Langsung ke konten utama

PAHLAWAN DARI LUWU

Di tanah Luwu, angin membawa kabar lirih,
tentang dua jiwa yang tak menunduk di hadapan kenyataan getir. Abdul Muis dan Rasnal melawan ketertindasan. Mereka membela saudara-saudaranya yang tertindas oleh administrasi tanpa nurani. Sepuluh bulan mengabdi tanpa gaji. Namun, sayang justeru berujung dipenjara dalam jeruji

Mereka berdua bukan pencuri, bukan pengkhianat negeri, mereka hanya menggenggam nurani—dan bertanya: “Mengapa saudaraku yang berjuang untuk bangsa tak diberi upahnya oleh negara ?”

Apakah bertanya kini dosa ?
Apakah membela kebenaran kini kejahatan?
Negara diam, hukum menutup mata,
sementara keadilan bersembunyi di balik meja birokrasi
yang dingin tanpa denyut nurani.

Sepuluh bulan pengabdian tanpa bayaran—
bukan sekadar angka, tapi luka yang panjang.
Dan dua pahlawan itu menanggungnya,
karena keberanian justeru dihukum dalam penjara,

Mereka dipenjara bukan karena salah,
tapi karena benar di waktu yang salah.
Jeruji besi bukan penjara bagi tubuh mereka,
melainkan cermin yang memantulkan wajah bangsa—
wajah yang telah lupa pada nurani dan makna pengorbanan.

Oh negeri,
sampai kapan engkau memberi gelar pahlawan pada yang berkuasa saja,
dan menyingkirkan yang berjiwa suci di tanah air kita?
Apakah sejarah kini hanya milik yang duduk di kekuasaan ?,
sementara yang berdiri di tepi keadilan disebut pembangkang?

Dua pahlawan dari Luwu tidak butuh gelar,
karena nama mereka telah tertulis
di dada rakyat yang masih percaya pada kebenaran, Pada nurani dan keadilan 
Mereka mungkin terpenjara,
tapi jiwa mereka bebas—
lebih merdeka dari mereka yang menandatangani kebohongan
atas nama negara.

Dan kelak, ketika bangsa ini tersadar dari mabuk penghormatan palsu,
kita akan tahu,
bahwa pahlawan sejati bukan yang gila pujian,
tetapi yang berani berdiri,
meski sendirian—
di hadapan kekuasaan yang tuna nurani.

@ Ma'ruf Abu Said Husein, Simo 12 November 2025.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.

Kepada Siapa Lagi Aku Percaya?

  Kepada Siapa Lagi Aku Percaya? Aku berdiri di tengah bising negeri, suara janji bertebaran bagai daun kering berserakan, retak di bawah pijakan dusta yang tak pernah jemu. Lembaga negara— yang seharusnya sebagai benteng, justeru menjadi pasar kepentingan. Kursi-kursi rapat penuh genggam tangan dingin, dimana uang menggantikan nurani. Ormas keagamaan— yang seharusnya menjadi cahaya, justeru terjerat bayang-bayang yang sama. Kas suara doa bercampur bisik laba, membuat langit terasa jauh dari bumi. Aku rakyat kecil, menggenggam resah seperti bara. Jika negara tak bisa kupercaya, jika agamawan pun berpeluk dengan kuasa, dan terlibat andil menggarong negara Lantas, kepada siapa lagi aku harus percaya? Mungkin, hanya pada sunyi di dalam dada, Kepada suara hati yang belum bisa dibeli, Kepada Tuhan yang tetap suci meski para penjaga nama-Nya terjerat ambisi. Di jalan buntu ini aku belajar, bahwa kejujuran bukan milik lembaga, tetapi perjuangan diri— yang s...