harga-harga tak berhenti berlari lebih cepat daripada upah penduduk negeri, sementara harapan masih tertatih mengejar pagi. Orang-orang kecil tetap berangkat sebelum fajar, memanggul cangkul, gerobak, dan doa. Mereka bekerja sepanjang usia, tetapi kemiskinan seolah enggan berpisah dari mereka. Aneh, justru di rumah-rumah reyot itulah syukur paling khusyuk sering dipanjatkan. Sepotong singkong dibagi menjadi kebahagiaan, seteguk teh menjadi pesta kesederhanaan. Obrolan di pinggir sawah menjadi hiburan tak tergantikan. Sedang di gedung-gedung megah, kemer...