IRONI HUKUM KITA
(Sebuah refleksi vonis hukuman untuk Ira Puspa Dewi)
Di negeri yang suka menuduh bayang-bayang,
kebenaran sering datang terlambat—
kadang diseret, kadang dipaksa diam
di pojok ruangan yang lampunya sengaja diredupkan.
Ira Puspadewi, namamu kini melayang-layang
di antara bisik-bisik yang tak pernah tuntas,
sementara tangan hukum
sibuk menudingkan jari, tapi lupa menggenggam bukti.
Begitu murah tuduhan hukum di Republik kita, laksana barang bekas "pasar loak" dipinggiran kota.
Namun, begitu mahal harga keadilan.
Seolah-olah kecurigaan
lebih suci daripada fakta.
Maka, dalam hati yang lelah, kita pun bertanya ?
jika hukum lahir dari prasangka,
lalu siapa sebenarnya yang layak dihukum ?
Orang jujur, atau koruptor perusak negara?
Di balik senyum sindiran yang getir,
kita belajar satu hal yang menyesakkan dada:
bahwa sering kali tersaji,
yang dihukum bukan kesalahan—
tapi keberanian seseorang untuk tetap jujur
di tengah panggung yang ingin ia tunduk.
Dan kita hanya bisa berdoa,
semoga kebenaran masih punya kaki
untuk berjalan,
walau pelan,
menuju pintu-pintu
yang sengaja ditutup oleh kekuasaan.
Entah atas nama kebodohan,
atas nama kepentingan,
atau atas nama lain dalam ketidak jelasan.
@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 24 November 2025.
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform