MEMBACA JEJAK-JEJAK TUHAN
Di antara hela napas di ujung malam,
ketika cahaya masih berjuang mencari makna,
aku menunduk diam pada sunyi,
dan menemukan jejak-jejak Tuhan
tersembunyi.
Ia ada di balik setiap fenomena,
Ia pun tersembunyi di dalam firman suci-Nya dalam setiap jalinan kata.
Ia adalah getar halus
pada daun yang memilih jatuh perlahan,
Pada keagungan asmaNya yang bersemayam dalam istana jiwa,
sebagai pelita Penuntun jalan kembali ke haribaan Sang Maha.
Jejak-jejak Keagungan-Nya hadir dalam bisikan tanpa suara,
melintasi gurun resah dalam dada—
yang mengajarkan bahwa setiap peristiwa
adalah pintu menuju pemahaman tentang keagungan Nya,
dan setiap sedih maupun gembira
adalah jendela kecil menuju cahaya.
Dalam diam,
Aku terus berjalan menyusuri lorong-lorong malam yang sunyi,
menyusuri jejak yang tak memaksa,
jejak yang mengajakku mengingat
bahwa hidup bukan sekadar datang dan pergi,
melainkan perjalanan sunyi untuk menemukan siapa yang selalu menemani kita
meski tak pernah terlihat oleh mata
Dan ketika malam menutup tirai hari,
aku sadar—
jejak-jejak Tuhan tak pernah jauh.
Ia ada di denyut syukur yang kupeluk,
dan di ruang hati yang percaya bahwa segala yang terjadi adalah cara-Nya menuntun setiap jiwa,
Untuk dapat kembali pulang dalam tenang dan bahagia.
@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 1 Desember 2025, 02.08 dini hari.
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform