Langsung ke konten utama

SELAMAT MILAD MATAHARI BANGSA

 SELAMAT MILAD MATAHARI BANGSA


Muhammadiyah....

Di seratus tiga belas tahun usia,

Engkau ingatkan kami untuk menundukkan hati—

mendengar kembali gema langkah para perintis bangsa,

yang telah menyalakan cahaya di tengah zaman yang kusam. 

Dan untuk kembali membaca zaman kita yang sedang berjalan 


Yaitu, zaman ketika fitnah politik tak berhenti mengudara

seperti debu yang menyesakkan dada kita,

Zaman ketika mafia hukum berjalan tanpa malu,

dan zaman ketika moralitas dijual murah

di pasar gelap kepentingan,


kita pun bertanya pada diri:

masihkah cahaya itu tetap menyala?

Masihkah kompas iman, dan ideologi Pancasila menuntun arah kita, 

di antara ributnya egoisme kepentingan yang tak punya malu untuk menggema


Dalam hening, kudengar samar-samar, 

mengalun lembut di balik riuh dan luka,

Tentang suara lembut yang tak pernah padam—

suara pengabdian yang lahir dari niat ikhlas untuk kemajuan, dan pengabdian untuk Tuhan,

Suara yang mengajak manusia untuk merawat sesama

tanpa pamrih, dan tanpa syarat apa-apa 


Di Milad ke-113 ini,

engkau berdiri dengan hati yang dibasuh harapan:

bahwa gerak kecil yang jujur

masih lebih berharga

dari gemuruh kepalsuan dari sejuta lidah.


Muhammadiyah..... 

engkau ingatkan kami, tentang dunia yang tergelincir,

Untuk tetap menjadi lentera.

Meski kecil,

tetaplah menerangi.

Meski terkurung dalam sunyi,

tetaplah bermakna, ditengah gempita rasa bangga dalam segala tuna 


Selamat milad Matahari Bangsa

Semoga cahayamu terus bersinar,

meski terhalang pekatnya kabut zaman,

tetaplah menyusup ke hati manusia—

Untuk menghidupkan kembali marwah keadilan dan kemanusiaan, ditengah carut marut zaman. 


@ Ma'ruf Abu Said Husein, 18 November 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner)

 SUARA CUT NYAK DIEN (Sebuah Puisi Imajiner) Dari Tanah Sumedang di Jawa Dwipa. Kudengar suara lirih nan panjang Tempat Pahlawan wanita dari Rencong di istirahatkan Dari ke-ghaiban suaranya lirih penuh makna Anak-anakku di persada Nusantara. Dan di Tanah Rencong yang dirundung bencana banjir penuh duka. Aku katakan kepada kalian semua. Dahulu aku bangkit dari sunyi sejarah, merawat luka tanah rencong bersama doa ibu-ibu kita. Aku katakan Aceh tak pernah miskin keberanian, hanya sering letih oleh gemuruh darah yang berulang. Wahai anak-anakku semua, merdeka bukan gema peluru di malam panjang, ia tumbuh dari adil yang ditegakkan, dari martabat yang terus dirawat tanpa dendam. Aku dahulu melawan dan berperang karena dirampas, bukan untuk memecah rumah sendiri yang telah berdiri, Jika engkau berteriak tentang harga diri, jaga ia dengan hikmah dan kasih, Belajar berbicara dari hati yang telah ditempa oleh kematangan jiwa dan doa, Aceh telah kucintai sepenuh jiwa bersama Indonesia kita...

SELAMAT DATANG CAHAYA

 SELAMAT DATANG CAHAYA Selamat datang, wahai jiwa-jiwa Pencari, Telah tiba langkah kakimu di Madrasah yang membuka asa. Tahun ajaran baru terbentang bagai lautan hikmah, setiap langkahmu adalah jejak menuju cahaya. Tinggalkan lelah masa lalu di balik gerbang, buka lembaran suci dengan niat yang terang. Ilmu baru menantimu dalam baris ayat dan kata,  akhlak mulia menuntunmu di setiap langkah nyata. Jangan engkau gentar menghadapi tantangan baru, karena peluhmu hari ini adalah mahkota esok hari Jangan malu belajar dari salah dan lupa, karena setiap kesalahan adalah guru utama. Madrasah bukan sekadar bangunan berdinding, ia adalah taman ilmu, ladang akhlak yang subur, di sanalah kau menabur mimpi-mimpi luhur, dan memanen iman yang mengakar subur. Bangkitlah, pelajar Madrasah… Hadapi tahun Ajaran baru dengan semangat membara, gapailah ilmu,  Dan perindah dirimu dengan adab mulia, dan  karena engkau adalah penerus cahaya umat dan bangsa.  @ Ma'ruf Abu Said Husein, Si...

BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA

 BELAJAR MENYIMPAN CAHAYA Biarlah aku belajar menyimpan cahaya agar tak silau yang membutakan, dan tak memanggil pujian yang menjatuhkan, Maka, kebaikan pun akan tumbuh paling jujur, saat amal tak disaksikan walau sepasang mata. Dan dalam sunyinya niat, amal dapat bernafas dengan tenang, seperti akar yang selalu menyembunyikan diri, Yang tak minta disebut-sebut dalam  kerjanya,  tak ingin dipuji dalam amalnya, cukup Tuhan yang tahu kemana arah tanaman akan tumbuh. aku belajar untuk sembunyikan sedekah dari tepuk tangan, Dan lantunkan untaian doa dari riuh suara, Memang...... Bukan gelap yang kupilih, melainkan teduh bagi hati yang tak rapuh, agar kebaikan selamat dari jebakan riya, dan dapat pulang dengan utuh sebagai ibadah kepada Sang Maha. @ Ma'ruf Abu Said Husein, Hotel Ataya Ngemplak, 24 Desember 2025.