Langsung ke konten utama

SUARA YANG TERPINGGIRKAN

 *SUARA YANG TERPINGGIRKAN*

+Sebuah refleksi demonstrasi Guru Madrasah swasta Indonesia)

Di bawah langit Jakarta yang gerah,

ribuan langkah puluhan ribu guru Madrasah swasta menyatu dalam doa dan luka.

Mereka hadir membawa papan harapan,

bukan batu, bukan pula  amarah, dan represif yang diluapkan—

Mereka hanya membawa lembar keyakinan bahwa hak dan kewajiban semestinya adil bagi semua.


Sejak proklamasi dikumandangkan,

Sebagian besar mereka berdiri di ruang-ruang sempit

mengajar anak bangsa dengan gaji sebulan yang tak cukup untuk makan dalam sepekan 


Sedih rasanya-

dengan senyum yang menutupi lapar,

dan dengan ikhlas yang mereka jaga, 

Ternyata dijadikan hujjah penguasa

untuk menunda keadilan.


Tuan-tuan pemangku kebijakan,

Melalui mimbar Maya aku katakan bahwa,

Mereka bukanlah pengemis kebijakan,

mereka pewaris cita-cita luhur kemerdekaan.

Namun negara seperti ayah yang lupa,

bahwa di sudut madrasah yang reyot itu, 

mereka tetap ikhlas menyuapi anak-anak bangsa

dengan huruf, doa, dan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan ketuhanan,

Serta nasionalisme Indonesia yang tak berhenti digempur oleh zaman.


Maaf Tuan....

Di mimbar Maya terpaksa aku katakan bahwa,

Regulasi terus menari di meja kekuasaan,

menyebut kata pemerataan dengan membuang rasa keadilan 

Dan ketika suara mereka menggema di jalan, 

di halaman Gedung Dewan,

Dan di depan istana kekuasaan 

jawabannya masih sama: akan ditampung, akan dikaji.

Dan biarlah dapur guru Madrasah swasta tetap sunyi.


Wahai negeri yang kami cintai,

jangan terus menutup mata pada pelita yang redup.

Karena dari tangan mereka yang ringkih itu,

lahir anak-anak yang kelak menjaga negara,

Merawat nasionalisme Indonesia kita

yang mungkin tak mengerti, bahwa gurunya

adalah pahlawan yang hidup dalam ketidakadilan 


# Ma'ruf Abu Said Husein, Simo, 31 Oktober 2925

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

SELAMAT DATANG CAHAYA

 SELAMAT DATANG CAHAYA Selamat datang, wahai jiwa-jiwa Pencari, Telah tiba langkah kakimu di Madrasah yang membuka asa. Tahun ajaran baru terbentang bagai lautan hikmah, setiap langkahmu adalah jejak menuju cahaya. Tinggalkan lelah masa lalu di balik gerbang, buka lembaran suci dengan niat yang terang. Ilmu baru menantimu dalam baris ayat dan kata,  akhlak mulia menuntunmu di setiap langkah nyata. Jangan engkau gentar menghadapi tantangan baru, karena peluhmu hari ini adalah mahkota esok hari Jangan malu belajar dari salah dan lupa, karena setiap kesalahan adalah guru utama. Madrasah bukan sekadar bangunan berdinding, ia adalah taman ilmu, ladang akhlak yang subur, di sanalah kau menabur mimpi-mimpi luhur, dan memanen iman yang mengakar subur. Bangkitlah, pelajar Madrasah… Hadapi tahun Ajaran baru dengan semangat membara, gapailah ilmu,  Dan perindah dirimu dengan adab mulia, dan  karena engkau adalah penerus cahaya umat dan bangsa.  @ Ma'ruf Abu Said Husein, Si...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.