Langsung ke konten utama

RUMAH TUHAN YANG TAK TEDUH LAGI

 “RUMAH TUHAN YANG TAK TEDUH LAGI”

(Refleksi Penganiayaan di Masjid Agung Sibolga)


Di bawah kubah yang mestinya teduh,

seorang mahasiswa pergi ke kota, menenteng sisa mimpi dengan sisa sepuluh ribu rupiah di kantong celananya.

Ia tak membawa apa pun—hanya segumpal harapan, dan sepotong iman

yang ingin ia jaga dari kerasnya jalan-jalan  kota.


Malam itu, Masjid Agung Sibolga terbuka baginya,

sebagai rumah terakhir di antara dingin dan lapar.

Ia berbaring di lantai sujud,

menyandarkan lelah pada asma Tuhan

yang terukir indah di dinding mihrab.


Namun, fajar tak pernah datang seperti biasa.

Ia tak lagi terbangun oleh adzan,

melainkan oleh tangan-tangan yang menolak kasih,

dan suara yang lebih tajam dari pedang prasangka.


Sungguh mataku mendadak berkaca-kaca

Saat di layar kaca, aku membaca kisahnya—

tinta berita menggantikan darah yang telah kering.

Hatiku bertanya pada langit,

adakah itu masih rumah Tuhan?

Ataukah kini menjadi istana baru tempat berhala egoisme dan kesalehan palsu bersemayam


Betapa ironis—

di tempat sujud pengabdian kepada Sang Maha Kasih, seorang anak manusia dapat dianiaya dengan sadis di rumah Tuhannya, 

entah mengapa ? cinta bisa kehilangan alamatnya.

Hingga aku pun merenung,

Mungkinkah Tuhan telah lama keluar dari bangunan megah itu—

menyelinap diam keluar ke jalan kota,

menemani para pengembara miskin yang tak punya tempat pulang.

Dan dengan kasihNya memeluk mereka yang tertindas dan teraniaya.


Selamat Jalan Arjuna Tamara Jaya

Semoga engkau mulia di sisi Sang Maha


@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 5 November 2025.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

SELAMAT DATANG CAHAYA

 SELAMAT DATANG CAHAYA Selamat datang, wahai jiwa-jiwa Pencari, Telah tiba langkah kakimu di Madrasah yang membuka asa. Tahun ajaran baru terbentang bagai lautan hikmah, setiap langkahmu adalah jejak menuju cahaya. Tinggalkan lelah masa lalu di balik gerbang, buka lembaran suci dengan niat yang terang. Ilmu baru menantimu dalam baris ayat dan kata,  akhlak mulia menuntunmu di setiap langkah nyata. Jangan engkau gentar menghadapi tantangan baru, karena peluhmu hari ini adalah mahkota esok hari Jangan malu belajar dari salah dan lupa, karena setiap kesalahan adalah guru utama. Madrasah bukan sekadar bangunan berdinding, ia adalah taman ilmu, ladang akhlak yang subur, di sanalah kau menabur mimpi-mimpi luhur, dan memanen iman yang mengakar subur. Bangkitlah, pelajar Madrasah… Hadapi tahun Ajaran baru dengan semangat membara, gapailah ilmu,  Dan perindah dirimu dengan adab mulia, dan  karena engkau adalah penerus cahaya umat dan bangsa.  @ Ma'ruf Abu Said Husein, Si...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.