AKAL DAN DOGMA
Masih Aku saksikan mimbar-mimbar khurafat banyak dipuja.
Tempat tahayul mengusir nalar ummat beragama
Dengan kesalehan fiksi, di luar logika
yang terbungkus "kesucian yang dipaksakan".
Ada hati yang bersandar penuh pasrah,
mengira takdir adalah rantai
yang membelenggu langkah.
Ia berhenti dan enggan untuk bertanya,
karena takut dianggap kurangnya iman di dada.
Maka, Pelan-pelan, cahaya nalar menjadi redup,
seperti lentera yang kehabisan minyak—
bukan karena tak mampu menyala,
tapi karena sengaja dibiarkan padam,
Oleh dan atas nama kepatuhan yang salah jalan.
Di sanalah kejumudan tumbuh melebar,
Dan, akal pun semakin jauh dari mimbar keilmuan,
budaya kehilangan detak, tak lagi bergetar,
Maka manusia pun kembali menjadi bayang dirinya sendiri,
takut untuk bergerak, Dan takut untuk berubah.
Padahal, dalam Kitab tertulis nyata,
Bahwa Tuhan kita memanggil dengan lembut:
“Lihatlah, renungkanlah, pahamilah.”
Namun, suara itu tenggelam
oleh gemuruh dogma tanpa jiwa.
Dari mereka yang mengaku ada darah suci di tubuhnya
Dan kita pun menjadi lupa—
bahwa berfikir adalah salah satu bentuk syukur
yang paling indah, lagi nyata.
@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 20 November 2025. .
Komentar
Posting Komentar
http://docs.google.com/form/d/e/1FlpQLSccIIPZXwEvXGNfeQuue-SSiD5c0_eMs2LkpRjZpz22WpEG2w/viewform