Langsung ke konten utama

MEMBACA JEJAK-JEJAK TUHAN

 MEMBACA JEJAK-JEJAK TUHAN


Di antara hela napas di ujung malam,

ketika cahaya masih berjuang mencari makna,

aku menunduk diam pada sunyi,

dan menemukan jejak-jejak Tuhan

tersembunyi.


Ia ada di balik setiap fenomena,

Ia pun tersembunyi di dalam firman suci-Nya dalam setiap jalinan kata.

Ia adalah getar halus

pada daun yang memilih jatuh perlahan,

Pada keagungan asmaNya yang bersemayam dalam istana jiwa,

sebagai pelita Penuntun jalan kembali ke haribaan Sang Maha. 


Jejak-jejak Keagungan-Nya hadir dalam bisikan tanpa suara,

melintasi gurun resah dalam dada—

yang mengajarkan bahwa setiap peristiwa 

adalah pintu menuju pemahaman tentang keagungan Nya,

dan setiap sedih maupun gembira 

adalah jendela kecil menuju cahaya.


Dalam diam,

Aku terus berjalan menyusuri lorong-lorong malam yang sunyi,

menyusuri jejak yang tak memaksa,

jejak yang mengajakku mengingat

bahwa hidup bukan sekadar datang dan pergi,

melainkan perjalanan sunyi untuk menemukan siapa yang selalu menemani kita

meski tak pernah terlihat oleh mata


Dan ketika malam menutup tirai hari,

aku sadar—

jejak-jejak Tuhan tak pernah jauh.

Ia ada di denyut syukur yang kupeluk,

dan di ruang hati yang  percaya bahwa segala yang terjadi adalah cara-Nya menuntun setiap jiwa,

Untuk dapat kembali pulang dalam tenang dan bahagia.


@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 1 Desember 2025, 02.08 dini hari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

SELAMAT DATANG CAHAYA

 SELAMAT DATANG CAHAYA Selamat datang, wahai jiwa-jiwa Pencari, Telah tiba langkah kakimu di Madrasah yang membuka asa. Tahun ajaran baru terbentang bagai lautan hikmah, setiap langkahmu adalah jejak menuju cahaya. Tinggalkan lelah masa lalu di balik gerbang, buka lembaran suci dengan niat yang terang. Ilmu baru menantimu dalam baris ayat dan kata,  akhlak mulia menuntunmu di setiap langkah nyata. Jangan engkau gentar menghadapi tantangan baru, karena peluhmu hari ini adalah mahkota esok hari Jangan malu belajar dari salah dan lupa, karena setiap kesalahan adalah guru utama. Madrasah bukan sekadar bangunan berdinding, ia adalah taman ilmu, ladang akhlak yang subur, di sanalah kau menabur mimpi-mimpi luhur, dan memanen iman yang mengakar subur. Bangkitlah, pelajar Madrasah… Hadapi tahun Ajaran baru dengan semangat membara, gapailah ilmu,  Dan perindah dirimu dengan adab mulia, dan  karena engkau adalah penerus cahaya umat dan bangsa.  @ Ma'ruf Abu Said Husein, Si...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.